BOJ Pertahankan Stimulus Moneter, Target Inflasi 2% Molor 1 Tahun

Bisnis.com,20 Jul 2017, 15:13 WIB
Penulis: Renat Sofie Andriani
Bank of Japan/REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA – Bank of Japan (BOJ) terus mempertahankan program stimulus moneternya serta menekan proyeksi waktu untuk mencapai inflasi 2% untuk yang keenam kalinya.

Seperti dilansir Bloomberg hari ini, Kamis (20/7/2017), bank sentral Jepang tersebut berkomitmen mempertahankan program pengendalian kurva imbal hasil dan pembelian aset, seperti yang telah diprediksi oleh seluruh 43 ekonom dalam survei Bloomberg.

BOJ memperkirakan bisa mencapai target inflasinya sebesar 2% sekitar tahun fiskal yang dimulai bulan April 2019, satu tahun lebih lama dari pada proyeksi sebelumnya. BOJ juga mengurangi perkiraan harga untuk tahun fiskal berjalan dan berikutnya.

Perubahan tersebut menggarisbawahi lambannya progres BOJ menuju target harga pada saat bank sentral utama lainnya beralih ke arah normalisasi kebijakan moneter mereka setelah bertahun-tahun melancarkan stimulus.

European Central Bank (ECB), yang sebelumnya disebut mencermati opsi untuk mengurangi pelonggaran kuantitatif, akan mengakhiri pertemuan kebijakannya malam ini waktu setempat.

“BOJ telah beberapa kali mendorong keluar timeline-nya. Empat tahun telah berlalu dan masih tidak ada tanda naiknya tingkat inflasi,” ujar Masaaki Kanno, kepala ekonom di Sony Financial Holdings Inc. yang juga mantan pejabat BOJ.

Kanno mengingatkan bahwa BOJ berisiko mengeringkan pasar obligasi pemerintah Jepang sebelum mencapai tujuan harga.

Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda dijadwalkan akan menggelar konferensi pers pada pukul 3.30 sore waktu Tokyo (petang WIB). Kuroda diperkirakan akan menjelaskan seputar perkiraan dan progres program moneternya.

Ia juga bisa menyoroti ekspansi ekonomi saat ini dan kondisi pasar tenaga kerja yang paling ketat dalam beberapa dasawarsa, untuk membantu mendorong inflasi lebih tinggi.

Sementara itu, BOJ dapat menghadapi pertanyaan tentang keberlanjutan program pelonggarannya, berikut tekanan untuk menjelaskan kapan dan dalam kondisi apa akan mulai keluar dari kebijakan itu.

Pembelian aset BOJ, terutama obligasi pemerintah Jepang, telah membengkakkan neracanya. Sejumlah pejabat BOJ pun semakin khawatir tentang keberlanjutan pembelian dana yang diperdagangkan di bursa (exchange traded fund/ETF).

Kuroda sebelumnya memiliki target mencapai inflasi 2% dalam waktu sekitar dua tahun ketika dia meluncurkan stimulus yang belum pernah terjadi sebelumnya pada bulan April 2013.

“Kemungkinan besar Kuroda tidak akan melihat inflasi mendekati targetnya pada saat masa jabatannya berakhir pada bulan April tahun depan. Perusahaan Jepang tidak memiliki cukup keyakinan untuk menaikkan harga setelah beberapa dekade mengalami stagnasi,” ujar Hiroshi Watanabe, seorang ekonom di Sony Financial Holdings Inc.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Fajar Sidik
Terkini