Utang Indonesia Rp3.102 Triliun, Ternyata Termasuk Terendah di Dunia

Bisnis.com,23 Apr 2014, 00:33 WIB
Penulis: Herdiyan
Dolar AS/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Meski jumlah utang negara terus meningkat dari tahun ke tahun, Komite Ekonomi Nasional (KEN) menilai Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah utang terendah di dunia.

Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung menuturkan rasio jumlah utang dibandingkan dengan gross domestic product (GDP) Indonesia atau debt to GDP ratio saat ini berada di kisaran 23%-24%.

“Masyarakat dan media juga sering nulis bahwa utang Indonesia makin hari makin membengkak. Secara jumlah, memang benar,” ujarnya dalam acara Sosialisasi Rencana Strategis Kementerian Perhubungan 2015-2019 di Jakarta, Selasa (22/4/2014).

Sesuai dengan ketentuan internasional, kata pengusaha yang akrab dipanggil CT itu, debt to GDP ratio suatu negara yang sehat adalah di bawah 60%.

Sebagaimana diketahui, sebagian besar negara Eropa yang terkena krisis ekonomi beberapa tahun lalu memiliki debt to GDP ratio di atas 60%, bahkan ada yang lebih dari 100%.

“Begitu juga di dunia bisnis. Sama saja. Utang makin besar tidak apa-apa, asalkan volume usahanya juga meningkat. Nantinya keuntungan usaha bisa dialokasikan untuk pembayaran cicilannya,” ujarnya.

Dia menjelaskan saat krisis 1998 lalu, debt to GDP ratio Indonesia berada di atas 100%. “Dari tahun ke tahun turun terus, hingga akhirnya berada di kisaran 23%-24%,” tuturnya.

Sebelumnya diberitakan, utang luar negeri Indonesia meningkat 7,4% (year-on-year) menjadi US$272,1 miliar pada Februari 2014, yang dipengaruhi oleh kenaikan utang luar negeri sektor publik.

Posisi utang luar negeri itu sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Januari 2014 sebesar 7,2% menjadi US$269,3 miliar atau Rp3.102 triliun.

Posisi utang luar negeri per Februari terdiri atas sektor publik US$129 miliar dan sektor swasta US$143,1 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Sepudin Zuhri
Terkini