CIMB Niaga Dapat Restu Terbitkan Surat Utang Rp4 Triliun

Oleh:
JIBI/Dwi Prasetya Nasabah bertransaksi melalui mesin anjungan tunai mandiri Bank CIMB Niaga di Jakarta, Senin (7/8).

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank CIMB Niaga Tbk. mengatakan telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan untuk menerbitkan surat utang berkelanjutan dengan total nilai Rp4 triliun. Tahun ini, perseroan akan merilis surat utang dalam bentuk sukuk dan obligasi. 

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djadjanegara mengatakan bahwa melalui sukuk perseoran menargetkan meraup Rp500 miliar. “Itu nanti November juga bersamaan dengan bond [obligasi],” katanya di Graha Niaga, Jakarta, Rabu (12/9).

Dia mengutarakan, sukuk tersebut akan digunakan untuk mempertebal likuiditas. Selain itu, sambungnya, tujuan merilis sukuk itu untuk mengenalkan unit usaha syariah kepada pasar modal. 

“Sebenarnya kalau dari nilai sebesar Rp500 miliar itu tidak terlalu terasa. Tujuan lain itu untuk membawa unit usaha syariah ke capital market [pasar modal],” tambahnya. 

Untuk obligasi, ungkap Pandji, jumlahnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sukuk. Sebelumnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), CIMB Niaga bulan ini menerbitkan obligasi berkelanjutan II tahap IV dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp1,25 triliun. Masa penawaran akan dilakukan pada 14-17 September.

Obligasi tersebut terdiri dari tiga seri. Seri A antara lain ditawarkan sebanyak Rp746 miliar dengan tingkat bunga tetap 7,5% per tahun, berjangka waktu 370 hari kalender sejak tanggal emisi, yang jatuh tempo pada 30 September 2019.

Obligasi seri B yang ditawarkan senilai Rp137 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,8% berjangka waktu 3 tahun sejak tanggal emisi, yang tempo pada tanggal 20 September 2021.

Selanjutnya obligasi C dengan jumlah Rp117 miliar dengan tingkat bunga tetap sebesar 8,8%. Surat utang ini berjangka waktu 5 tahun sejak tanggal emisi, yang jatuh tempo pada 20 September 2023.

Sementara itu, sisa dari jumlah pokok yang ditawarkan sebanyak-banyaknya Rp250 miliar akan dijamin secara kesanggupan terbaik. Apabila jumlah dalam penjaminan kesanggupan terbaik itu tidak terjual sebagian atau seluruhnya, maka sisa yang tidak terjual tidak menjadi kewajiban perseroan untuk menerbitkan obligasi itu.

Adapun bunga obligasi dibayarkan setiap 3 bulan, sesuai dengan tanggal pembayaran bunga obligasi. Pembayaran bunga obligasi pertama akan dilakukan pada tanggal 20 Desember 2018. Pembayaran pokok obligasi dilakukan secara penuh pada saat jatuh tempo.

Dana hasil penawaran umum obligasi ini setelah dikurangi biaya emisi, seluruhnya akan dipergunakan untuk pembiayaan ekspansi kredit.

Editor: Hendri Tri Widi Asworo

Berita Lainnya: