EDUKASI DUIT: Tanpa Trimming, Orang Kaya Bisa Bertumbangan

Bisnis.com,21 Mei 2015, 05:45 WIB
Penulis: Goenardjoadi Goenawan
Goenardjoadi Goenawan. / Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA -- Saya sering mengatakan bahwa uang lahir dari relationship. Uang ada nominee-nya, di dalamnya tersemat nama pemiliknya. Itu sebab, secara fundamental untuk mendapatkan uang  kita harus lebih baik mengenal pola pikir orang yang memiliki uang. Langkah ini jauh lebih jitu ketimbang kita duduk menunggu duit jatuh seperti durian.

Harta orang kaya, tidak seperti bongkahan batu giok 20 ton yang diperebutkan ribuan orang yang bisa berujung pada baku hantam. Padahal si batu terasing di atas gunung.

Harta orang kaya lebih mirip satu pohon besar. Apa yang harus dilakukan pada pohon besar? Dinas pertamanan secara rutin akan memangkas dahan- dahan pada pohon-pohon besar. Mengapa? Sebab bila tidak dipangkas, pohon akan roboh.

Bila tidak di-trimming semua pohon di Jakarta bisa tumbang setiap hari. Penyebabnya, akar-akar pohon di DKI tidak berasal dari bibit tapi dari cangkok. Akibatnya kebanyakan pohon di DKI tidak memiliki akar tunjang yaitu akar yang menancap vertikal ke dalam tanah, tapi hanya memiliki akar horizontal yang tidak kuat.

Analogi pohon-pohon di jalan-jalan dan taman-taman Jakarta, seperti orang-orang kaya di Jakarta. Kita bisa menyaksikan orang kaya tumbang satu demi satu tiap hari bila tidak ditrimming.

Gambarannya begini:

  1. Ada orang kaya yang memiliki beberapa tanah atau aset properti. Di antara aset-aset itu pasti ada yang macet. Ada lho yang terjerat kredit KPR 12 rumah.
  2. Atau ada yang menunggak cicilan 3 rumah. Kok bisa begitu banyak? Ya begitulah adanya.
  3. Ada yang memiliki tanah di Ujung Kulon, di Cikotok. Nah Aneh kan, beli tanah di antah berantah

Pada dasarnya setiap orang kaya selalu membutuhkan solusi. Kebanyakan dahan pada kenyataanya bisa membuat pohon ambruk. Entah pohon itu dicangkok lagi atau tidak.

Dengan demikian berbahagialah bila Anda sekadar berhadapan dengan masalah kekurangan duit. Sebab solusinya hanya menghemat. Bila Anda tahu, masalah yang membelit orang-orang kaya jauh lebih kompleks, terjerat KPR Rp50 miliar, Anda pasti akan merasa beruntung.


Property Lesu, Ekonomi Sedang Suram?

Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) melaporkan pertumbuhan kuartal 4 tahun lalu ditambah kuartal 1 tahun ini terus melambat. Beberapa sektor industri menurun, termasuk property. Penjualan mobil bekas malah lebih redup lagi. Sementara itu, harga ruko di beberapa lokasi strategis, sudah turun. Apakah ini bisa mengarah ke situasi panic selling?

Bagaimana kita menyikapinya?

Pertama kita lihat secara fundamental. Kredit KPR mewakili hanya 5-15% total kredit bank. Dibandingkan pasar properti di negara maju, KPR bisa mencapai lebih dari 70% kredit bank, KPR kita jauh lebih kecil. Itu sebab, secara fundamental pasar properti Indonesia jauh dari crash atau stagnan.

Kedua, properti mengenal denyut, seperti denyut pada tahun 90-an yang melebar ke Bintaro, tahun 2000 memulai denyut di Serpong. Tahun 2010 kawasan Serpong melejit, tapi sekarang melambat. Denyut yang sekarang secara periode bisa lebih cepat, denyut pasar properti kini 3 tahunan.

Mengapa propertI begitu digemari? Ah sebenarnya tidak. Di saat high inflation lebih menguntungkan kita memiliki barang. Apapun bentuk barangnya, property, gedung, atau emas, maupun barang umum hingga plastik rongsokan, harganya cenderung naik. Pertimbangan ini didasari asumsi inflation dengan fundamental kuat. Maksudnya pasar uang cenderung stabil atau terkendali.

Ketiga, pindahkan semua pendanaan jangka pendek menjadi jangka panjang. Tanpa disadari banyak golongan menengah masuk daftar abu-abu BI. Ada checking merah hanya karena kartu kredit. Namun, kondisi ini bukan serta merta Anda di-black list untuk KPR. Beberapa bank memiliki kebijakan atau lending policy yang akurat tanpa melulu melihat BI checking.

Pasar di Indonesia sesungguhnya banyak memiliki anomali. Misalnya mengapa belanja expenditure masyarakat di Indonesia cenderung tinggi? Ini ciri-ciri masyarakat ekonomi menengah. Di negara maju komposisi expenditure atau belanja 30% sisanya sebagian besar untuk investment di CPF pension fund atau HDB high density building. Namun, meski di Indonesia expenditure bisa mencapai 70%, bukan berarti daya beli masyarakat tinggi. Sejatinya, ini efek gejala gaya hidup semata.

Oleh karena itu, saat ini beberapa sektor bisnis menggunakan indokator jumlah Carrefour, atau jumlah Mc Donald atau jumlah pengguna Blackberry. Untuk ketiga kategori ini Indonesia masuk Top 10 sedunia. Namun, bukan berarti daya beli mobil, apartment dan lain lain setinggi penjualan Blackberry.

Penulis:

Goenardjoadi Goenawan

Penulis 10 buku buku manajemen

Trainer dan konsultan mengenai membuka paradigma baru tentang uang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Setyardi Widodo
Terkini