Kredit Perbankan Belum Ditarik Nasabah Rp831,03 Triliun

Bisnis.com,23 Jul 2013, 09:58 WIB
Penulis: News Editor

Bisnis.com, JAKARTA - Fasilitas kredit nasabah yang belum dituangkan dalam komitmen resmi dengan bank (uncommitted) naik 22,32% hingga Mei 2013 ketika industri perbankan dihadapkan pada tren pelambatan kredit dan pengetatan likuiditas.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), fasilitas kredit uncommitted yang belum ditarik nasabah mencapai Rp544,92 triliun sampai Mei 2013, lebih tinggi dari posisi Mei 2012 sebesar Rp445,48 triliun.

Bahkan, pertumbuhan pada Mei tahun ini melampaui periode yang sama 2 tahun sebelumnya yang mengalami kenaikan sekitar 17,44%. Satu sisi, penyaluran kredit perbankan sampai Mei 2013 tercatat tumbuh 21,03%, lebih lambat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai 26,58%.

Total fasilitas kredit perbankan yang belum ditarik nasabah (un-disbursed loan) sampai Mei 2013 mencapai Rp831,03 triliun. Dari jumlah tersebut, fasilitas yang belum ditarik tetapi telah mencapai komitmen (commited) dengan nasabah sebesar Rp286,1 triliun, naik tipis 3,44% dibandingkan dengan periode yang sama 2012 sebesar Rp276,58 triliun.

 

Nilai komitmen kredit yang belum ditarik tahun ini, jauh di bawah angka pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 31,61%.

Ekonom Bidang Pengkajian dan Pengembangan Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas), Aviliani, mengatakan tidak meratanya distribusi likuiditas perbankan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh pada kemampuan perbankan dalam menyalurkan kredit.

“Kalau bank-bank besar likuiditasnya cukup, sedangkan bank-bank kecil tidak semuanya cukup. Banyak orang pegang dana cash,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.

Selain faktor likuiditas, fasilitas kredit yang belum ditarik juga tergantung dari kebutuhan pendanaan nasabah. (Stefanus Arief Setiadji & Roberto Purba)

Baca selengkapnya: http://epaper.bisnis.com/index.php/ePreview?OldID=23#

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Yusran Yunus
Terkini