LPS: Risiko Perbankan Meningkat, Simak Analisanya

Bisnis.com,05 Apr 2015, 14:05 WIB
Penulis: Rivki Maulana
risiko industri perbankan meningkat/ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kendati masih dalam batas aman, risiko industri perbankan terus mengalami peningkatan, tercermin dari kenaikan Indeks Stabilitas Perbankan (ISP).

Dalam laporan bertajuk Laporan Analisis Stabilitas & Sistem Perbankan Triwulan I 2015 yang diterbitkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), ISP tercatat 100,63 pada Februari 2015, naik 53 basis poin dibandingkan dengan posisi Januari 2015.

Kenaikan ISP didorong oleh kenaikan sub indeks tekanan kredit, tekanan antarbank, dan tekanan pasar. Masing-masing sub indeks naik 46 bps, 112 bps, dan 36 bps.

LPS menyebut, tekanan kredit mengalami kenaikan karena per Desembrer 2014 likuiditas perbankan kian ketat, tercermin dari kenaikan loan to deposit ratio (LDR) menjadi 90,1%. Menurut LPS, pengetatatn likuiditas ini dipicu iklim suku bunga yang tinggi dan nilai tukar yang melemah.

Selain likuiditas, tekanan kredit juga muncul dari rasio kredit bermasalah yang mencapai 2,16% di akhir 2014. Rasio ini naik dibandingkan posisi akhir 2013 yang mencapai 1,7%.

Pengetatan likuiditas juga menyebabkan ekses dana perbankan berkurang sehingga penempatan ekses dana di pasar uang antarbank (PUAB) menurun. Per Desember 2014, penempatan antarbank riil turun menjadi Rp111,6 triliun dibandingkan dengan posisi November 214 sebesar Rp135,1 triliun. Imbasnya, tekanan antarbank pun meningkat sehingga indeks tekanan ini naik 112 bps.

Risiko perbankan juga meningkat karena tekanan pasar semakin kuat, dipicu faktor internal dan eksternal. LPS menyebut, tekanan pasar meningkat karena nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat terus melemah. Per Februari 2015 secara bulanan nilai Rupiah terkoreksi 1,9%.

Namun, tekanan terhadap nilai tukar masih bisa diimbangi oleh pergerakan harga saham. Hingga akhir Februari 2015, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih positif, menguat 3,3% secara bulanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Gita Arwana Cakti
Terkini