Tamu Hotel Syariah di Bandung Tak Seramai Hotel Konvensional. Apa Penyebabnya?

Bisnis.com,22 Jun 2015, 21:34 WIB
Penulis: Redaksi
Hotel syariah/Ilustrasi-rajakamar.com

Bisnis.com, JAKARTA - Potensi bisnis hotel syariah di Kota Bandung cukup besar dan memiliki konsumen yang lebih loyal. Namun sayangnya, pengusaha masih enggan memasuki bisnis ini karena masih minimnya minat masyarakat.

“Peluang usahanya cukup besar. Tapi sayangnya belum banyak masyarakat mengerti mengenai perbedaan hotel syariah,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, Herman Muchtar.

Dia menjelaskan, pengusaha hotel syariah mesti berani mengambil resiko karena memperoleh untung yang kecil. Konsumen memilih hotel konvensional karena telah mengerti prosedurnya.

Standar hotel ini memang lebih profesional dibandingkan hotel konvensional lainnya. Misalnya, konsumen mesti diperlihatkan bukti sertifikat halal terkait makanan yang disediakan manajemen hotel.

Tak hanya itu, tamu lawan jenis pun tidak diperbolehkan menginap satu kamar tanpa keterangan menikah yang resmi.

Seharusnya, paparnya, Kementerian Pariwisata meningkatkan sosialisasi standar hotel ini agar masyarakat mengerti mengenai baiknya hotel syariah.

Sebenarnya, kata dia, hotel berstandar syariah saat ini tengah berkembang di daerah-daerah pariwisata. Di Jakarta dan Bali, hotel seperti itu mudah ditemukan.

Penampilan hotel syariah tak jauh berbeda dengan hotel lainnya. Seperti yang ditemui pada Hotel Rumah Tawa, Jalan Taman Cibuntut Selatan, Bandung. Sebelum memasukki hotel ini, pengunjung akan disambut dengan pengumuman ‘Tidak menerima check-in tamu pasangan non menikah’.

Pemilik Rumah Tawa, Pan Supandi, mengaku dalam segi pendapatan bisnisnya kalah dibandingkan hotel konvensional lainnya. “Karena hotel konvensional benar-benar mencari laba. Sementara kami masih memilih-milih konsumen,” katanya.

Selektif Terima Pengunjung

Semua pengunjung yang datang akan diperiksa kartu tanda penduduknya terlebih dulu. Jika mengaku suami-istri namun alamatnya berbeda, maka manajemen hotel akan menolaknya.

Terkadang, kata Pan, bawahannya pun kecolongan oleh pengunjungnya yang membawa pasangan lawan jenis. Terpaksa, petugas hotel akan menegur mereka dan meminta mereka pergi.

Meski memiliki peraturan yang ketat, Pan mengaku tak takut kehilangan pasar. “Kami sudah punya pasar sendiri. Semua pengunjung kami adalah orang baik-baik".

Dia menjelaskan, keuntungan yang dapat diambil bukan dari hasil sewa-menyewa kamar, melainkan hasil penambahan nilai aset. Pertama kali membeli lahan di Jalan Cibuntut Selatan, Bandung, ia merogoh kocek Rp 1,1 miliar. Sementara saat ini, kata dia, harga tanah itu bisa mencapai belasan miliaran rupiah.

Cara mereka melayani pengunjung pun sedikit berbeda dibanding hotel umum lainnya. Pengunjung dibiarkan untuk bertindak layaknya di rumah.

Misalnya, sejumlah tamunya memilih masak sendiri masakan mereka selama di hotel. Tamu-tamu langganan pun kerap membawa oleh-oleh dari kampung halamannya setiap mengunjungi Bandung. “Kami menciptakan persaudaraan yang baru,” katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Herlan J. Soemardi mengatakan keberadaan hotel syariah sejauh ini sudah diminati pelancong asing dan domestik di Kota Bandung. “Saya sangat mendukung keberadaan hotel ini. Hotel standar syariah adalah pilihan jika pengunjung bosan dengan hotel bergaya konvensional,” kata Herlan.

Herlan menjelaskan telah mencoba banyak hotel-hotel syariah di Indonesia. “Saya sangat suka. Karena hotel ini menciptakan suasana kekeluargaan,” ujarnya.

Meski menyukai, dia mengaku belum menyiapkan strategi apapun untuk meningkatkan pemasaran hotel syariah di Bandung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Yusran Yunus
Terkini