Menuju Sistem Pendidikan yang Benar-Benar Mencerdaskan

Bisnis.com
Oleh:

Berdasarkan laporan United NationsDevelopmentProgramme (UNDP) pada tahun 2001, dari 174 negara yang diurutkan berdasarkan tingkat kemajuannya, Indonesia berada pada peringkat ke-109. Lima negara ASEAN berperingkat lebih baik. Singapura menempati peringkat ke-24, Brunei Darussalam ke-32, Malaysia ke-61, Thailand ke-76, dan Filipina ke-77. Posisi tiga besar dihuni oleh Canada, Norwegia, dan Amerika Serikat.

Setelah dua belas tahun berlalu, laporan UNDP tahun 2013 menunjukkan, dari 186 negara di dunia, Indonesia malah berada pada urutan ke-121. Sebagai perbandingan, terlihat Singapura menempati urutan ke-18, Brunei Darussalam ke-30, Malaysia ke-64, Thailand ke-103 dan Filipina ke-114. Sedangkan urutan tiga besar dihuni oleh Norwegia, Australia, dan Amerika Serikat.

Alih-alih bersaing dengan tiga besar, di antara sepuluh negara ASEAN saja Indonesia masih berada pada urutan ke-6.

Apakah masalah utama yang sebenarnya menghambat kemajuan kita? Benarkan masalahnya ada pada pendidikan?

Secara filosofis manusia adalah educable animal (makluk yang dapat dididik), animal educandum (makluk yang harus dididik) dan animal education (makluk yang dapat mendidik). Dengan itu dapat disimpulkan bahwa maju atau tidaknya suatu bangsa tergantung dari kualitas individunya. Kualitas individu biasanya berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang diperolehnya.

Pertanyaan selanjutnya, bukankah UUD 1945 mengamanatkan agar pemerintah menganggarkan 20% dari APBN untuk pendidikan?

Ya. Setelah anggaran terpenuhi dengan baik, penulis berasumsi bahwa inti permasalahannya ada pada sistemnya. Lalu, apakah yang ‘kurang’ dalam sistem pendidikan di Indonesia?

Dua "Kekurangan" dalam Sistem Pendidikan Indonesia

Menurut penulis, setidaknya ada dua kekurangan dalam sistem pendidikan kita. Pendidikan yang seharusnya mencerdaskan, jika salah urus justru berbalik menjadi mesin pembodohan secara massif.

Pertama, kekurangan sistem pendidikan kita adalah adanya dikotomi ilmu. Dilihat dari konteks kesejarahan,Belanda pernah menerapakan etisce politiek yang sengaja melakukan dikotomi dalam pendidikan. Kebijakan itu diambil didasari hasil penelitian Dr. Snouck Hurgronje yang bisa meyakinkan Belanda bahwa semangat pemberontakan terhadap penjajah sebanding dengan kentalnya akidah suatu masyarakat(lihat buku Indonesia di Simpang Jalan, 1998, hal. 148).

Dalam perjalanan selanjutnya, sesuai hasil penelitian Clifford Geertz yang diterbitkan tahun 1983, masyarakat di Jawa terkutub dalam tiga kelompok besar, yaitu abangan, santri dan priyayi.

Terlepas dari polemik seputar keabsahan hasil penelitian Geertz, terlihat jelas dalam masyarakat Indonesia adanya dikotomi ilmu pengetahuan. Anak-anak kaum santri banyak bersekolah ke pesantren, sedangkan anak-anak kaum abangan dan priyayi banyak sekolah ke sekolah umum. Pesantren lebih banyak memberi porsi ilmu agama dibanding ilmu yang lain, sedangkan sekolah umum sebaliknya.

Apakah akibatnya?

Sistem pendidikan dikotomis melahirkan generasi terdidik namun cacat; lumpuh dan buta. Lumpuh karena hanya menitikberatkan pada ilmu agama, sehingga tidak mampu mengimbangi lajunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Buta karena hanya mempelajari ilmu umum dengan sentuhan keagamaan yang sangat minim, sehingga kehilangan dimensi moralitas dan spiritualitas.

Kedua, sistem pendidikan kita kurang dialogis-partisipatoris, yang menempatkan anak didik ‘hanya’ sebagai objek.

Tarek Heggy dalam bukunya The Values of Progress mengatakan bahwa filsafat pendidikanyang ada selama iniberdasar pada sistem hafalan yang kurang kreatif dan dialogis. Akibatnya, pendidikan tidak terlihat sebagai sebuah proses interaktif, tapi hanya berupa one-way street yang menempatkan sang guru sebagai transmitter ilmu dan menempatkan murid sebagai passive receiver. (Tarek Heggy, The Values of Progress, 2002, hal. 13-14).

Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa sistem pendidikan yang ada di negara kita saat ini terlalu banyak berinteraksi dengan kertas dan minim bergelut langsung dengan realitas.

Sementara itu, Paulo Freire menyebut gaya pendidikan satu arah sebagai banking concept of education. Pendidikan ‘gaya bank’ menurut Freire adalah: a). guru mengajar, murid belajar; b). guru tahu segalanya, murid tidak tahu apa-apa; c). guru berfikir, murid difikirkan; dan d). guru mengatur, murid diatur.

Apakah akibatnya?

Anak-anak didik yang dilahirkan dari sistem pendidikan monologis bergaya bank, kata Freire, adalah ‘generasi bisu’ yang pada akhirnya menumbuhkan silence culture.

Tak susah mencari bukti, di kota-kota besar yang lebih maju di bidang pendidikan, kesehariannya diselimuti dengan budaya egoisme, monopoli, anti-sosial, dan sebagainya.

Nah, lengkap sudah penderitaan sebagian besar generasi terdidik kita, "lumpuh-buta" akibat pendidikan yang dikotomis dan "bisu" akibat gaya pendidikan monologis. Inilah yang menyebabkan tingkat kemajuan bangsa Indonesia tertinggal oleh bangsa lain. 

Lalu, apakah solusinya?

Pertama, karena masalah sistem pendidikan Indonesia adalah dikotomi, maka solusinya adalah integrasi. Integrasi antara ilmu agama dengan ilmu yang lain, integrasi antara ilmu dengan etika, dan seterusnya.

Dengan ini, anak didik yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya yang siap menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan dimensi moralitas dan spiritualitas.

Kedua,masalah monologisnya sistem pendidikan dapat diatasi dengan penerapan sistem pendidikan yang dialogis-transformatif-partisipatoris.

Dialogis dalam arti antara guru dan murid sama-sama menjadi subyek atau menurut bahasa Paulo Freire; teacher pupil dan pupil teacher atau guru yang murid dan murid yang guru. Guru yang senantiasa mempelajari perkembangan anak didiknya seolah dia masih belajar, dan murid juga melakukan evaluasi terhadap kerja intelektualnya seolah dia juga bersikap layaknya seorang guru.

Sedangkan transformatif-partisipatoris adalah mengontekstualiasasikan ilmu dengan realitas beserta cara penerapannya.

Dengan ini, generasi-generasi terdidik yang dihasilkan menjadi manusia yang selalu tanggap masalah, peduli, bahkan mampu menjadi bagian dari the agent of change.

Jadi, sistem pendidikan yang benar-benar mencerdaskan dan membangun manusia seutuhnya adalah yang integratif, dialogis, transformatif, dan partisipatoris. Dengan ini, pembangunan di Indonesia akan semakin lancar, hingga menjadi negara yang peringkatnya semakin membaik dari masa ke masa.

 

 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor: News Editor