Bunga Kredit Bank Sulut Turun di Semua Sektor

Bisnis.com,09 Apr 2015, 18:15 WIB
Penulis: Lukas Hendra TM

Bisnis.com, MANADO - PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara (Bank Sulut) menurunkan tingkat suku bunga kredit di seluruh sektor. Langkah ini merupakan penyesuaian dengan turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia ke level 7,5% pada Januari 2015.
 
Direktur Utama Bank Sulut Johanis Ch Salibana mengungkapkan seluruh sektor baik kredit korporasi, kredit mikro, kredit ritel dan kredit konsumsi turun pada Kuartal I 2015.
 
Kredit korporasi misalnya mengalami penurunan bunga kredit yang paling besar yakni sebesar 291 basis poin (bps) ke level 13,75% dari sebelumnya 16,66%.

Sementara itu, kredit mikro mengalami penurunan 290 bps ke level 14,03% dari sebelumnya 16,93%. Tak hanya itu, kredit ritel juga mengalami penurunan bunga kredit 290 bps dari sebelumnya di posisi 16,93% ke level 14,03%.
 
“Suku bunga dasar kredit ini belum memperhitungkan komponen premi resiko yang besarnya tergantung dari penilaian bank terhadap masing-masing debitur,” katanya, Kamis (9/4).
 
Dengan demikian, lanjutnya, besarnya suku bunga kredit yang dikenakan kepada debitur belum tentu sama dengan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK).
 
Dia menambahkan khusus untuk kredit konsumsi, pihaknya juga menurunkan bunga kredit konsumsi baik untuk kredit pemilikan rumah (KPR) maupun non KPR dengan penurunan 290 bps.
 
Bank Sulut menurunkan kredit konsumsi KPR ke level 12,79% dari sebelumnya di posisi 15,69. Sementara untuk kredit konsumsi nonKPR turun ke level 14,03% dari sebelumnya 16,93%.
 
Bisnis mencatat, Bank Sulut berambisi menaikkan porsi penyaluran kredit produktif.

Pemimpin Divisi Perencanaan Bank Sulut Herry Oroh mengatakan bank tersebut berencana menambah alokasi kredit untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur terutama pembangunan jalan raya.
 
“Untuk proyek jalan tol, kami rencanakan akan ikut kredit sindikasi,” ujarnya.
 
Selain itu, potensi lain yang dinilai belum banyak tergarap oleh industri perbankan adalah pembiayaan di sektor maritim seperti armada kapal bertonase menengah dan kecil.

Pembiayaan kapal, tambahnya, dapat dikembangkan di wilayah perairan Sulut seperti Manado dan Bitung.
 
Dia menilai selama ini penyaluran kredit ke sektor maritim masih sangat terbatas karena dinilai berisiko tinggi.

Padahal, dengan skema pembiayaan yang tepat, kredit pembelian kapal sangat potensial untuk mengerek porsi kredit produktif sekaligus membantu para nelayan kecil.
 
“Dulu ada cukup banyak pembiayaan kapal. Sekarang akan dikembangkan lagi,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Rustam Agus
Terkini