Belajar dari Krisis

Bisnis.com,15 Apr 2017, 11:24 WIB
Penulis: Dini Hariyanti
Ilustrasi/www.udku.com.au

Bisnis.com, JAKARTA - Masa-masa sulit selayaknya dapat menyisakan pelajaran berharga tidak hanya bagi seseorang melainkan pula bagi suatu institusi bisnis. Demikian yang terjadi pada industri perbankan Korea Selatan dan (semestinya pula) bagi bank-bank di dalam negeri tatkala menghadapi krisis.

Kinerja perbankan domestik di Korea Selatan yang melemah tidak lantas membuat bank patas arang. Mereka putar otak untuk tetap melanjutkan karirnya dan terbukalah jalan untuk ekspansi ke luar negeri terutama ke Asean.

Chairman Korea Federation of Banks Yung-Ku Ha bertutur sedikit banyak tentang sepak terjang perbankan Korsel dalam upaya melebarkan sayap ke Asia Tenggara khususnya Indonesia. Simak petikan wawancaranya berikut ini.

Bagaimana pendapat Anda saat membandingkan kinerja bank-bank di Korea dengan bank di Indonesia?

Di Korea Selatan terutama setelah krisis global 2007 – 2008, kinerja perbankan di Korea menurun. Oleh karena itu, mereka melihat justru lebih berpeluang untuk melebarkan sayap ke luar negeri terutama memasuki pasar-pasar emerging market, seperti Indonesia, Vietnam, Filipina, atau Thailand. Negara yang dibidik terutama negara yang memiliki hubungan dagang [maupun bilateral] baik dengan Korea Selatan. Adapun Indonesia sendiri potensial karena merupakan pasar terbesar di Asean dari segi GDP juga serta populasi penduduknya terbanyak.

Bagaimana dengan negara-negara lainnya?

Para bank-bank Korea Selatan juga melihat Vietnam, Filipina, Kamboja, dan Myanmar. Paling banyak mereka tertarik kepada negarapnegara di Asiean. Asean itu top prioritas selain juga mempertimbangkan China.

Bank Korea Selatan mana lagi yang akan masuk ke Indonesia?

Saat ini bank Korea Selatan yang sudah ada di Indonesia, seperti KEB, Woori, Apro, dan Shinhan. Kemungkinan nanti juga KB Kookmin Bank, salah satu yang terbesar di Korea Selatan.

Mereka [KB Kookmin] akan membeli bank lokal atau bagaimana?

Saya dengar ada dua cara, pertama mereka mendirikan subsidiary di Indoensia atau membeli bank lokal. Tapi saya tidak bisa bicara lebih spesifik tentang bisnis mereka. Yang pasti, bank-bank Korea tertarik untuk masuk ke Indonesia.

Saat ini terdapat gap antara populasi bank Korea di Indonesia dengan bank Indonesia di Korea, apakah perlu diterapkan skema resiprokal untuk itu?

Pada dasarnya, bank-bank asing bisa membuka branch tetapi di Indonesia tidak diizinkan untuk membuka branch. Tapi di korea bagi bank-bank asal Inndonesia untukk membuka branch, kami sangat terbuka. Saat ini baru ada satu bank Indonesia di Korea Selatan yaitu BNI. Kami terbuka menyambut lebih banyak Indonesia hadir di Korea Selatan.

Ada yang membuat bank-bank asal Korea bisnisnya bisa tumbuh dengan baik di Indonesia?

Kami memiliki hubungan dagang terbesar ketiga dengan Indonesia, setelah Jepang dan Singapura. Pada saat yang sama ada banyak orang Korea yang mendatangi Indonesia baik untuk bisnis maupun untuk berwisata misalnya ke Bali. Pada dasarnya, perbankan dan pertumbuhan ekonomi berhubungan sejalan. Kami yakin bisa menjalinkan kerja sama yang baik antara bank-bank dari Korea dan dari Indonesia.

Dari pengamatan Anda, apa perbedaan antara penerapan supervisi terhadap bank di Korea dan di Indonesia?

Supervisi perbankan dilakukan ketat di Korea Selatan. Saya rasa mirip antara supervisi bank di Korea dan di Indonesia terutama setelah terimbas krisis. Ada bank sentral yang fokus menangani bank. Kita sama-sama belajar dari krisis. Dan kalau di Korea lebih tegas dalam melaksanakan ketentuan Basel III.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Mia Chitra Dinisari
Terkini