Karen Agustiawan, Perempuan Pertama Kendalikan Pertamina

Bisnis.com,18 Agt 2014, 12:17 WIB
Penulis: News Editor

Bisnis.com, JAKARTA -  Lima tahun pertama memimpin Pertamina, Karen Agustiawan membuktikan diri sebagai Srikandi Energi Indonesia.

Pada 3 Juni 2013, Menteri BUMN Dahlan Iskan meneken surat pengangkatan Karen Agustiawan sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) untuk periode kedua.

Ini peristiwa bersejarah karena belum pernah terjadi seorang dirut Pertamina bisa menjabat untuk periode kedua. Kebanyakan dirut sebelumnya malah tidak tuntas mengakhiri jabatan lima tahun pertama. Lebih bersejarah lagi, Karen adalah perempuan pertama di kursi dirut national oil and gas company itu.

Tentu bukan tanpa alasan pemerintah memberi kepercayaan besar kepada Karen. Sebagaimana bukan tanpa alasan Pandawa menunjuk Srikandi menjadi panglima di palagan Baratayuda.

Kocap Kacarita. Baratayuda baru memasuki hari keempat, kubu Pandawa sudah galau karena tiga panglima andalannya terbunuh. Yaitu Seta, Utara, dan Wratsangka.

Mereka terbunuh setelah bertempur gagah berani memporakporandakan tentara Kurawa. Namun keperkasaan mereka sirna ketika Resi Bisma Dewabrata tampil sebagai mahasenapati. Dia maju bukan demi Kurawa, tetapi demi tanah air yang sedang berperang menghadapi musuh.

Tubuh Bisma tak mempan ditembus senjata. Sebilah panah yang dia lepaskan bisa menjadi ribuan anak panah. Panahnya bisa berubah menjadi naga, menjadi singa, atau api menyala. Kocar-kacirlah pertahanan Pandawa.

Malam ketika pertempuran dihentikan untuk istirahat, Prabu Kresna mengumpulkan para pemuka Pandawa, mendiskusikan strategi menghentikan Bisma. Ada usul agar Kresna sendiri yang maju, tapi ditolak karena sesuai kesepakatan dia hanya boleh jadi penasihat.

Menjelang dini hari Kresna memanggil Arjuna dan istrinya Dewi Srikandi. Kendati lahir sebagai perempuan, sosok Srikandi tak ubahnya laki-laki. Dia menimba ilmu kanuragan dan olah keprajuritan. Ogah jadi kanca wingking, teman di belakang, dan berdiri sejajar dengan para satria pria untuk berjuang mewujudkan kemaslahatan dan kemajuan bangsa.

Kresna meyakinkan Arjuna, hanya Srikandi yang bisa diandalkan menghadapi Bisma. Dia punya keberanian untuk  untuk mengatasi persoalan.

Lima Tantangan

Dalam diri Srikandi menitis ruh Dewi Amba. Kekecewaan memaksa Amba mengucap supata kelak akan menjemput ajal Bisma.

Di hari kelima Baratayuda, Srikandi maju ke medan laga. Kresna berpesan, lima panah pertama akan sangat menentukan. Jika kelimanya berhasil menembus raga Bisma, untuk selanjutnya akan menjadi mudah.

Mengetahui yang maju adalah wanita, sadarlah Bisma bahwa ajalnya sudah tiba. Ketika keduanya saling menarik busur, Bisma hanya bisa terpaku. Anak panah Srikandi melesat menghunjam jantungnya. Namun Bisma masih berdiri tegak. Srikandi segera melesatkan panah kedua, ketiga, keempat, dan kelima.

Setelah lima panah menembus raganya, Bisma menghentikan perlawanan. Ia menjadi sasaran empuk ratusan panah yang dilepaskan Srikandi. Bisma pralaya, berpulang dengan tenang karena terbebas dari dosa di masa lalu.

Lima tahun pertama memimpin Pertamina, Karean Agustiawan membuktikan diri sebagai Srikandi Energi Indonesia. Salah satu prestasinya, tahun kemarin Pertamina membukukan laba Rp25,89 triliun. Kecil memang jika dibandingkan laba perusahaan minyak skala global. Tapi itu laba terbesar dalam sejarah Pertamina.

Tidak mudah untuk mencapai prestasi itu, karena Pertamina dihadapkan pada banyak keruwetan. Statusnya sebagai BUMN rentan intervensi, ditambah berbagai aturan dan birokrasi yang membuat geraknya tidak leluasa. Sesuatu yang tidak dihadapi perusahaan minyak swasta.

Di periode kedua ini, setidaknya ada lima persoalan yang menghadang:

*Pertama, terus merosotnya lifting minyak nasional hingga ke angka 800.000 barel per hari. Padahal pemerintah gembar-gembor mendongkrak lifting hingga 1 juta barel. Kemampuan Pertamina baru sekitar 150.000 barel per hari, harus bisa digenjot hingga mendekat 500 ribu barel. Sebuah tantangan yang tidak gampang.

*Kedua, sekitar 50% lifting minyak kita dihasilkan oleh The Big Six, enam perusahaan minyak asing besar. Mereka kini tengah galau akibat ketidakpastian regulasi dan legal infrastructure, dan sedang menimbang-nimbang untuk hengkang. Jika itu terjadi, tugas untuk menambal kekurangan produksi akan jadi beban berat Pertamina.

*Ketiga, Pertamina  dituntut untuk proaktif membangun ketahanan energi nasional. Gonjang-ganjing kenaikan harga BBM akhir-akhir ini tidak lain karena belum adanya kebijakan dan strategi energi yang tepat dan implementatif. Semuanya berputar-putar di wacana, sementara krisis sudah di depan mata.

Paparan yang disampaikan Karen pada seminar di Washington DC belum lama ini, cukup menjawab masalah itu. Periode kedua inilah saat tepat untuk mengimplementasikannya sehingga dia punya legacy di kancah energi nasional.

*Keempat, mandeknya proyek-proyek panas bumi. Wapres Boediono menyebut salah satu kendala adalah lemahnya koordinasi. Pertamina melalui Pertamina Geothermal harus menjadi yang terdepan dalam menghasilkan geothermal dalam jumlah signifikan. Ketergantungan pada BBM harus dikurangi melalui pengembangan energi terbarukan.

*Kelima, untuk itu semua Pertamina harus fokus pada agenda dan strategi yang dirancang dalam lansekap besar Transformasi Pertamina. Tida perlu tergoda dan ikut arus desakan pihak-pihak lain, misalnya untuk mengambil alih konsesi-konsesi perusahaan minyak asing yang sudah habis.

Lima hal itu butuh langkah tepat untuk mengatasinya. Sebagaimana lima anak panah pertama Srikandi, strategi yang tepat untuk memecahkan lima persoalan strategis itu akan memudahkan langkah Pertamina berikutnya, dalam mencapai visi perusahaan minyak dan gas berskala global.

Sebagaimana Pandawa butuh watak berani pada diri Srikandi, Pertamina butuh sosok CEO yang berani merumuskan kebijakan dan mengambil keputusan. Kata Menteri Dahlan Iskan, Karean Agustiawan adalah sosok yang tepat karena memiliki keberanian itu. Oye! (Rohmad Hadiwijoyo, Dalang Dan CEO RMI Group)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Yusran Yunus
Terkini