Tiga Hal Yang Harus Diperhatikan Investor Pemula

Bisnis.com,13 Feb 2014, 19:17 WIB
Penulis: Bunga Citra Arum Nursyifani

Bisnis.com, JAKARTA – Kata investasi untuk sebagian orang terdengar menakutkan, terutama dengan banyaknya berita skema penanaman modal yang berakhir sebagai kasus penipuan.

Ryan Filbert, praktisi investasi dan penulis buku “Negative Investment: Kiat Menghindari Kejahatan dalam Dunia Investasi”, mengatakan rupanya banyak orang yang merasa kapok dengan investasi karena pernah tertipu oleh suatu bentuk skema investasi.

“Lebih sialnya lagi, investasi yang menipu itu adalah investasi pertama yang dilakukan oleh si investor awam itu,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (13/2/2014).

Maka dari itu, dia menjabarkan tiga hal yang harus diperhatikan mereka yang baru menjejakkan langkah di dunia investasi atau masih sekedar mempertimbangkannya. Menurutnya, tiga hal sederhana ini dapat membuat kita menjadi investor yang semakin baik dari hari ke hari.

“Bedakanlah bahwa kita menjadi seorang investor, bukan seorang coba-coba yang identik dengan berjudi. Banyak pemikiran salah yang akhirnya sebutan seorang investor samar dengan seorang penjudi,” jelas Ryan.

Tiga hal yang disebut oleh Ryan itu adalah:

Mindset

Coba kita kembali ingat, beberapa kasus investasi yang mengarah ke penipuan, apa yang mereka tawarkan? Ya, keuntungan besar, resiko minimal bahkan terlihat tidak ada resiko, menjadi kaya secepat-cepatnya, usaha atau effort yang kita lakukan sedikit bahkan tanpa usaha,” kata Ryan.

Dalam investasi, lanjutnya, juga dikenal prinsip yang belum dapat digantikan, yaitu High Risk, High Return. Setiap investasi yang memiliki skala resiko minimum bahkan dikatakan tidak ada resikonya seharusnya memiliki keuntungan yang minimum bukan justru sebaliknya.

Dengan demikian perlu dipahami dengan baik bila ada suatu penawaran yang memberikan janji yang berlawanan dengan hukum tersebut maka hanya 2 hal yang mungkin terjadi, yakni hal mencurigakan untuk low risk high return, atau high risk low return yang berarti perusahaan yang menawarkan kepada kita adalah calon ilmuwan penemu formula baru di abad ini.

Pengetahuan 

Seberapa baik kita mengenal investasi? Nah tentunya jawabannya akan relatif tergantung diri kita masing-masing. Ketika kita adalah seorang investor pemula justru seharusnya kita mau belajar lebih dalam perihal resiko dan keuntungan dalam berinvestasi.

“Perlu saya tekankan bahwa penulisan resiko dan keuntungan akan berbeda dengan keuntungan dan resiko. Artinya mulailah kita melihat resikonya terlebih dahulu sebagai pil pahit yang harus kita telan sebelum melihat keuntungan sebagai pil manis,” jelas Ryan.

Dia menambahkan, banyak sekali investasi dasar yang bisa dipelajari, mulai dari investasi dalam produk perbankan, dalam pasar modal, hingga investasi yang jauh lebih kompleks.

Memang terlihat sulit bagi orang-orang yang merasa tidak punya waktu dan senang mendapat iming-iming, namun kembalilah kita harus jika berinvestasi tanpa pengetahuan apapun sama dengan mempertaruhkan hasil jerih payah yang telah kita dapatkan dengan susah payah.

Pengaturan atau Management 

“Setelah kita mempelajari dan kita ingin melakukan investasi ada satu hukum yang perlu kita pertimbangkan, yaitu diversifikasi atau yang dikenal dengan don’t put your egg into one basket, yang artinya jangan begitu yakin, confidence, percaya mimpi atau apapun sehingga menaruh semua uang kita dalam satu tempat,” ungkap Ryan.

Dia menyarankan supaya menyebar investasi kita dalam banyak tempat, bila merasa lebih yakin maka pisahlah dari yang berkategori resiko tinggi hingga resiko yang rendah. Buatlah persentasi berapakah yang harus ditempatkan pada investasi yang lebih beresiko dan berapakah investasi yang dialokasikan pada unsur yang relatif jauh lebih aman.

Setiap investasi yang benar pasti memberikan kategori bahwa investasi itu memiliki resiko seperti apa dan kategori investornya harus awam atau expert. Bila saat ini anda ditawari investasi yang tidak diberikan secara transparan mengenai hal tersebut anda boleh kembali pada aturan ke 2 dalam artikel ini.

“Menjadi seorang investor sama halnya dengan bayi yang belajar jalan hingga bisa berlari, lompat, berguling, meroda, dan lain-lain. Kita akan memulai dari titik yang sama yaitu belajar merangkak. Bila pada saat ini anda masih belajar merangkak, gunakanlah 3 point penting tersebut dan teruslah menambah pengetahuan agar suatu saat menjadi investor yang semakin pandai, prudent dan kaya,” pungkas Ryan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Martin Sihombing
Terkini