PERSPEKTIF: Jeli Berinvestasi Saat Krisis Menjalar ke Emerging Market

Oleh:
Bisnis/Tri Utomo Transaksi asing di pasar obligasi dan saham sepanjang tahun 2018.

Bisnis.com, JAKARTA – Belum selesai kita membicarakan kenaikan bunga The Fed dan perang dagang AS-China, risiko pasar global kembali muncul dari krisis keuangan yang melanda Argentina yang berlanjut ke Turki, Afrika Selatan, dan Brasil.

Krisis keuangan ini terlihat dari pelemahan mata uang di beberapa negara emerging market (EM) yang sangat signifikan. Mata uang peso Argentina merosot tajam 100,9% secara year to date (ytd), lira Turki melemah 73,3%, rand Afrika Selatan melemah 23,8% dan real Brasil melemah 22,7%.

Mata uang rupiah pun turut mengalami pelemahan sebesar 9,8% hingga menyentuh Rp14.938 per dolar Amerika Serikat. Dampak krisis keuangan yang terjadi di satu negara ternyata mulai menular (contagion effect) ke emerging market lainnya yang dianggap rentan pada pelemahan mata uang.

Sejalan dengan peningkatan risiko pelemahan mata uang, pelaku pasar berusaha memindahkan investasinya ke kelas aset yang lebih aman (safe heaven assets). Ketidakpastian mendorong capital outflow dari EM yang dianggap berisiko tinggi, berpindah ke kelas aset bermata uang dolar atau hard currency lainnya (yen) yang dianggap relatif lebih aman.

Kekhawatiran pasar yang berlebihan, mendorong pelaku pasar ikut-ikutan menjual porsi asetnya secara masif. Akhirnya, magnitude penjualan aset menjadi sangat signifikan. Terlihat penurunan nilai investasi yang tercermin pada penurunan Bloomberg Emerging Markets Capital Flow Proxy Index sepanjang tahun berjalan 2018.

Kekhawatiran pasar ini akhirnya menular dan memberikan contagion effect pada Indonesia. Tidak peduli seberapa kuatnya fundamental Indonesia, krisis kepercayaan (confidence crisis) lebih mendominasi benak pelaku pasar. Pelaku pasar global menganggap semua negara EM sama berisikonya. Tidak peduli bagaimana risiko relatifnya dan potensi return di sebuah negara.

Pasar modal Indonesia langsung mengalami penurunan tajam. Secara ytd hingga 6 September 2018, IHSG mengalami penurunan tajam sebesar 9,12% (dalam rupiah). Namun, apabila dihitung dengan pelemahan rupiah, maka IHSG sudah turun 17,2% dalam dolar AS.

Adapun, investasi di pasar obligasi, yang ditunjukkan dengan Abtrindo Bond Index (indeks Bloomberg yang terdiri atas portofolio obligasi pemerintah dalam rupiah), juga mengalami penurunan 7,34% dalam rupiah atau -15,6% dalam mata uang dolar AS secara ytd.

Apabila diilustrasikan, nilai investasi Investor di pasar saham yang awalnya sebesar Rp 1 miliar, menurun ke Rp908,8 juta dalam waktu sekejap. Kerugian Rp91,2 juta menjadi hal yang tidak dapat dihindari investor.

Lalu, bagaimana menyikapi kerugian ini? Apakah kita langsung kapok untuk berinvestasi pada pasar saham dan obligasi di Indonesia. Tentu tidak, karena berinvestasi di pasar modal memang memiliki risiko tinggi tetapi potensi keuntungannya juga tinggi “high risk, high return.”

Apalagi ketika kita menambahkan (top up) nilai investasi ketika pasar sedang mengalami koreksi signifikan seperti saat ini. Kita dapat mengakumulasi saham dan obligasi pada harga yang sangat menarik, istilah kerennya “buying opportunity at the bargain price”.

Data historis menunjukkan bahwa dengan menambah investasi saat kondisi pasar sedang koreksi, maka keuntungan yang diperoleh bisa mencapai di atas 30% dan bahkan 100%. Artinya, penambahan investasi Rp1 miliar dapat menghasilkan Rp1,3 miliar atau bahkan Rp2 miliar seiring dengan berbaliknya arah pergerakan pasar.

