Kiat Siapkan Dana Pendidikan Anak

Bisnis.com,02 Okt 2015, 17:57 WIB
Penulis: Tisyrin Naufalty Tsani
Ilustrasi/Antara

Bisnis.com, JAKARTA- Hampir setiap orang tua berkeinginan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk soal pendidikan. Sayangnya, biaya pendidikan terus naik membuat sebagian orang tua kesulitan mewujudkannya. Namun, sebuah survei memperlihatkan keinginan itu tetap ada di tengah biaya yang melambung tinggi.

Survei The Value Education 2015: Learning of Life yang digagas HSBC mencatat, sebagian orang tua di Indonesia yaitu 47% mengakui pendidikan kini makin mahal, namun sebanyak 96% responden tetap ingin memberikan pendidikan setinggi mungkin bagi anak-anaknya.

Bagi para orangtua, standar minimal untuk pendidikan adalah Strata-1 (S1), sebanyak 67% malahan ingin anak-anaknya bisa ke jenjang S2 atau yang lebih tinggi. Sebanyak 87% responden bahkan akan mempertimbangkan anaknya menimba ilmu di luar negeri.

Survei memperlihatkan di kalangan keluarga muda, cara yang dianggap tepat untuk persiapan dana pendidikan bagi anak sejak TK hingga perguruan tinggi adalah menabung. Namun, 77% orangtua yang anaknya sedang belajar di perguruan tinggi justru tidak menggunakan tabungan. Contohnya, terdapat 24% orangtua yang anaknya tengah kuliah, merencanakan atau telah mendanai anaknya dengan utang atau pinjaman.

Konselor keuangan dan keluarga MONEYnLOVE Financial Planning & Consultant Andreas Freddy Pieloor tidak menyarankan untuk menabung jika bertujuan untuk pendidikan anak, karena inflasi dana pendidikan sangat besar jika dibandingkan imbal hasil yang diperoleh dari menabung.

Orang tua dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk membiayai pendidikan anaknya kelak dengan berinvestasi  Ada beberapa faktor yang menentukan dalam memilih instrumen investasi yang tepat untuk kuliah anak.

Pertama, waktu yang tersedia. Kapan dana dibutuhkan oleh anak? Contohnya anak baru berusia lima tahun, orang tua punya waktu 13 tahun untuk persiapan kuliahnya. Dalam jangka waktu tersebut, bisa memilih berinvestasi di properti dan saham.

“Semakin pendek waktu yang tersedia, maka instrumen investasi harus semakin konservatif dan likuid,” katanya kepada Bisnis.

Kedua, kemampuan mengumpulkan uang setiap bulannya. Jika orangtua memilih properti misalnya, tiap bulan perlu mengeluarkan uang cukup besar untuk membayar cicilan. Nah, ada pilihan instrumen investasi lainnya yang lebih ringan seperti reksadana saham. Jadi sesuaikan saja dengan kemampuan orang tua.

Ketiga, pengetahuan dan pengalaman orang tua.  “Jangan memasuki sebuah instrumen investasi yang kurang dipahami atau belum dipelajari,” katanya.

Orangtua yang tertarik berinvestasi pada saham, sebaiknya mengikuti kelas pelatihan terlebih dahulu. Selain saham, investasi yang lebih mudah pelaksanaannya yaitu properti, reksadana, atau logam mulia.

Freddy menyarankan, setiap anak punya investasi sendiri, karena harus ada penyesuaian dengan waktu yang tersedia. Jangan lupa untuk membeli asuransi jiwa bagi pencari nafkah. Jika ada hal-hal yang tak diinginkan, Uang Pertanggungan dari asuransi jiwa akan membantu menyelamatkan kebutuhan biaya pendidikan anak.

Idealnya, orangtua harus mempersiapkan biaya kuliah anak sedini mungkin. Setidaknya, paling telat orang tua harus mempersiapkannya sejak anak masuk Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Jadi ada waktu tiga tahun,” kata perencana keuangan Zelts Consulting Ahmad Gozali.

Ahmad lebih menyarankan memilih instrumen investasi jangka panjang seperti reksadana saham dan campuran. Jika orangtua masih menyenangi emas, tak masalah untuk memarkirkan uangnya di sana.

Menurut SVP & Head of Wealth Management HSBC Steven Suryana, apabila dipersiapkan sejak dini, orangtua akan mempunyai waktu yang lebih panjang. Dengan begitu, langkah-langkah yang sudah dilakukan orangtua dapat senantiasa dievaluasi, sehingga strategi selama mengumpulkan dana dapat disesuaikan hingga mencapai hasil maksimal.

Selain berinvestasi, alternatif lainnya orangtua juga bisa membeli asuransi pendidikan. Sementara untuk instrumen investasi, Steven mengatakan harus disesuaikan dengan profil resiko setiap orangtua. Jika orangtua punya waktu di atas 10 tahun misalnya, investasi pada reksadana saham atau campuran terbilang cocok. Meski resikonya tinggi, potensi imbal hasil keduanya menarik.

“Kalau orang tua punya waktu panjang, pilihan investasinya juga lebih beragam,” katanya usai sebuah acara yang diselenggarakan HSBC.

Perencanaan pendidikan anak untuk memasuki perguruan tinggi juga tak melulu soal dana saja. Orang tua setidaknya harus mengetahui pilihan jurusan yang sesuai untuk anak-anaknya. Pahamilah ketertarikan anak-anak, karena kerap apa yang anak-anak inginkan tak sesuai dengan apa yang orang tua inginkan. Jurusan tersebut akan menentukan dari segi biaya, begitupun lokasi pendidikan apakah cukup di dalam negeri atau di luar negeri.

Dengan begitu, orang tua akan punya gambaran lebih baik estimasi biaya pendidikannya. Dalam menghitungnya, juga perlu memasukan faktor inflasi yang terjadi selama orang tua mempersiapkan biaya tersebut dalam jangka waktu tertentu.

Survei pun memperlihatkan, 31% orangtua di Indonesia masih mendambakan anak-anaknya kuliah di jurusan kedokteran. Jurusan idaman selanjutnya adalah Teknik Informatika yang dipilih oleh 11% responden dan Teknik yang dipilih oleh 10% responden.

Lalu apa tujuan orangtua memberikan pendidikan tinggi? Alasan yang mengemuka di antaranya, 95% orangtua berharap anak-anaknya mandiri, 30% orangtua berharap pendidikan menjadikan anaknya menikmati hidup, dan 29% orangtua bertujuan memaksimalkan potensi yang dimiliki anaknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Andhina Wulandari
Terkini