Lukisan rasa kosmopolitan a la Wastu

Oleh:

 

JAKARTA: Kendra Gallery menyelenggarakan pameran tunggal perupa Wastuwidyawan Paramaputra dengan tema Remembrance akhir pekan ini.
 
Wastuwidyawan adalah seniman muda lulusan Studio Seni Lukis FSRD ITB, Bandung. Dia adalah seniman yang tumbuh di  lingkungan urban dan kosmopolitan di Indonesia. 
 
“Sejak 3 tahun terakhir, dia menggarap karya-karya dari pengalaman bersentuhan dengan subkultur anak muda, kita sebut saja subkultur 'clubbing', yakni aktivitas di ruang-ruang klub, rave party dan diskotik,” kata kurator pameran Agung Hujatnikajennong hari ini.
 
Bagi Wastu, clubbing adalah fenomena sosial yang mewakili kekhasan gaya hidup masyarakat perkotaan. Karya-karya Wastu mengekspos estetika dunia malam dan leisure. 
 
Dengan sosok-sosok manusia sebagai objek utamanya, Wastu mengolah interaksi orang-orang melalui gestur dan pose, kegiatan dalam suatu ruang, fesyen, serta benda-benda yang menjadi penanda identitas komunitas subkultur tersebut. 
 
Pameran Remembrance mewakili eksplorasi artistik Wastu yang paling mutakhir. Meskipun masih menampilkan citraan realistik, kali ini Wastu menggarap lukisan-lukisannya lewat gramatika visual tertentu. 
 
Beberapa di antaranya tampil dengan format bidang kanvas yang tak simetris. Sudut pandang, fokus dan cropping objek-objek penanda suatu narasi juga sengaja dihilangkan. Atau, jikapun masih ada, penanda itu disusun menjadi serba kabur, janggal dan tak lengkap. 
 
Lukisan-lukisan itu menangkap momen-momen terkecil yang paling alamiah sekaligus acak dari suatu kejadian, yang sering terlupakan atau luput dari perhatian. 
 
Kedekatan Wastu dengan budaya clubbing punya latar cerita yang panjang. Baginya, situasi clubbing, gaduhnya musik, kilat lampu sorot, asap rokok, bau minuman beralkohol dan percakapan orang-orang di ruang-ruang yang temaram, mengingatkannya pada sosok ibundanya yang meninggal dunia ketika Wastu berusia 11 tahun. 
 
Selain menjadikan sebagai suatu proyek observasi sosial, Wastu menggarap lukisan-lukisannya dengan dorongan personal yang kuat. Ia menjadikan kekaryaannya sebagai medium untuk menggali memori-memori tentang sosok terdekat yang amat dia rindukan. (arh)

Editor: Annisa Lestari Ciptaningtyas

Berita Terkait:

Berita Lainnya: