Rabu, 26 Februari 2014, 19:06 WIB

Buntut Sanksi USTR, India Blokir Investigasi Perdagangan AS

Amanda Kusumawardhani

Perdana Menteri India Manmohan Singh/

Bisnis.com, NEW DELHI—India memblokir investigasi Amerika Serikat terkait dengan regulasi perdagangan dan hak paten serta mempersiapkan diri untuk menghadapi AS di World Trade Organization (WTO).

Langkah India tersebut berpotensi meningkatkan ketegangan yang sudah ada di antara kedua negara tersebut.

New Delhi mengecam keras sanksi yang dijatuhkan oleh US Trade Representative (USTR) atas perlindungan hak kekayaan intelektual, preferensi untuk produsen domestik, dan hambatan non-perdagangan.

Menjelang pemilihan umum, Perdana Menteri India Manmohan Singh tidak ingin terlihat tunduk terhadap tekanan AS. Pasalnya, hubungan kedua negara tengah meregang akibat penangkapan diplomat India di New York atas tuduhan penipuan visa.

Baru-baru ini, National Association of Manufacturers (NAM) yang mewakili sekitar 50 kelompok bisnis di AS meminta USTR menunjuk Indai sebagai prioritas negara asing pada laporan USTR tahun ini.

“Pemasukan India dalam laporan USTR mengategorikan India sebagai pelanggar terburuk atas hak kekayaan intelektual,” ungkap NAM dalam surat yang ditujukan untuk USTR, Rabu (26/2/2014).

USTR akan mengadakan audiensi publik untuk laporan tahunan pada April mendatang. Laporan itu akan menyajikan detil mengenai negara yang menyangkal perlindungan hak kekayaan intelektual atau akses pasar yang adil untuk perusahaan AS.

India merupakan pelaku perdagangan serial di Washington, meskipun begitu perusahaan-perusahaan AS terlihat tidak menyukai impor dari udang hingga pipa baja yang berpotensi mengancam pekerjaan.

Selain itu, perusahaan-perusahaan AS itu mengatakan tidak adanya akses yang adil ke pasar India dari perusahaan AS.

Bulan ini, Washington akan mengajukan kasus kedua di WTO atas persyaratan konten domestik proyek tenaga matahari India. Proyek tersebut bertujuan mengurangi kekurangan energi di India.

WTO mencatat kasus masa lalu yang melibatkan India dan AS berjumlah 14 kasus, belum termasuk kasus terbaru. Hubungan bilateral antara kedua negara tersebut mencapai US$63,7 miliar pada tahun lalu.

 

Sumber : Bloomberg

Editor : Hery Lazuardi

Ikuti berita Bisnis.com melalui smartphone Android dengan aplikasi Android Apps Bisnis.com. Download di Google Play!
Berlangganan ePaper Bisnis dan Indonesia Business Daily bisa dengan PayPal. Klik disini!

Berita Terkait »

Populer »

Pilihan Editor »