BANK SULSELBAR Minta Tambah Penyertaan Modal Agar Kredit Produktif Capai 60%

Bisnis.com,11 Apr 2013, 17:52 WIB
Penulis: Wiwiek Endah

BISNIS.COM, MAKASSAR--PT Bank Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (Sulselbar) meminta pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten menambah penyertaan modal sebagai upaya peningkatan penyaluran kredit produktif hingga mencapai 60%.

Direktur Utama Bank Sulselbar Ellong Tjandra mengatakan penyaluran kredit produktif membutuhkan alokasi modal tinggi, mengingat risiko yang kompleks dari kredit konsumtif.

“Modal tersebut dapat bersumber dari internal melalui tambahan modal dari para pemegang saham atau mengurangi jumlah deviden,” kata Ellong di sela-sela Sosialisasi Penguatan Permodalan PT Bank Sulselbar, Kamis (11/4/2013).

Namun menurutnya, penambahan modal di bank daerah juga bisa bersumber dari eksternal melalui right issue atau go public dan menerbitkan obligasi subordinasi.

Dia menuturkan permodalan internal merupakan pilihan ideal agar pembagian deviden dapat dimanfaatkan kembali dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD)

"Permodalan internal lebih baik karena memberikan manfaat bagi PAD," ucapnya.

Berdasarkan data Desember 2012, komposisi saham di Bank Sulselbar, yakni Sulsel 40,85% dan kabupaten/kota se-Sulsel 53,14%.

Sementara penyertaan modal Sulbar sebesar 0,38% dan kabupaten/kota se-Sulbar sebesar 5,63%.

Dia menjelaskan jumlah modal setor per akhir 2012 sebesar Rp528,74 miliar, atau meningkat 94,22% sejak 2008. Rerata pertumbuhan modal dalam lima tahun hanya berkisar 5%.

Selama periode 2008-2012, menurut Ellong, dari 31 pemerintah daerah, jumlah tambahan modal Sulsel sebesar Rp26 miliar. Sedangkan setoran berkisar Rp5 miliar - Rp10 miliar dimasukkan oleh Kabupaten Luwu Timur dan Soppeng. Kategori Rp3 miliar hingga Rp5 miliar disetorkan oleh tujuh kabupaten.

Bank pemerintah daerah ini juga mencatat, 12 kabupaten menyetor antara Rp1 miliar hingga Rp3 miliar, serta dua kabupaten sekitar Rp500 juta.

Manajemen Bank Sulselbar juga membayarkan deviden 2008 - 2012 kepada pemegang saham sebesar Rp712,24 miliar, atau 135% dari jumlah modal setor.

"Sisanya tujuh kabupaten dikategorikan belum ada tambahan modal," tukas Ellong.

Dia menambahkan tingkat investasi atas modal cukup menjanjikan, terlihat dari Return On Equity (ROE) atau kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan menggunakan ekuitasnya sebesar 36,53%. Tertinggi ketiga dalam kategori Bank Pemerintah Daerah (BPD) yang memiliki jumlah aset di atas Rp1 triliun.

Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo meminta Bank Sulselbar harus lebih sehat dan kuat dari lembaga keuangan lain yang beroperasi di wilayah ini.

Bank daerah ini juga diminta memiliki rasa keperpihakan kepada masyarakat  di Sulsel.

Menurutnya, konsepsi pemerintah harus sejalan dengan konsepsi perbankan. Dimana Bank Sulselbar diyakini memiliki potensi untuk berkembang pesat dan mampu bersaing.

Dia juga meminta, perbankan milik pemerintah harus bisa bersinergi dengan bank daerah untuk meningkatkan kinerja, agar pengucuran kredit untuk masyarakat daerah bisa lebih tersentuh.

"Permodalan harus ditambah agar untung lebih banyak. Kembalikan ke rakyat lebih besar sekitar 40%," ucap Syahrul.

Namun, Bank Sulselbar dinilai mengalami penurunan pangsa pasar atau market share dari 10% menjadi 7%. Oleh sebab itu, dia meminta di 2013 kinerja Bank Sulselbar harus mampu meningkatkan pangsa pasar lebih.

"Bank Sulselbar satu-satunya bank yang belum terkontaminasi dari pihak asing. Jadi, pangsa pasar harus dinaikan lebih besar lagi," tukasnya. (wde)

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Wiwiek Endah
Terkini