Teka-teki Kongsi Bisnis Chairul Tanjung, Salim, dan Sariaatmadja

Bisnis.com,26 Jan 2022, 14:40 WIB
Penulis: Hendri T. Asworo

Hampir dua tahun. Prahara yang menimpa PT Bank Harda Internasional Tbk. telah hilang dihapus waktu. Bersama bergantinya nama dan juragan baru. Allo Bank, kini menjadi primadona di lantai bursa. Dengan kode lama, BBHI.

Medio 2020, lembaran audit dari Otoritas Jasa Keuangan dan secarik kertas bukti transaksi ‘terlarang’ mampir ke meja redaksi Bisnis Indonesia. Otoritas mengendus transaksi tidak wajar pada laporan keuangan BBHI rentang 2017-2019.

Ada transfer dari rekening nasabah ke kantong pemegang saham BBHI, waktu itu PT Hakim Putra Perkasa. Rupanya ada penjualan produk illegal bernama forward trade confirmation (FTC).

FTC adalah produk investasi berbalut jual beli saham BBHI. Perjanjian antara nasabah dengan pemegang saham pengendali bank. Penjualan produk tanpa izin yang dilakukan oleh pegawai bank, haram hukumnya bagi regulator.

Sempat disebut-sebut nilainya triliunan rupiah. Manajemen BBHI mengklaim hanya Rp150 miliar. Masalah tersebut katanya sudah diselesaikan. Dengan mengembalikan dana ke beberapa nasabah.

Sejumlah oknum yang terlibat diberhentikan. Tak lama kemudian, dirut BBHI Jefry Hakim dicopot, bersamaan dengan perpindahan kepemilikan saham ke tangan Chairul Tanjung. Trah Rahman Hakim, pendiri BBHI, tak tersisa. Terakhir Novita Hakim digeser dari kursi komisaris pada Mei 2021.

Ketika saham mayoritas di genggaman Chairul Tanjung, melalui Mega Corpora, perombakan dilakukan secara total. Tidak hanya penggurus dan nama bank, model bisnis diubah menjadi digital.

Begitu juga syarat modal minimal Rp1 triliun dipenuhi melalui rights issue pada Juni 2021. Molor 6 bulan dari tenggat akhir 2020.

Pada penerbitan saham baru tahun lalu, Chairul Tanjung menebus semua haknya. Total saham yang dirilis sekitar 7,49 miliar. Dengan nilai nominal Rp100 per saham. Dana yang diperoleh mencapai Rp750 miliar. Modal inti BBHI pun genap Rp1 triliun.

Rencananya modal minimal Rp2 triliun akan dipenuhi tahun lalu, sesuai dengan ketentuan OJK. Namun, hingga tutup tahun, niat itu tak terpenuhi. Janji itu ditunaikan pada awal tahun ini. Dengan menggelar rights issue lanjutan.

Bahkan, dana dari rights issue melampaui batas minimal modal Rp3 triliun yang harus dipenuhi akhir 2022. Dalam aksi ini, BBHI menerbitkan 10,04 miliar saham baru dengan harga pelaksana Rp478 per saham. Perseroan akan mendapatkan dana Rp4,8 triliun dalam aksi korporasi ini.

Lewat Rights Issue, Allo Bank (BBHI) Bakal Kantongi Modal Inti Rp6 Triliun

Menurut laporan keuangan Allo Bank per kuartal III/2021, modal inti perseroan mencapai Rp1,26 triliun. Dengan tambahan duit Rp4,8 triliun, modal tembus Rp6,06 triliun. BBHI naik kelas ke Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.

Lembaran Baru Allo Bank

Lembaran baru bagi BBHI. Setelah melakukan rights issue pekan ini. Juragannya tidak hanya Chairul Tanjung, meski dia masih sebagai pengendali. CT, begitu biasa disebut, berbagi saham dengan konglomerat lain.

CT hanya menebus 30% dari total saham baru yang diterbitkan. Ada nama Salim Group (via PT Indolife Investama Perkasa), PT Bukalapak.com Tbk., Abadi Investment Pte. Ltd., H Holdings Inc., dan Trusty Cars Pte. Ltd. yang dibagi jatah saham baru.

Bukalapak di urutan teratas yang mendapatkan jatah saham baru BBHI, setelah CT tentunya. Dengan jumlah 2,49 miliar lembar saham atau setara 11,49%, emiten berkode saham BUKA itu merogoh kocek Rp1,19 triliun untuk menebus saham Allo Bank yang selembar dihargai Rp478.

