Lima Sektor Industri ini Jadi Andalan untuk Perkuat Nilai Tukar Rupiah

Oleh:
JIBI/Nurul Hidayat Pekerja meyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018).

Bisnis.com, JAKARTA – Lima sektor industri diprioritaskan pemerintah untuk terus didongkrak jumlah ekspornya. Tujuannya untuk memperkuat posisi Rupiah dan mengimplementasikan peta jalan Making Indonesia 4.0.

Kementrian Perindustrian (Kemenperin) memandang penguatan Rupiah tidak hanya dihasilkan melalui pengaturan impor, tapi juga peningkatan ekspor. Untuk menggenjot ekspor, pemerintah memprioritaskan lima sektor, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, elektronik, serta kimia.

Menurut Haris Munandar, Sekjen Kementrian Perindustrian, sektor berbasis sumber daya alam (SDA) memiliki potensi besar untuk ditingkatkan nilai ekspornya. Tingginya tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada industri berbasis SDA harus dimaksimalkan.

“Utamanya lima sektor itu, tapi kan sektor yang lain juga kita dorong, terutama yang berbasis sumber daya alam. Itu kan kebanyakan di manufaktur,” tutur Haris kepada Bisnis, Senin (10/9/2018).

Usaha meningkatkan nilai ekspor pun dibarengi dengan pemberian insentif suku bunga kredit ekspor. Haris menjelaskan Kemenperin menargetkan penurunan suku bunga kredit ekspor hingga setengahnya

Pemberian insentif suku bunga kredit ekspor itu pun dilakukan agar pelaku industri mengajukan kredit di bank dalam negeri. Sejauh ini suku bunga kredit ekspor bank-bank di Indonesia relatif lebih tinggi dibanding bank luar.

“Kemarin kan masih sekitar 6 persenan. Ini kita dorong mungkin bisa 2,5% atau 3%. Jadi kan sangat membantu. Akhirnya sama dengan luar negeri,” ucap Haris di kantor Kemenperin.

Peningkatan nilai ekspor itu pun menjadi langkah pemerintah menyongsong revolusi industri keempat. Melalui Making Indonesia 4.0, industri dituntut untuk dapat bersaing di era ekonomi digital.

Editor: Sutarno

Berita Lainnya: