PENGETATAN MONETER: BI Tak Ragu Ambil Langkah Lebih Lanjut

Bisnis.com,31 Agt 2014, 19:27 WIB
Penulis: Sri Mas Sari
Kenaikan Fed funds rate ditambah dengan ketidakpercayaan investor dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang yang fundamental ekonominya lemah. /Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia akan mengambil langkah pengetatan moneter lebih lanjut jika pemerintah tidak bergegas melanjutkan reformasi struktural menjelang kenaikan suku bunga di Amerika Serikat tahun depan.

Gubernur BI Agus Martowardojo menyampaikan harus ada upaya konkret dari pemerintah untuk memperbaiki fundamental ekonomi Indonesia. BI tidak mungkin mengambil langkah sendirian dengan menerapkan kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran.

Instrumen itu memberi efek terbatas sehingga harus dibarengi dengan bauran kebijakan di sektor riil dan fiskal. Reformasi di sektor riil, a.l. mencakup penghiliran,  perbaikan infrastruktur, ketahanan pangan, manajemen energi, perizinan, dan kegiatan antikorupsi.

“Seandainya kita di sektor riil dan fiskal tidak optimal atau kita tidak bisa membangun confident dari dunia bahwa kita melakukan upaya untuk menjaga fundamental ekonomi kita, itu nanti terpaksa kami harus mengambil langkah-langkah yang lebih berat lagi untuk menjaga stabilitas sistem keuangan,” kata Agus, Jumat (29/8/2014).

Reformasi struktural, lanjutnya, mutlak dilakukan di tengah rencana percepatan penaikan suku bunga the Fed hingga lebih dari 100 basis poin pada semester I/2015 dari posisi ultrarendah saat ini 0%-0,25%.

Kenaikan Fed funds rate ditambah dengan ketidakpercayaan investor dapat memicu arus modal keluar dari negara berkembang yang fundamental ekonominya lemah.

Dia pun mengingatkan pemerintah untuk konsisten menjalankan kebijakan dalam rangka menyehatkan fundamental ekonomi dalam negeri. “Jangan misalnya kita mendorong hilirisasi, kemudian ada kebijakan yang tidak sejalan dengan hilirisasi,” ujar Agus.

Bank sentral sejak Juni 2013 menjalankan pengetatan moneter untuk memperbaiki performa transaksi berjalan dan merespons rencana rencana pengurangan (tapering off) stimulus moneter the Fed.

Pengumuman rencana tapering off ditambah respons negatif terhadap pengumuman defisit transaksi berjalan yang melebar saat itu sempat mengguncang pasar keuangan Indonesia. Dalam kurun lima bulan sejak Juni 2013, BI rate naik 175 basis poin menjadi 7,5% dan bertahan hingga kini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Fatkhul Maskur
Terkini