Bukalapak (BUKA) dan Grup Salim Untung Besar dari Allo Bank (BBHI), Aset Langsung Meroket

Nilai itu terbilang kecil, bila dibandingkan dengan dana yang diperoleh perseroan saat melantai di bursa. Tembus Rp21,9 triliun. Apalagi setelah transaksi tebus, harga saham BBHI melesat ke Rp6.100 per lembar pada penutupan perdagangan bursa, Jumat (21/1).

Dus! Tanpa ‘berkeringat’ dan dalam hitungan hari, duit BUKA yang dibenamkan di Allo Bank melesat 1.176% per lembar saham. Bila ditotal pundi-pundi duit Bukalapak melesat Rp15,24 triliun.

Angka itu tentu sangat besar dibandingkan dengan perolehan laba BUKA pada 9 bulan pertama tahun lalu, mencatatkan rugi bersih Rp1,1 triliun. Memang investasi di BBHI masih potensi cuan. Namun, itu hanya masalah waktu, karena kepemilikan dikunci 3 tahun, kata CT.

Cuan masih berpotensi melangit dalam waktu 3 tahun. Dengan catatan kinerja BBHI membiru. Para pemegang saham Bukapalak yang dikendalikan oleh Emtek Group bersama 44 investor lain, tampaknya tak khawatir dengan penurunan saham BUKA hampir mencapai 50% pasca IPO, jika melihat potensi cuan itu.

Apalagi, CT menyebutkan akan ada kongsi antara BUKA dengan perusahaan ritelnya, Trans Mart. Mereka akan membentuk perusahaan groceries. Usaha dagang yang menyediakan bahan makanan.

Saat ini tengah menjadi tren bahwa perusahaan e-commerce atau ride hailing memiliki kongsi dengan perusahaan groceries. Seperti GoTo investasi ke Grup Lippo, PT Matahari Putra Prima Tbk.

 

Bergeser ke Grup Salim. Konglomerasi yang didirikan mendiang taipan Sudono Salim, setengah abad lalu ini, tentu turut menerima durian runtuh. Dengan modal Rp623,22 miliar untuk menebus 1,3 miliar lembar saham atau 6%, duit Salim melesat Rp7,33 triliun. Ini adalah potensi cuan.

Kedekatan Salim dengan CT bukan hal baru. Yang kasat mata, Salim melalui Indolife memborong 422,8 juta saham PT Bank Mega Tbk. pada tahun lalu. Porsi saham setara 6,07% itu ditebus sekitar Rp3 triliun.

Ada kongsi lebih dalam yang akan dijalani mereka. Allo Bank akan memakai Indomaret dan Superindo brand usaha milik Salim untuk mengaet nasabah. Konsep hybrid seperti ini merupakan model bisnis paling efisien yang dapat dilakukan bank digital, menurut Patrick Walujo pemilik PT Bank Jago Tbk. dalam diskusi Clubhouse, baru baru ini.

Teka-teki Pertalian Bisnis

Pertalian kongsi para taipan di Allo Bank ini sangat menarik. Pertama, ada keterikatan antara Grup Salim dengan Emtek. Cerita lamanya, tukar guling saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. sebelumnya milik Emtek dengan PT Indosiar Karya Media Tbk. yang semula digenggam Salim, pada 2007.

Keakraban semakin terjalin pada tahun lalu. Emtek dan Salim berkolaborasi dalam ritel dan ride hailing. Emtek dalam hal ini melalui Grab Indonesia dan Salim melalui Indomaret.

Kedua, Emtek masuk ke Allo Bank melalui Bukalapak yang notabene sahamnya dikuasai taipan Eddy Kusnadi Sariaatmadja. Ketiga, H Holdings milik Grab adalah investor Allo Bank. Adapun Grab mengenggam saham Emtek (4,6%) melalui H Holdings.

Di sisi lain, tiga konglomerasi itu memiliki bank sendiri. Salim sebagai pengendali PT Bank Ina Perdana Tbk. melalui Indolife. Emtek mengendalikan PT Bank Fama International, kini menggandeng Singtel dan Grab bergabung di dalamnya. CT sendiri memiliki Bank Mega dan sejumlah saham minoritas bank daerah.

Mau dibawa kemana arah bisnis masing-masing bank milik konglomerat ini ke depan menjadi teka-teki menarik. Apalagi ada pertalian investasi di antara mereka.

CT tentu ingin mengembalikan peruntungannya setelah investasi di Carrefour dan Garuda Indonesia terpuruk didera pandemi. Begitu juga Salim ingin mengembalikan kejayaannya ketika menjadi pemilik PT Bank Central Asia Tbk.

Pun Sariaatmadja, sebagai taipan yang muncul pasca reformasi ingin tinggal landas menyongsong kejayaannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor: Hendri T. Asworo
Terkini