Tingkatkan Peran Perempuan, PDB Bisa Bertambah US$135 Miliar pada 2025

Oleh:
Istimewa Buruh perempuan demo.

Bisnis.com, JAKARTA -- Mc Kinsey & Company memproyeksikan Indonesia dapat meningkatkan PDB senilai US$135 miliar pada 2025, jika dapat mendorong kesetaraan perempuan dalam kontribusi ekonomi.

Partner Mc Kinsey & Company Guillaume de Gantes mengatakan, Indonesia memiliki potensi ekonomi yang cukup besar dari kontribusi perempuan. 

"US$135 miliar bukan angka yang kecil yang bisa begitu saja diabaikan, ini adalah kesempatan ekonomi yang sangat besar untuk Indonesia," katanya, dalam acara peluncuran laporan yang berjudul Mendorong kesetaraan perempuan di Indonesia, di Jakarta, Rabu (1/8/2018).

Dia menjelaskan, US$43 miliar kenaikan produk domestik bruto (PDB) tersebut dapat diraih, jika Indonesia berhasil menaikkan partisipasi tenaga kerja perempuan, yang mana saat ini hanya 38% dari tenaga kerja yang terserap. "Jadi, sebenarnya Indonesia masih mempunyai banyak potensi pertumbuhan," katanya.

US$41 miliar kenaikan dapat diraih jika Indonesia dapat menerapkan fleksibelitas dalam jam kerja perempuan. "Memang untuk hal ini perlu bauran kebijakan yang lain, tetapi jika berhasil bisa dapat tambahan untuk PDB," tuturnya.

US$51 miliar kenaikan berasal dari kenaikan produktifitas dari kerja perempuan. Sayangnya, saat ini banyak perempuan Indonesia yang bekerja di sektor agrikultur, atau di bisnis kecil keluarganya. "Seharusnya mereka bisa dialihkan ke sektor yang lebih produktif sehingga peningkatan PDB itu juga bisa terealisasi," katanya.

Meski demikian, Presiden Direktur PT Mc Kinsey Indonesia Phillia Wibowo menjelaskan, ada beberapa isu yang harusnya diselesaikan Indonesia. Pertama, perbaikan infrastruktur, sehingga perempuan menjadi lebih mandiri dan dapat menghabiskan banyak waktunya untuk sesuatu yang produktif. Infrastruktur dalam hal ini termasuk, air bersih, sanitasi, efesiensi transportasi.

Kedua, penggunaan teknologi oleh perempuan yang lebih merata. Dengan demikian sebuah negara dalam menggali potensi ekonomi lebih baik. Apalagi, ketika perempuan sudah mengerti cara akses informasi digital yang baik.

"Sebenarnya, Indonesia dalam hal ini sudah sangat baik, karena Indonesia 51% dari pemilik dari usaha kecil menengah adalah perempuan, sedangkan rata-rata dunia hanya 35%, ini berkat penggunaan teknologi," katanya.

Ketiga, mendorong partisipasi perempuan lebih besar lagi dalam meniti karir hingga ke tingkat yang lebih strategis. "Ini memang susah karena sebenarnya ada hambatan dari psikologi perempuan sendiri sebagai orang harus selalu ada di rumah, tetapi sebenarnya ini bisa dan perempuan butuh mentor untuk itu," katanya.

Keempat, mendorong perumusan dasar hukum yang dapat mellindungi hak perempuan dalam meniti karirnya, karena terkadang mereka memerlukan waktu luang untuk dapat menjalankan tigasnya di keluarga. "Badan Legislasi harus dapat memperluas hukum terkait , kerja paruh waktu, cuti melahirkan, cuti untuk mengasuh anak, dan fasilitas tempat kerja yang fleksibel," tuturnya.

Dia mengatakan, hal tersebut bukan hanya tugas pemerintah, Phillia berharap seluruh pemangku kepentigan dapat memberi perhatian dan berkontribusi lebih aktif dalam kesetaraan perempuan.

Editor: Wike Dita Herlinda

Berita Lainnya: