BISNIS INDONESIA AWARD 2014: Profil Nominee Sektor Industri Barang Konsumsi

Bisnis.com,24 Jun 2014, 10:59 WIB
Penulis: Gajah Kusumo
Kegiatan Bisnis Indonesia Award. / Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA--Harian Bisnis Indonesia hari ini menggelar Bisnis Indonesia Award (BI Award) sebagai ajang pemberian penghargaan tahunan kepada perusahaan yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek Indonesia dan perusahaan pendukung lain di pasar finansial.

Berikut ini daftar nominee Bisnis Indonesia Award 2014 di sektor industri barang konsumsi


SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI

PT Sekar Bumi Tbk (SKBM)

PT Sekar Bumi Tbk (SKBM), yang didirikan pada 12 April 1973, baru-baru ini mendirikan anak perusahaan baru yakni PT Bumi Pangan Mulia dan PT Bumi Pangan Sejahtera dengan total penempatan modal dasar dan disetor senilai Rp200 miliar.
Tahun 2013 menjadi masa yang cukup berarti bagi PT Sekar Bumi Tbk. Bagaimana tidak, produsen makanan beku hasil laut dan produk olahan tersebut berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 1,296 triliun. Naik sebesar 72,03% dibanding penjualan bersih tahun 2012 yang sebesar Rp 753,7 miliar.
Lonjakan signifikan juga terjadi pada laba bersih tahun 2013 yang mencapai 358,6% dari Rp 12,7 miliar yang dibukukan tahun 2012 menjadi Rp 58,26 miliar pada 2013.
Direktur Utama PT Sekar Bumi Tbk, Harry Lukminto mengatakan, melejitnya penjualan perseroan pada tahun lalu tidak terlepas dari kenaikan volume maupun nilai penjualan ekspor hasil laut, khususnya jenis udang. Hal ini menyusul anjloknya pasokan produk yang sama dari Thailand karena merebaknya penyakit early mortality syndrome (EMS) pada komoditas udang.
"Artinya kita berhasil mengisi pasar yang selama ini dikuasai produk udang asal Thailand. Ini juga membuat penjualan perseroan juga hampir seluruhnya untuk pasar ekspor atau sekitar 95%," kata Harry, Selasa (10/6).
Selama ini, beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor perseroan diantaranya Amerika Serikat, Eropa, Jepang, serta China.
Tak hanya itu, perseroan saat ini juga terus mematangkan pembangunan pabrik-pabrik baru yang diperkirakan mulai beroperasi awal tahun 2015, yakni di Cikupa, Tangerang serta di Lamongan, Jawa Timur. Keduanya akan memproduksi udang dan hasil laut olahan dengan kapasitas terpasang masing-masing 12.000 ton per tahun. Perseroan juga tengah mempersiapkan ekspansi pabrik baru untuk daging sapi olahan di Bali dengan kapasitas 100 ton per bulan.
Sekar Bumi juga masih menyimpan salah satu aksi korporasi yang belum dilakukan yaitu rencana penerbitan saham baru sebanyak 56.450.000 lembar dengan nilai nominal Rp100 per saham. Strategi pembiayaan dari pasar modal itu diharapkan mendukung rencana pengembangan usaha frozen food untuk makanan olahan seperti bakso dan sosis.


PT Siantar Top Tbk (STTP)

Pada 1972, Shindo Sumidomo memulai bisnis dengan mendirikan sebuah pabrik kerupuk berskala industri rumah tangga di Sidoarjo. Usaha tersebut merupakan cikal bakal dari berdirinya PT Siantar Top, Tbk, perusahaan industri makanan dan minuman berkualitas berskala nasional dengan pabrik pertama di Sidoarjo pada tahun 1987.
Perusahaan semakin berkembang pesat dan pada 1996 mencatatkan sahamnya di lantai bursa.
Untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang terus tumbuh, PT Siantar Top, Tbk membuka pabrik baru di Medan pada 1997, dan Bekasi pada 2002. Selain mengembangkan pasar dalam negeri, perusahaan juga terus mengembangkan pasar ekspor ke berbagai negara di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.
Produsen makanan ringan berkode saham STTP ini sepanjang tahun lalu mencetak laba bersih senilai Rp114 miliar atau tumbuh 54% dari capaian pada tahun sebelumnya sebesar Rp74 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, perolehan itu mendongkrak laba bersih per saham dasar (earning per share/EPS) dari Rp56,98 menjadi Rp87,38 per lembar saham.
Perseroan yang dipimpin oleh Pitoyo ini tercatat membukukan penjualan bersih Rp1,69 triliun atau naik 32% dari Rp1,28 triliun. Kontributor tertinggi berasal dari segmen produk kerupuk kemasan sebanyak Rp509 miliar, disusul produk biskuit dan wafer Rp463 miliar, mie senilai Rp384 miliar, serta beberapa produk lainnya.
Penjualan di pasar lokal berkontribusi menyumbang Rp1,68 triliun atau mendominasi total pendapatan perseroan. Adapun, sebagian kecil produk dikapalkan ke sejumlah negara tujuan ekspor dengan perolehan sebanyak Rp30 miliar.
Sementara itu, total liabilitas perseroan per 31 Desember 2013 tercatat Rp775 miliar dengan rincian utang jangka pendek sebesar Rp598 miliar dan Rp176 miliar untuk kategori utang jangka panjang.
Pada Februari tahun ini, perseroan telah mendapatkan persetujuan dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) atas perpanjangan jangka waktu kredit senilai Rp132 miliar hingga 28 Pebruari 2015, serta perubahan covenant atas pinjaman kredit dengan Eximbank.


PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP)

Pada 1913, Liem Seeng Tee, seorang imigran asal Cina, mulai membuat dan menjual rokok kretek linting tangan di rumahnya di Surabaya, Indonesia. Perusahaan kecilnya tersebut merupakan salah satu perusahaan pertama yang memproduksi dan memasarkan rokok kretek maupun rokok putih.
Popularitas rokok kretek tumbuh dengan pesat. Pada awal 1930-an, Liem Seeng Tee mengganti nama keluarga sekaligus nama perusahaannya menjadi Sampoerna, yang berarti ”kesempurnaan”.
Setelah usahanya berkembang cukup mapan, Liem Seeng Tee memindahkan tempat tinggal keluarga dan pabriknya ke sebuah kompleks bangunan yang terbengkalai di Surabaya yang kemudian direnovasi olehnya.
Generasi ketiga keluarga Sampoerna, Putera Sampoerna, mengambil alih kemudi perusahaan pada tahun 1978. Di bawah kendalinya, Sampoerna berkembang pesat dan menjadi perseroan publik pada tahun 1990 dengan struktur usaha modern, dan memulai masa investasi dan ekspansi. Selanjutnya Sampoerna berhasil memperkuat posisinya sebagai salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia.
Keberhasilan Sampoerna menarik perhatian Philip Morris International Inc. (“PMI”), salah satu perusahaan rokok terkemuka di dunia. Akhirnya pada bulan Mei 2005, PT Philip Morris Indonesia, afiliasi dari PMI, mengakuisisi kepemilikan mayoritas atas Sampoerna.
Pada tahun lalu, emiten yang dinakhodai oleh Paul Norman Janelle itu membukukan pertumbuhan pendapatan 12,6% tahun lalu, dari tahun sebelumnya 26,1%.
Adapun laba bersihnya tumbuh 8,7% dari Rp9,9 triliun menjadi Rp10,8 triliun. Pada periode sebelumnya, laba bersih emiten di bawah kendali PT Philip Morris Indonesia itu naik hingga 23,3%.
Pada tahun lalu PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) tercatat menyetor cukai tertinggi sejumlah Rp30,7 triliun dan PPN sebesar Rp6 triliun.


PT Darya Varia Laboratoria Tbk (DVLA)

PT Darya Varia Laboratoria Tbk didirikan pada 1976 oleh Wim Kalona. Emiten berkode saham DVLA, yang dipimpin oleh Eric Albert Gotuaco, saat ini mengoperasikan dua fasilitas manufaktur setelah penutupan dua pabrik lainnya pada tahun 1998 sebagai bagian dari restrukturisasi Kelompok Usaha.
Pada akhir Desember 2001, Far East Drug, sebuah afiliasi dari Grup Unilab Filipina membeli DVL Investment Limited (DVLIL) yang memiliki 89,5% dari total saham yang dikeluarkan oleh Darya-Varia, dari Grup First Pacific di Hong Kong.
Pada Juli 2006, DVLIL dan Far East Drug (BVI) Ltd mengalihkan saham Darya-Varia kepada Blue Sphere Singapore Pte. Ltd yang kini menjadi pemegang saham mayoritas   Darya-Varia, yang memiliki 92,7% saham Perseroan.
Pada kuartalI/2014, perseroan mencatatkan rugi bersih sebanyak Rp17,41 miliar. Kerugian tersebut disebabkan menurunnya penjualan serta meningkatnya beban yang ditanggung perusahaan farmasi tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis perseroan, tercatat penjualan perseroan turun 24,24% dari Rp286,87 miliar di kuartal I/2013 menjadi Rp217,32 miliar.
Peningkatan beban terlihat pada pos beban penjualan dan pemasaran yang mencapai 8,66% dari Rp97,03 miliar menjadi Rp105,44 miliar.
Selain itu di pos beban usaha lain-lain, perseroan juga mencatatkan rugi selisih kurs mencapai Rp3,8 miliar, sementara di periode yang sama tahun lalu perseroan membukukan laba selisih kurs sebanyak Rp263,43 juta.
Belum lama ini, perseroan juga berencana untuk melakukan merger dengan anak usaha. Aksi tersebut berpotensi menyebabkan seluruh aset dan kewajiban anak usaha PT Pradja Pharin akan beralih kepada Darya-Varia sebagai perusahaan penerima penggabungan.


PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk (SQBB)

PT Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk berdiri pada 8 Juli 1970 dengan nama PT Squibb Indonesia dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1972
Baru-baru ini perusahaan farmasi ini melakukan transaksi afiliasi dengan PT Tokuhan Corporation, HOE Pharma Holdings Sdn. Bhd., Taisho Pharmaceutical (Philipphines) Inc., dan Taisho Pharmaceutical (M) Sdn. Bhd.
Direktur Taisho Pharmaceutical Indonesia Masashi Nakaura menuturkan perjanjian transaksi tersebut berisi tentang penyediaan pasokan produk farmasi dan kesehatan lainnya dari sejumlah negara, seperti Malaysia, Filipina, dan pusatnya grup perusahaan tersebut di Jepang.
"Tokuhan Corporation siap memasok produk Counterpain Patch yang kemudian didistribusikan Taisho Pharmaceutical Indonesia di Tanah Air," ujarnya dalam keterbukaan informasi, awal Maret.
Taisho juga melakukan penandatanganan perjanjian pasokan dan lisensi untuk produk HOE Pharma Holdings. Perusahaan tersebut memproduksi produk di Malaysia dan memasok produk tersebut kepada Taisho Pharmaceutical Indonesia. Kemudian, produk tersebut akan didistribusikan di Indonesia.
Selain itu, pihaknya menandatangani perjanjian pasokan dengan Taisho Pharmaceutical (Philipphines) untuk produk Tempra. Taisho Pharmaceutical Indonesia memproduksi obat batuk itu di Indonesia dan akan memasoknya ke perusahaan yang berbasis di Filipina tersebut.
Terakhir, Taisho juga melakukan penandatanganan perjanjian pasokan dengan Taisho Pharmaceutical (M) untuk produk Lipovitan. Perusahaan tersebut memproduksi produk itu di Malaysia dan akan memasoknya ke Taisho Pharmaceutical Indonesia untuk didistribusikan di dalam negeri.


PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

PT Tempo Scan Pacific Tbk dan anak perusahaannya (Tempo Scan) merupakan bagian dari kelompok usaha swasta nasional Grup Tempo yang telah memulai usaha perdagangan produk farmasi sejak tahun 1953.
Tempo Scan telah membuktikan kompetensinya di geliat industri dengan keberadaan empat Divisi Usaha Inti (Core Business Divisions), yakni Divisi Farmasi, Divisi Produk Konsumen dan Kosmetika, Divisi Manufaktur, dan Divisi Distribusi dengan menawarkan produk-produk berkualitas dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia.
Beberapa produk unggulan dari Tempo Scan, seperti bodrex, hemaviton, NEO rheumacyl, vidoran, Marina, dan My Baby terus menjadi pilihan yang melekat di hati masyarakat Indonesia dari tahun ke tahun.
Emiten berkode saham TSPC itu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,83% menjadi Rp1,69 triliun di sepanjang kuartal I/2014 yang ditopang dengan pertumbuhan penjualan segmen produk konsumsi dan kosmetik.
Divisi produk konsumsi dan kosmetik mencatatkan pertumbuhan sebanyak 11,8% menjadi Rp413,44 miliar dari sebelumnya sebanyak Rp370,06 miliar.
Pertumbuhan tertinggi selanjutnya disumbang oleh divisi distribusi sebesar 5,9% menjadi Rp792,4 miliar, sementara divisi farmasi tumbuh sebanyak 4,4% menjadi Rp492,9 miliar.
Rendahnya pertumbuhan di divisi farmasi tersebut dipicu penghentian produk minuman yang dianggap tidak sesuai untuk portofolio produk pada divisi farmasi di masa depan yang diberlakukan sejak kuartal IV/2013.
Sementara itu, pertumbuhan divisi distribusi dinilai telah pulih dibandingkan dengan kondisi pada akhir tahun lalu. Sejak awal tahun, penjualan divisi distribusi tumbuh 6%, dan masih memberikan kontribusi mayoritas terhadap penjualan konsolidasi perseroan sebanyak 46,6%. Adapun, divisi produk konsumsi dan kosmetik menyumbang 24,4%, sedangkan divisi farmasi menyumbang 29%.
Di sisi lain, laba kotor perseroan tumbuh 5,2% menjadi Rp677,2 miliar dengan margin laba kotor menurun menjadi 39,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 40,5%.
Pada tahun ini, perseroan yang dinakhodai oleh Handojo Selamet Muljadi itu menargetkan pertumbuhan kontribusi masing-masing divisi terhadap pendapatan perseroan, yaitu divisi farmasi ditargetkan dapat menyumbang minimal 30%, divisi produk konsumsi dan kosmetik di atas 25%, dan sisanya dari divisi distribusi.
Selain itu, di bagian manufaktur, perseroan juga menargetkan peningkatan kapasitas produksi yang dapat mendorong penjualan bersih. Di tahun ini, kapasitas produksi lotion ditingkatkan menjadi 21.000 ton dari 20.000 ton per 31 Desember 2013, perawatan mulut meningkat menjadi 1.000 ton dari 750 ton, dan kemasan plastik meningkat menjadi 213 juta unit dari 200 juta unit. Kapasitas produksi lipstik menjadi 7 juta unit, sabun 250 juta unit, dan pembersih rumah tangga menjadi 20.000 ton.
Adapun, sepanjang tahun lalu perseroan hanya mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 3,38% dari Rp6,63 triliun menjadi Rp6,85 triliun, dengan laba bersih tumbuh 1,06% dari Rp627,95 miliar menjadi Rp634,62 miliar. Hal tersebut disebabkan kondisi makro ekonomi Indonesia dan volatilitas nilai tukar rupiah yang tinggi.

PT Mustika Ratu Tbk (MRAT)

PT Mustika Ratu Tbk berdiri pada 1975. Pada awalnya, jamu yang diproduksi hanyalah lima macam, berserta beberapa kosmetika tradisional seperti lulur, mangir, bedak dingin, dan air mawar. Namun pada tahun berikutnya, penambahan karyawan dirasakan semakin perlu dan produk pun diperbanyak macamnya.
Pada 1978 produk-produk Mustika Ratu mulai didistribusikan ke toko-toko melalui salon-salon kecantikan yang meminta menjadi agen. Dimulai di Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan. Permintaanpun meningkat, hingga pada tahun 1980-an, perusahaan ini mulai mengembangkan berbagai jenis kosmetika tradisional.
Menanggapi meningkatnya permintaan dan terbatasnya kapasitas pegawainya, BRA Mooryati, sang pendiri, mengumpulkan dana untuk modal kerjanya. Dengan dana itu, maka pada 8 April 1981 diresmikanlah pendirian pabrik PT Mustika Ratu oleh Menteri Kesehatan pada waktu itu, Bapak dr. Soewardjono Soeryaningrat, dengan jumlah karyawan 150 orang.
Emiten kosmetik dengan kode saham MRAT dan dipimpin oleh Putri Kuswisnuwardani itu baru-baru ini menjajal sektor properti dan menargetkan bisnis baru tersebut dapat berkontribusi hingga 40% terhadap total pendapatan perseroan pada tahun depan.
Adalah proyek properti di lahan seluas 10,9 hektare di Cibitung itu yang diproyeksikan dapat mulai berkontribusi pada kuartal II/2015, seiring dengan proses pembangunan yang akan dimulai pada kuartal pertama tahun depan.
Saat ini proyek properti dengan nilai investasi Rp192,37 miliar tersebut tengah dalam tahap desain arsitektur, sedangkan tender konstruksi akan dilakukan di awal tahun depan dengan lama pembangunan sekitar dua tahun. Perseroan memperkirakan penjualan total unit properti akan mencapai Rp400 miliar.
Selain berharap dari proyek baru tersebut, perseroan tetap melecut kinerja dari produk-produk kosmetik dan menargetkan pendapatan pada tahun ini mencapai Rp700 miliar dengan laba sebesar Rp40 miliar.
Sepanjang tahun lalu, perseroan membukukan penurunan pendapatan hingga 21,84% menjadi Rp358 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp458 miliar. Oleh karena itu, bottom line juga ikut tertekan dan menyebabkan rugi bersih sebesar Rp6,7 miliar, padahal tahun sebelumnya dapat mencatatkan laba bersih sebesar Rp24,1 miliar.
Adapun, di triwulan pertama tahun ini, perseroan kembali mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,99 miliar meskipun lebih rendah 71% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp6,9 triliun. Sementara itu, pendapatan naik 6,8% dari Rp87,78 miliar menjadi Rp93,77 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Setyardi Widodo
Terkini