Tekanan Eksternal masih Bayangi Pasar, Rupiah Bergejolak hingga Akhir Bulan

Oleh:
Bisnis/Radityo Eko Saham penggerak IHSG 2018.

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja pasar saham dan obligasi sepanjang pekan ini yang masih dibayangi sejumlah tekanan, terutama dari eksternal, membuat peluang penguatan relatif terbatas.

Proyeksi saham dan obligasi pekan ini menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (10/9/2018). Berikut ulasannya.

Akhir pekan lalu, Bloomberg mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 75,730 poin atau 1,30% ke level 5.851,465. Sepanjang periode berjalan 2018, indeks terkoreksi 7,93%.

Sementara itu, imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun ditutup di level 8,42%, meningkat 26 bps dibandingkan dengan Jumat pekan sebelumnya.

Sejumlah analis memperkirakan pergerakan IHSG pada awal pekan ini mencoba menguat terbatas.

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe meyakini, tekanan terhadap pasar saham pada pekan ini mereda.

Secara teknikal, indeks akan bertahan pada level 5.800 dan menuju ke area 6.000. Secara historis, tren IHSG periode September cenderung positif hingga pengujung tahun. Apalagi, menurut Kiswoyo, sentimen dari global perlahan telah meninggalkan pengaruhnya.

Kiswoyo menilai, tekanan terhadap indeks pada pekan lalu hanya disebabkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pengaruh faktor global lain, seperti perang dagang dan kebijakan bank sentral AS, tak lagi sekuat bulan-bulan sebelumnya.

“Kalau rupiah bisa berhasil menguat lagi, indeks juga akan menguat. Faktornya hanya dua yang bisa menguatkan indeks, yakni rupiah dan Dow Jones. Kalau Dow Jones, menguat IHSG akan mengikuti,” ujarnya kepada Bisnis Minggu (9/9/2018).

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menambahkan, ada faktor lain yang akan memengaruhi pergerakan indeks pada pekan ini, termasuk data neraca perdagangan yang akan dirilis.

Namun, upaya pemerintah menekan defisit neraca dagang dengan menaikkan tarif pajak penghasilan (PPh) impor dinilai dapat meredam gejolak pasar dalam jangka pendek.

“Indeks pekan ini akan menguat secara bertahap karena ditopang oleh sentimen domestik meskipun tertekan faktor global.”

Faktor eksternal lain yang membayangi laju IHSG adalah rencana The Fed yang akan kembali menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat dan proyeksi penurunan angka pengangguran di AS.

Di pasar obligasi, tekanan sepanjang pekan lalu diproyeksi belum reda, menyusul akan dirilisnya sejumlah data global.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa pekan ini merupakan masa yang cukup krusial, tetapi peluang peningkatan harga SUN cukup terbuka.

Beberapa data ekonomi yang harus ditunggu adalah US Federal Reserve Release Beige Book pada Kamis (13/9) yang diikuti oleh data inflasi Amerika dan tingkat pengangguran.

Bank Sentral Eropa juga akan mengumumkan tingkat suku bunga yang diperkirakan masih tetap. Adapun, China akan merilis data inflasi dan produksi industri.

Menurut Nico, besar kemungkinan pekan ini menjadi titik balik bagi harga obligasi setelah selama sepekan lalu terkapar. Namun, potensi penguatan tidak akan terlalu banyak. Yield SUN 10 tahun diperkirakan bergerak di rentang 8,35%—8,60%.

“Kenaikan pekan ini mungkin saja sebagai syarat untuk terjadinya penurunan lebih lanjut pada 2 pekan berikutnya karena ada tekanan kenaikan tingkat suku bunga.”

Dalam kondisi seperti saat ini, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia Anup Kumar merekomendasikan pembelian seri SUN 20 tahun sebanyak 25% dari alokasi investasi dan menambah lagi 25% pada posisi yield 9,05%.

Anup menilai, harga SUN 20 tahun kini sudah sangat murah akibat aksi jual investor yang besar dan pada yield yang tinggi karena kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan Jumat (7/9), rupiah tercatat menguat 73 poin atau 0,49% menjadi Rp14.820 per dolar AS. Selama tahun berjalan, rupiah tercatat melemah 8,5%.

Kepala Bidang Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures memproyeksikan dalam sepekan ke depan, rupiah bisa bergerak di kisaran Rp14.650­—14.900 per dolar AS.

WASPADAI RUPIAH

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mewaspadai tren lanjutan pelemahan rupiah perlu diwaspadai hingga akhir September, dipicu oleh rencana kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin.

Sebelumnya bunga acuan The Fed yang naik berkebalikan dengan imbal hasil Treasury bond 10 tahun yang turun menjadi 2,88% per 6 September 2018.

“Prediksi ini sesuai dengan teori Inverted Yield Curves, di mana yield surat utang AS jangka panjang menurun sedangkan yield jangka pendek naik,” ungkap Bhima.

Artinya, dia menilai muncul ekspektasi investor dalam jangka pendek akan terjadinya market crash. Alhasil, mereka lebih memilih membeli surat utang yang bertenor jangka panjang.

Di sisi lain, yield SBN 10 tahun terus mengalami kenaikan menjadi 8,69%, berkebalikan dengan yield Treasury bond.

Yield yang naik di negara berkembang mencerminkan tingkat risiko berinvestasi semakin besar, apalagi Indonesia masuk ke dalam Fragile Five, 5 negara paling rentan terpapar krisis. Konsekuensinya, pelaku pasar akan beralih ke aset yang lebih aman, salah satunya greenback.

Sentimen cadangan devisa, sambung Bhima, juga berpengaruh terhadap perilaku pasar.

Sementara itu, aksi jual di pasar negara berkembang diperkirakan masih tetap tinggi pada pekan ini. “Bahkan ketika aset yang paling bermasalah , mungkin akan overshooting,” tulis Banco Santander, seperti dikutip Bloomberg. (Tegar Arief/Emanuel B. Caesario/M. Nurhadi Pratomo/Dwi Nicken Tari/Mutiara Nabila/Hadijah Alaydrus)

 

Editor: Sutarno

Berita Lainnya: