Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Seng Siap Menanjak, Ini Penyebabnya!

Harga seng diperkirakan semakin menguat dalam waktu dekat akibat melonjaknya impor China sebagai konsumen terbesar di dunia ke level 13 bulan tertinggi.

Bisnis.com, JAKARTA - Harga seng diperkirakan semakin menguat dalam waktu dekat akibat melonjaknya impor China sebagai konsumen terbesar di dunia ke level 13 bulan tertinggi.

Pada penutupan perdagangan Senin (22/5/2017), harga seng di bursa London Metal Exchange (LME) naik 17,50 poin atau 0,67% menuju US$2.633,50 per ton. Sepanjang tahun berjalan (year ton date/ytd), harga sudah meningkat 2,23%.

Tahun lalu, bahan pelapis anti karat ini melonjak 57,84% dan ditutup di level US$2.576 per ton pada 30 Desember 2016.

Analis SMM Information & Technology Co.Sun Hanbing menyampaikan harga seng akan mengalami tren menguat dalam waktu dekat akibat melonjaknya impor China. Berdasarkan data Bea Cukai setempat pada Selasa (23/5/2017), pengapalan salah satu logam bahan baku baja ini mencapai 47.461 ton pada April 2017, atau level terbesar sejak Maret 2016.

Pada Maret 2017, volume impor hanya sejumlah 25.630 ton, dan April 2016 sebesar 39.106 ton. Kendati mengalami peningkatan signifikan, total pengapalan masuk logam seng pada empat bulan pertama 2017 menurun 52% year on year (yoy).

Selain lonjakan impor seng, harga seng mendapat sentimen positif dari menurunnya persediaan di Shanghai Future Exchange (SHFE). Para produsen di China juga masih menutup sejumlah pengoperasian tambang.

"Konsumen telah memesan lebih banyak karena volume yang terbatas di dalam negeri," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (23/5/2017).

Analis Natixis Bernard Dahdah dalam risetnya, Senin (22/5/2017) menuliskan harga seng sempat menyentuh level tertinggi US$2.935 per ton pada pertengahan Februari 2017 akibat mengetatnya pasokan dari sejumlah tambang besar. Namun, harga kemudian berangsur melorot ke area US$2.600 per ton karena pulihnya produksi.

Perusahaan di Peru kembali memacu penambangan setelah banjir besar yang sempat melanda pada awal tahun ini. China juga menggenjot suplai setelah perayaan Tahun Baru Imlek.

Sementara dari sisi permintaan, pasar properti di Negeri Panda mengalami perlambatan, sehingga membebani proyeksi konsumsi logam seng. Pertumbuhan produksi baja juga mengalami stagnasi.

Namun demikian, sambung Dahdah, kendala fundamental akan mendorong para produsen mempertimbangkan upaya mengintervensi pasar. Oleh karena itu, rerata harga seng pada 2017 masih berpeluang tumbuh 22% yoy menuju US$2.560 per ton.

"Kami masih memproyeksi bullish terhadap harga seng. Pasar terlihat berjalan normal sampai akhir 2020 ini," paparnya.

Menurut riset Natixis, rerata harga tertinggi seng pada 2017 ialah US$2.700 per ton. Sementara rerata harga terendah senilai US$2.400 per ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Editor : Riendy Astria

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper