Tak Ada Investasi Semahal Nyawa

Bisnis.com,08 Jan 2024, 09:55 WIB
Penulis: Afiffah Rahmah Nurdifa

"Mereka berlarian dan melompat lewat keluar akses tangga, karena di sana tidak diklasifikasi dengan jalur evakuasi khusus untuk hal-hal yang urgent terhadap kondisi pekerja disana."

Tak ada yang menyangka, pada sehari sebelum Hari Raya Natal, kejadian itu terjadi. Di tengah pekerjaan mengelas tungku, ledakan besar yang seketika merenggut lebih dari lusinan nyawa manusia.

Ledakan itu terjadi pukul 05.30 WITA, saat para pekerja tengah memperbaiki tungku dan memasang pelat di sejumlah bagian. Tanpa aba-aba, tungku meledak dan memicu sejumlah tabung oksigen di sekitarnya meledak dan menciptakan kobaran api.

Ketua Exco Partai Buruh Morowali, Katsaing menuturkan berdasarkan kesaksian karyawan di departemen tersebut, ledakan itu langsung merenggut beberapa korban jiwa di tempat.

Sebagian pekerja lainnya berlarian, tapi nahas, akses tangga yang menjadi jalur satu-satunya untuk keluar tersendat. Sebagian pekerja lainnya memilih untuk melompat guna menghindari ledakan.

Alhasil, sebagian karyawan berhasil keluar meski mengalami luka-luka berat. Dia mengaku, fasilitas ambulans untuk mengangkut korban luka pun cukup sulit.

"Berhubung fasilitas ambulans di kawasan ini tidak memadai untuk melakukan evakuasi atau mengangkat korban-korban yang ada di klinik untuk dirujuk ke RS," imbuhnya. 

Nahas, insiden di lokasi yang digadang-gadang mendatangkan investasi jumbo untuk Indonesia dibayar mahal dengan 18 pekerja yang menjadi korban meninggal dunia.

Polisi menyampaikan korban meninggal dunia akibat ledakan tungku smelter PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel di Morowali, Sulawesi Tengah menjadi 18 orang. 

Kapolres Morowali AKBP Suprianto menyampaikan dari 18 itu, Supriyanto merincikan korban meninggal dunia, mulai dari Tenaga Kerja Asing (TKA) mencapai delapan orang, sementara Tenaga Kerja Indonesia (TKI) 10 orang.

"Untuk jumlah korban update persiang ini itu yang meninggal menjadi 18. Kan kemarin 13, dari 13 siang ada tambahan satu, sore satu, malam satu, terus tadi malam jam 12 satu, jam satu lewat 1. nah dari 18 itu yang TKA 8, yang TKI 10," kata Suprianto saat dihubungi, Rabu (26/12/2023).

Tingkat kecelakaan kerja di fasilitas peleburan nikel di Kawasan PT Indonesia Morowali Industrial Park disebut sering terjadi. Kejadiannya pun tidak cukup dihitung dengan jari.

Kesaksian itu juga diceritakan oleh Hendri, salah seorang mekanik yang bekerja di kawasan IMIP dan juga menjadi Koordinator Lingkar Belajar Buruh IMIP.

Dia menuturkan, kelalaian dalam penerapan standar operasional prosedur (SOP) sudah dilakukan dalam menentukan tugas kerja di lapangan.

Berdasarkan kesaksiannya, mayoritas pekerja yang melakukan pengelasan pada fasilitas smelter merupakan seorang mekanik. Padahal, menurutnya seorang mekanik hanya bertugas untuk melakukan perbaikan pada fasilitas mesin.

"Kalau bicara soal mekanik, yang ada di dalam IMIP, mekanik itu malah melakukan pekerjaan tentang pengelasan, itu dibuktikan dengan pekerjaan setiap hari, dibuktikan lagi dengan Simper mekanik, tapi Simper welder," ungkapnya.

Hendri menambahkan, bagian fatal yang membuat insiden ledakan tersebut terjadi salah satunya terkait jumlah jam kerja yang didapatkan oleh para karyawan.

Pada saat kejadian itu, dia menyebut para pekerja sudah dipekerjakan selama 24 jam ditambah 12 jam sebelum meledaknya tungku.

"Itu menyalahi aturan SOP maupun aturan yang berlaku di Indonesia, secara manusiawi memiliki keterbatasan," imbuhnya.

