KONSOLIDASI BANK BUMN: Bos BRI Beri Restu Holding

Bisnis.com,18 Feb 2016, 04:09 WIB
Penulis: Sukirno
Rencana konsolidasi perbankan pelat merah berupa investment holding di bawah PT Danareksa (Persero), disetujui oleh bankir bank badan usaha milik negara, tanpa menghilangkan entitas bisnis masing-masing, termasuk bos PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk./Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Rencana konsolidasi perbankan pelat merah berupa investment holding di bawah PT Danareksa (Persero), disetujui oleh bankir bank badan usaha milik negara, tanpa menghilangkan entitas bisnis masing-masing, termasuk bos PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.

Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo menuturkan skema penggabungan bank BUMN akan dilakukan melalui holding company yang ditunjuk oleh pemerintah. Masing-masing perusahaan masih berdiri sebagai entitas bisnis di bawah holding tersebut.

Dia menilai, investment holding akan menjadikan operasional bank pelat merah kian efisien. Langkah pertama sinergi yang dilakukan melalui e-channel dengan menggabungkan operasional anjungan tunai mandiri (ATM).

Tahun ini, 4 bank BUMN berencana menggabungkan 800 jaringan ATM dari tahun lalu hanya 50 jaringan. Penggabungan ATM diklaim dapat menghemat Rp6,8 triliun per tahun dan Rp7,3 triliun bagi ongkos transaksi nasabah.

"Sekarang satu tempat ada 2-3 ATM, kalau cukup satu, ATM yang lain bisa dipindah ke wilayah yang lebih membutuhkan," katanya kepada Bisnis.com,  Rabu (17/2/2016).

Tidak hanya ATM, sambungnya, peleburan bank BUMN ke dalam sebuah holding juga dapat dilakukan dengan menyamakan platform teknologi informasi, serta standardisasi layanan.

Bagi BRI, keuntungan menjadi holding adalah optimalisasi ekuitas, operasional, hingga jangkauan ekspansi. Peleburan itu dapat menjadikan perbankan BUMN memiliki permodalan yang kuat untuk bersaing menghadapi era masyarakat ekonomi Asean (MEA).

Kendati demikian, erap MEA juga membuka potensi bagi bank luar negeri, terutama Asean untuk menggarap besarnya potensi pasar di Indonesia. Bank-bank pelat merah berhadap adanya azas resiprokal terutama dari negara-negara di Asean dengan potensi sektor keuangan yang besar.

"Untuk ekspansi ke luar negeri butuh aset dan modal yang besar, misalnya mau masuk Vietnam, maka hanya satu bank akan lebih efektif dan efisien," paparnya.

Menurut dia, investment holding tersebut tidak mengubah struktur pemegang saham bagi empat bank yang telah tercatat di PT Bursa Efek Indonesia. Layaknya investment company Temasek Holdings di Singapura dengan portofolio US$266 miliar, Danareksa akan menjadi induk holding dan bank-bank persero bakal menjadi anak usaha.

Pengalaman meleburkan perusahaan milik pemerintah, katanya, telah dilakukan pada BUMN Pupuk, Semen, dan Perkebunan. Holding bank BUMN menjadi tahap awal untuk selanjutnya meminta persetujuan dari pemegang saham publik melalui rapat umum pemegang saham (RUPS).

Sementara itu, Ketua Himpunan bank-bank milik negara (Himbara) Asmawi Syam yang juga direktur utama BRI belum menjawab telepon dan pesan singkat yang dikirimkan oleh Bisnis terkait rencana pembentukan holding bank BUMN.

Kementerian BUMN kembali berencana untuk menggabungkan empat bank BUMN listed bersama dengan dua perusahaan pelat merah lainnya di bawah PT Danareksa (Persero).

Empat emiten bank BUMN a.l. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Kemudian, dua BUMN lain adalah PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) dan PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero).

Targetnya, pemerintah akan merealisasikan roadmap investment holding bank BUMN pada 2018. Bila dilebur, total aset ketujuh perusahaan persero itu mencapai Rp2.477 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Martin Sihombing
Terkini