Biaya Admin Tabungan Kerap Dikeluhkan, Jokowi ke Perbankan: Tolong ya?

Bisnis.com,31 Okt 2016, 11:59 WIB
Penulis: Lukas Hendra TM
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo meminta kepada pelaku industri jasa keuangan khususnya pelaku industri perbankan untuk meninjau kembali kebijakan biaya administrasi yang dikenakan pada produk tabungan.

Dalam sambutannya, Presiden mengimbau kepada para petinggi industri perbankan bahwa masyarakat masih banyak mengeluhkan soal masalah yang berkaitan dengan biaya tabungan atau biaya administrasi yang dikenakan.

"Saya titip kepada seluruh pimpinan bank, yang saya melihat masih ada keluhan adalah masalah yang berkaitan dengan biaya tabungan. Kadang-kadang kalau tabungan kita kecil, kita tidak isi lagi, tahu-tahu tabungan kita habis karena tergerus oleh biaya perbankan. Jadi ini tolong khusus yang tabungan," kata Presiden di Jakarta Convention Centre, Senin (31/10/2016).

Padahal, lanjut Presiden, saat ini rasio porsi tabungan terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita masih sangat rendah, masih kurang lebih 20%, padahal idealnya adalah 32%. Sementara itu, tingkat kepemilikan rekening juga masih rendah masih sebatas 19% dari total penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun.

Jokowi, sapaan akrab Presiden Joko Widodo, mengungkapkan jika semuanya masih sangat bisa dikembangkan. Pasalnya, potensi tabungan kelompok pelajar saja mencapai 44 juta siswa, kelompok mahasiswa dan pemuda juga berjumlah sekitar 55 juta orang.

"Tentunya ini bisa menjadi target penghimpunan dana yang masih cukup potensial. Dengan memulai kebiasaan menabung sejak dini melalui simpanan pelajar kita akan turut menanamkan kebiasaan produktif dan kebiasaan untuk selalu merencanakan masa depan dan dimulai dengan memiliki tabungan. Rajin menabung dan rajin berinvestasi," katanya.

Di sisi lain, Presiden menekankan pentingnya menabung karena pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukur dari tingkat investasi dan tingkat tabungan masyarakat.

Menururnya, semakin tinggi tingkat tabungan masyarakat di suatu negara tentunya akan menggerakkan perekonomian roda perekonomian melalui tersedianya dana yang dapat disalurkan guna investasi di sektor riil maupun di sektor keuangan.

"Kita harus menyadari bahwa jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta adalah kekuatan. Ini adalah kekuatan. Dengan pendudk sebesar itu, kita tidak ingin hanya menjadi konsumen, kita tidak ingin Hanya Jadi pasar. Tetapi menjadi sebuah kekuatan produktif memiliki etos kerja yang tinggi dan aktif menggerakkan perekonomian kita," ujarnya.

Lukas Hendra/LHT
Gerakan Nasional Menabung
Biaya Admin Tabungan Disoalkan
JAKARTA - Presiden Joko Widodo meminta kepada pelaku industri jasa keuangan khususnya pelaku industri perbankan untuk meninjau kembali kebijakan biaya administrasi yang dikenakan pada produk tabungan.
Dalam sambutannya, Presiden menghimbau kepada para petinggi industri perbankan bahwa masyarakat masih banyak mengeluhkan soal masalah yang berkaitan dengan biaya tabungan atau biaya administrasi yang dikenakan.
"Saya titip kepada seluruh pimpinan bank, yang saya melihat masih ada keluhan adalah masalah yang berkaitan dengan biaya tabungan. Kadang-kadang kalau tabungan kita kecil, kita tidak isi lagi, tahu-tahu tabungan kita habis karena tergerus oleh biaya perbankan. Jadi ini tolong khusus yang tabungan," kata Presiden di Jakarta Convention Centre, Senin (31/10/2016).
Padahal, lanjut Presiden, saat ini rasio porsi tabungan terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita masih sangat rendah, masih kurang lebih 20, padahal idealnya adalah 32%. Sementara, tingkat kepemilikan rekening juga masih rendah masih sebatas 19% dari total penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun.
Jokowi, sapaan akrab Presiden Joko Widodo, mengungkapkan jika semuanya masih sangat bisa dikembangkan. Pasalnya, potensi tabungan kelompok pelajar saja mencapai 44 juta siswa, kelompok mahasiswa dan pemuda juga berjumlah sekitar 55 juta orang.
"Tentunya ini bisa menjadi target penghimpunan dana yang masih cukup potensial. Dengan memulai kebiasaan menabung sejak dini melalui simpanan pelajar kita akan turut menanamkan kebiasaan produktif dan kebiasaan untuk selalu merencana kan masa depan semua perlu direncanakan dan dimulai dengan memiliki tabungan. Rajin menabung dan rajin berinvestasi," katanya.
Di sisi lain, Presiden menekankan pentingnya menabung karena pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat diukur dari tingkat investasi dan tingkat tabungan masyarakat. Menururnya, semakin tinggi tingkat tabungan masyarakat di suatu negara tentunya akan menggerakkan perekonomian roda perekonomian melalui tersedianya dana yang dapat disalurkan guna investasi di sektor riil maupun di sektor keuangan.
" Kita harus menyadari bahwa jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta adalah kekuatan. Ini adalah kekuatan. Dengan pendudk sebesar itu, kita tidak ingin hanya menjadi konsumen, kita tidak ingin Hanya Jadi pasar. Tetapi menjadi sebuah kekuatan produktif memiliki etos kerja yang tinggi dan aktif menggerakkan perekonomian kita," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Yusuf Waluyo Jati
Terkini