Kelalain keselamatan kerja juga dilakukan pada saat pengerjaan pengelasan dilakukan. Aturannya, tungku harus dalam keadaan mati saat pengelasan.

Namun, Hendri menuturkan, pada saat proses pengelasan pelat, tungku sudah langsung dinyalakan. Menurutnya, hal itu lumrah dilakukan perusahaan yang ada di kawasan IMIP.

"Alasannya yang pertama menargetkan produksi, kalau dia mati terus itu agak lama proses peleburan ore yang ada di dalam tungku. harus dinyalakan, itu salah satu, dan yang kedua secara spesifik kejadian di ITSS, kalau dari kami hal yang paling penting, perbaikan manajemen kerja," tuturnya.
 

Morowali Pendulang Investasi

Rencana program penghiliran bahan tambang, khususnya nikel telah dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak masa pemerintahan periode pertamanya.

Mengutip perkataannya pada 2015, Jokowi mengakui jika hilirisasi bahan mentah di luar Jawa itu akan mempersempit pergerakan bahan mentah antar wilayah Barat dan Timur, dan juga dari luar Jawa ke Jawa. 

Menurut Presiden, hal ini sejalan dengan rencana pemerintah mulai menggeser industrialisasi ke luar Jawa.

Di samping itu, Jokowi menyebutkan jika diekspor dalam bentuk bahan mentah, nikel Sulteng hanya dihargai US$30 per metrik ton, sedangkan jika sudah diolah menjadi setengah jadi harganya naik drastis jadi US$1.300 per metrik ton, dan kalau diekspor dalam bentuk stainless stell dihargai US$2.600 per metrik ton.

“Kebijakan kita sekarang menyebarkan industri tidak hanya di Jawa tapi juga di luar Jawa tetapi di Indonesia bagian Timur,” kata Jokowi.

Kehadiran fasilitas pengolahan nikel di Morowali pada satu sisi menjadi berkah bagi geliat ekonomi Indonesia. 

Keputusan Indonesia untuk membuka pintu bagi investasi di sektor penghiliran di Morowali telah mendatangkan banyak aliran dana segar dari negara-negara asing.

Pada 2022, Sulawesi Tengah menduduki posisi 3 nasional untuk daerah dengan realisasi investasi tertinggi di bawah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Realisasi investasi asing dalam negeri yang dikantongi Sulawesi Tengah sepanjang 2022 tercatat sebesar Rp111,2 triliun. Secara rinci, realisasi investasi itu disumbangkan oleh penanaman modal asing (PMA) Rp107,42 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp3,76 triliun.

Realisasi investasi Provinsi Sulawesi Tengah telah melampaui 109,42% dari target realisasi investasi yang ditetapkan oleh Kementerian Investasi/BKPM 2022 untuk Provinsi Sulawesi Tengah sebesar Rp53,09 triliun rupiah.

Untuk realisasi investasi PMA Sulawesi Tengah menempati posisi 1 secara nasional dengan jumlah realisasi investasi sebesar US$7,5 Milliar atau menyumbang 16,41% dari total realisasi investasi PMA di Indonesia yaitu sebesar US$45,6 Milliar.

Jumlah itu tercatat melonjak dibandingkan dengan realisasi PMA di Sulawesi Tengah pada 2021 sebesar US$2,71 miliar.

Berdasarkan negara yang berinvestasi, China mencatatkan realisasi investasi terbesar dengan jumlah Rp50,89 triliun, diikuti dengan Singapura Rp39 triliun, Hongkong Rp16,55 triliun, Taiwan Rp383,77 miliar, dan Kanada Rp341,83 miliar.

Alarm Keselamatan Pekerja

Kejadian berulang pada operasional pengolahan nikel di kawasan IMIP menjadi alarm tentang keselamatan dan keamanan kerja para pekerja di tengah derasnya arus investasi yang masuk.

Kejadian itu mendapatkan sorotan langsung oleh Presiden Jokowi. Dia meminta penanganan dari insiden ledakan yang terjadi di pabrik yang beroperasi di IMIP dilakukan secara serius.

Jokowi mengatakan bahwa menjaga aspek keamanan dari fasilitas smelter memang merupakan pekerjaan yang sangat sulit.

Penyebabnya, dia menjelaskan bahwa untuk infrastruktur pendukung seperti tabung oksigen dan pemasangan plat pada bagian tungku yang membutuhkan suhu tinggi.

Jokowi pun mengamini bahwa dalam tiga bulan terakhir sudah terjadi dua kali kecelakaan kerja berupa ledakan tungku smelter pengolahan nikel yang menimbulkan korban jiwa. Oleh sebab itu, dia meminta agar unsur keselamatan harus menjadi prioritas ke depannya.

“Urusan di tempat yang ada pemanasannya itu. Ada peleburannya itu. Itu yang menurut saya paling rawan di situ, jadi auditnya, checking-nya kalau bisa harus di double-in harus ditriple-in biar kejadian yang sudah sekali dua kali terjadi ini tidak terjadi lagi,” ujar Jokowi.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) bakal menindak tegas ITSS akibat ledakan yang terjadi di pabrik yang beroperasi di IMIP.

Menko Marves, Luhut Pandjaitan, meminta semua kementerian atau lembaga terkait untuk menangani insiden ledakan di Smelter Morowali dengan serius.  

“Saya ingin mengingatkan bahwa negara kita memiliki regulasi yang jelas dan tegas. Siapa pun yang melanggar akan dihadapkan pada hukum yang berlaku,” kata Luhut.

Terkait dengan penyelidikan penyebab terjadinya kecelakaan, sejak tanggal 25 Desember 2023, Tim dari Kemenko Marves, Kemenaker, dan Kemenperin, Korem, Polda, Polres, dan Kodim serta pemerintah daerah telah diturunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan awal dan penyelidikan mendalam.

Dari hasil investigasi awal, terdapat indikasi tindakan yang melanggar SOP yang sudah ditetapkan oleh perusahaan, akibatnya terjadi kecelakaan dan korban jiwa. 

Namun, untuk kesimpulan akhir, Luhut meminta Kapolda Sulawesi Tengah untuk menyelesaikan investigasi tersebut dalam waktu 2 minggu dan meminta tindakan tegas dari Polri terhadap setiap pelanggaran hukum yang teridentifikasi.  

“Saya minta Polri bertindak cepat dan tegas apabila ada bukti pelanggaran oleh perusahaan. Kejadian serupa di GNI tahun lalu sudah menjadi pelajaran bahwa kita serius dalam menegakkan hukum demi keselamatan pekerja,” ujarnya.
 

Keamanan di Atas Investasi

Perbaikan sisi kesehatan, keselamatan kerja (K3) dinilai sangat mendesak dengan banyaknya kejadian di Kawasan IMIP. 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengeklaim telah meminta pemerintah China untuk melakukan asesmen dan memperbaiki tata kelola industri smelter China di Indonesia. 

Hal itu dia sampaikan saat bertemu dengan menteri industri China yang sempat berkunjung ke Kantor Kementerian Perindustrian beberapa waktu lalu. 

“Itu saya sampaikan secara tegas kepada menteri industri China karena hampir semua investor di proyek-proyek smelter ini merupakan BUMN China. Jadi tanggung jawab dari pemerintah itu juga masih sangat besar,” terang kepada wartawan di Jakarta, Rabu (3/1/2024). 

Di lain pihak, Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menuturkan, pemerintah harus menerapkan standar keamanan internasional dengan zero accidents kepada seluruh investor, termasuk investor China. 

Dia mengatakan, insiden yang terjadi di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) membuktikan bahwa investor smelter mengabaikan standar keselamatan di industri pertambangan. 

“Jangan lebih mementingkan masuknya investor smelter dengan mengabaikan safety system,” kata Fahmi. 

Ketua Umum Konfederasi Kasbi, Sunarno mengatakan mayoritas perusahaan-perusahaan yang beropreasi di kawasan IMIP masih sangat kurang menerapkan budaya K3.

Menurutnya, dari sisi fasilitas dan perlengkapan APD para pegawai kerap diabaikan dalam operasionalnya.

Lebih lanjut, dia menilai penerapan K3 yang diterapkan pada perusahaan-perusahaan tersebut masih sangat jauh dari standardisasi yang diterapkan oleh perusahaan pertambangan pada umumnya.

Untuk itu, Sunarno menuntut pemerintah, dalam hal ini Kementerian Ketenagakerjaan untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap operasional perusahaan di kawasan IMIP.

"Kalau kita kepada pengawas ketenagakerjaan harusnya lebih serius lagi untuk penanganannya," imbuhnya.


 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor: Muhammad Ridwan
Terkini