Mengingat momentum koreksi pasar tidak terjadi setiap saat, maka sebagian pelaku pasar sudah menanti-nantikan momentum ini untuk menambah porsi investasinya. Tinggal pertanyaannya, apakah risiko pasar benar-benar sudah mereda atau malahan nanti uang yang diinvestasikan masih mengalami kerugian dan berapa lama waktu investasinya.

Tentunya tidak mudah untuk menjawab pertanyaan diatas.

Namun yang jelas kita melihat ada sebuah peluang untuk membeli atau menambah investasi pada harga yang rendah. Lalu bagaimana ramuan strategi pengelolaan investasi yang tepat pada kondisi pasar saat ini.

Koreksi pasar ini karena lebih didorong risiko pasar global, bukan struktural dari sisi fundamental Indonesia, maka dinilai bersifat temporary. Apalagi Indonesia sudah masuk dalam rating Investment Grade BBB- (S&P) dan BBB (The Fitch), yang menunjukkan kredibilitas dalam pengelolaan anggaran, utang dan perbaikan stabilitas makro ekonomi.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk menjaga stabilitas makro serta adanya potensi awal pembalikan pasar ke depannya, maka momentum koreksi pasar ini dapat memberikan peluang bagi kita untuk kembali mengkaji ulang alokasi aset investasi. Lalu, apa saja key driver awal pembalikan pasar yang sekiranya perlu kita amati?

Isu perang dagang dan gejolak pasar keuangan ini rupanya dikhawatirkan dapat mempengaruhi perlambatan pemulihan ekonomi dunia.

Hal ini dapat mendorong The Fed dan berbagai lembaga keuangan dunia lainnya untuk menurunkan estimasi pertumbuhan ekonomi dunia. Selain itu key driver pembalikan arah pasar modal juga dapat dilihat menjelang Federal Open Market Committee (FOMC) meeting yang berlangsung pada 26 September 2018 ini, kita dapat mengamati apakah terdapat perubahan tone.

Apabila The Fed memberikan sinyal untuk mengurangi normalisasi kebijakan moneter (penundaan kenaikan bunga) pada 2019, maka hal ini dapat memperlambat penguatan dolar AS. Dengan kata lain, mata uang EM dapat kembali menguat (rebound). Apalagi dengan potensi kenaikan bunga The Fed pada September 2019 ini yang relatif sudah ter-price in.

Dengan ekspektasi berbaliknya arah pergerakan mata uang rupiah, setelah mengalami depresiasi tajam, maka capital inflow diestimasi kembali ke pasar obligasi. Apalagi bila dilihat valuasi yield yang sangat menarik dan secara seasonality menjelang kuartal IV suplai baru SBN relatif terbatas.

Adapun, pada reksa dana saham, penambahan porsi investasi lebih bersifat selektif khususnya pada saham-saham berfundamental baik yang memiliki sustainability growth. Sektor yang menjadi proxy consumer domestic (kebutuhan dasar, rokok, otomotif), telekomunikasi, dan big caps bank tetap mendominasi dalam core portfolio.

Adapun, alokasi pada sektor komoditas dan eksposur ekspor tetap dipertahankan, tetapi lebih berhati-hati mengingat issue trade war dapat mempengaruhi outlook harga komoditas ke depannya.

Mengapa penambahan investasi lebih bersifat selektif, karena tantangan pemulihan ekonomi masih cukup tinggi, di mana corporate masih menghadapi penurunan daya beli masyarakat, kenaikan suku bunga, dampak perubahan regulasi, dan imbas dari pelemahan mata uang pada harga bahan baku pendukung produksi.

Adapun, di sisi lain, kapasitas produksi yang berlebih, masih mendorong peningkatan persaingan di beberapa segmen produk. Dengan demikian, penambahan alokasi aset pada reksa dana obligasi berdurasi medium ke panjang dan reksa dana saham dapat dilakukan secara bertahap dan tetap memperhatikan target level valuasi.

 *) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (10/9/2018)

Editor: Sutarno

Berita Lainnya: