Laba RNI Diperkirakan Tak Capai Target

Bisnis.com,19 Agt 2016, 08:06 WIB
Penulis: Sri Mas Sari
Gula/Ilustrasi

Bisnis.com, MANADO -- Laba bersih PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI hingga akhir tahun diperkirakan di bawah target Rp75 miliar akibat penurunan produksi gula dan pembengkakan rugi anak usaha. 

 
Direktur Utama PT RNI Didik Prasetyo mengestimasi laba tahun ini hanya akan berkisar Rp20 miliar-Rp25 miliar, jauh di bawah perolehan tahun lalu Rp69 miliar. Produksi gula kristal putih yang diperkirakan turun menjadi 288.900 ton dari realisasi tahun lalu 316.000 ton akibat musim kemarau basah menjadi salah satu penyebab.
 
Penurunan produksi bahan pemanis itu membuat kontribusi unit bisnis industri gula diprediksi turun dari 35% menjadi 30% terhadap laba konsolidasi. Tahun lalu, 9 pabrik gula milik BUMN itu menghasilkan laba Rp120 miliar.
 
"Tahun ini enggak akan sampai. Separuhnya pun berat," ungkap Didik di sela-sela kegiatan BUMN Hadir Untuk Negeri di Manado.
 
Kewajiban RNI menyetor seluruh produksi gula kepada Bulog dengan harga Rp10.900 per kg turut memangkas marjin, yang pada gilirannya menggerus laba perseroan. Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo memerintahkan seluruh produksi gula milik PTPN dan RNI tahun ini diserahkan ke Bulog untuk menstabilkan harga komoditas itu pada level Rp12.500 per kg di tingkat konsumen.
 
"Karena gula kami harus dijual ke Bulog, kami tidak bisa manfaatkan kondisi harga gula yang tinggi. Tapi, itu tidak harus disesali karena memang tugas BUMN," ungkap Didik. 
 
Di sisi lain, rugi anak perusahaan terus membengkak. PT Perkebunan Mitra Ogan, anak usaha yang memproduksi CPO dan karet, diperkirakan membukukan rugi bersih Rp130 miliar, melesat dari realisasi rugi tahun lalu Rp63 miliar. Produktivitas tandan buah segar yang kian turun, dari 12 ton pada 2014 menjadi 10 ton per hektare, memicu kerugian lebih besar.
 
Induk usaha, kata Didik, sedang berupaya memperbaiki kinerja Mitra Ogan, a.l. dengan mengganti tim manajemen lama dengan orang-orang yang memahami teknis perkebunan sawit dan karet serta keuangan perusahaan. 
 
Dari sisi keuangan, RNI sedang mengupayakan restrukturisasi utang Mitra Ogan yang mencapai Rp900 miliar. Penjadwalan ulang pembayaran sebagian utang Mitra Ogan kepada BRI yang jatuh tempo 2017 saat ini sedang dibicarakan. Sebagian utang lainnya kepada bank pelat merah itu akan diambil alih oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).
 
Sementara itu, untuk mengompensasi penurunan laba unit bisnis industri gula dan pembengkakan kerugian unit bisnis perkebunan, RNI berupaya mengerek laba lini bisnis industri farmasi dan alat kesehatan serta perdagangan.
 
PT Phapros Tbk., anak perusahaan yang bergerak di bidang industri farmasi dan alat kesehatan, diproyeksi mengantongi laba Rp100 miliar tahun ini, naik dari perolehan tahun lalu Rp83,1 miliar. Kenaikan itu akan diusahakan dengan efisiensi beban pokok penjualan dan memacu penjualan obat bebas (over the counter).
 
Anak usaha di bidang perdagangan, PT Rajawali Nusindo, akan diupayakan menyumbang laba Rp30 miliar alias lima kali lipat dari pencapaian tahun lalu yang hanya Rp6 miliar. Upaya yang dilakukan a.l. dengan memusatkan pengadaan seluruh kebutuhan RNI --termasuk kebutuhan anak-anak perusahaan-- pada Nusindo.
 
"Jadi, semua kebutuhan anak perusahaan RNI Group yang masok harus Nusindo. Dulu kan pabrik gula butuh pupuk, Nusindo ikut tender. Kadang menang, kadang kalah," jelas Didik.
 
Tahun lalu, RNI membukukan laba bersih konsolidasi Rp69 miliar setelah sempat menderita rugi Rp330,5 miliar tahun sebelumnya. Sebagian besar laba perusahaan ditopang oleh industri gula. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Mia Chitra Dinisari
Terkini