IHSG & Rupiah Kembali Terbebani Volatilitas Global

Oleh:
Reuters/Willy Kurniawan Karyawan berjalan melintasi layar informasi Indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/9/2018).

Bisnis.com, JAKARTA — Volatilitas faktor eksternal kembali membebani pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bersama nilai tukar rupiah.

Pada perdagangan hari ini, Senin (10/9/2018), IHSG ditutup melemah 0,35% atau 20,35 poin di level 5.831,12, setelah mulai tergelincir ke zona merah saat dibuka turun 0,27% atau 16,09 poin di posisi 5.835,38 pagi tadi.

Koreksi yang dialami IHSG sekaligus mematahkan penguatan yang berhasil dibukukan dua sesi perdagangan berturut-turut sebelumnya. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak negatif pada level 5.776,01 – 5.840,87.

Sektor finansial (-0,66%) dan infrastruktur (-0,51%) memimpin pelemahan tujuh dari sembilan sektor pada IHSG. Adapun sektor pertanian dan tambang mengakhiri pergerakannya di zona hijau sekaligus membatasi pelemahan IHSG.

Dari 601 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 164 saham menguat, 214 saham melemah, dan 223 saham stagnan.

Saham PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang turun 2,06% menjadi penekan utama terhadap koreksi IHSG , diikuti sejumlah saham emiten perbankan yaitu BBRI (-1,98%), BBCA (-0,40%), dan BMRI (-0,75%).

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis 27 berakhir melemah 0,76% atau 3,92 poin di level 511,50, setelah dibuka turun 0,50% atau 2,57 poin di posisi 512,85. Sepanjang perdagangan hari ini, indeks Bisnis 27 bergerak pada level 505,44-513,53.

Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup melemah 37 poin atau 0,25% di level Rp14.857 per dolar AS, pelemahan pertama dalam tiga sesi perdagangan.

“Volatilitas akan bertahan untuk beberapa waktu. Kami masih melihat beragam sinyal di pasar, sehingga membuat sulit untuk menilai apakah yang terburuk sudah berakhir atau belum,” ujar Andy Ferdinand, kepala riset di PT Samuel Sekuritas Indonesia, seperti dikutip dari Bloomberg.

“Kekhawatiran tentang meluasnya pergolakan pada emerging market, dikombinasikan dengan kegelisahan yang diakibatkan perang dagang, dapat terus menghantui para investor di kawasan ini.”

Dalam beberapa waktu terakhir, kekhawatiran mulai dari gejolak perdagangan hingga gejolak pasar negara berkembang telah membebani prospek pertumbuhan global. Investor-investor asing pun melepaskan aset berisiko dan beralih pada pasar negara maju.

Para pakar strategi dan pengelola dana sendiri memiliki pendapat berbeda mengenai prospek pasar Indonesia. Pekan lalu, BlackRock Inc. mengatakan berpegang pada pandangan positifnya atas saham-saham di Tanah Air, sedangkan pakar strategi di Goldman Sachs Group Inc. dan Morgan Stanley memilih bersikap hati-hati.

Seperti diberitakan, pada Jumat (7/9/2018), Presiden AS Donald Trump mengancam siap mengenakan tarif terhadap hampir semua impor China ke Amerika Serikat.

Trump juga menyatakan siap untuk mengenakan tarif terhadap barang-barang asal China senilai US$267 miliar. Nilai ini melebihi rencana yang diusulkan sebelumnya untuk pengenaan tarif terhadap impor senilai US$200 miliar dari China.

Indeks saham lainnya di Asia Tenggara bergerak variatif sore ini dengan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,43%), indeks SE Thailand (+0,04%), dan indeks PSEi Filipina (-0,03%).

Indeks Topix dan Nikkei 225 masing-masing mampu berakhir rebound 0,20% dan 0,30%. Adapun indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing turun 1,21% dan 1,45%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong terus melemah.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

HMSP

-2,06

BBRI

-1,98

BBCA

-0,40

BMRI

-0,75

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

UNVR

+2,36

TPIA

+2,62

INCO

+4,04

SRTG

+6,98

Sumber: Bloomberg

Editor: Fajar Sidik

Berita Lainnya: