EDUKASI DUIT: Jadi Pedagang pun Ada Strateginya

Bisnis.com,14 Sep 2017, 11:47 WIB
Penulis: News Editor
Goenardjoadi Goenawan. / Bisnis-swi

Bisnis.com, JAKARTA — Dalam benak Anda tentu pernah sesekali terlintas ingin punya usaha sendiri, apalah itu berdagang atau punya usaha sampingan lainnya. Tetapi, pada kenyataannya yang jadi pedagang sedikit. Kenapa?

1. Menjadi pedagang itu bukan orientasi profit. Sementara itu, ada pedagang yang berpikir caranya profit dan oportunis. Misalnya ambil panen mangga dijual di jalan raya pakai mobil pick up. Jual roti buka gerai di rumahan. Basis perdagangannya cash.

Perdagangan cash itu hanya mencakup 15% total pasar selebihnya 85% kredit.

2. Di lain sisi, ada pedagang yang berorientasi pada kredit dan trust. Coba cek pasar tradisional di desa-desa, mereka kalah lawan minimarket. Kenapa? Minimarket dapat kredit. Stok dagangan banyak dipajang bebas. Pedagang di bawah bayar cash.

3. Ketika pedagang memperoleh kredit akibatnya mereka memiliki aset agunan. Aset agunan inilah yang menjadi senjata ekonomi kapitalisme. Karena dengan memiliki aset agunan maka biaya bunga bank yang dibebankan kepada mereka 10 kali lipat lebih rendah.

Rata rata biaya bunga efektif yang dibebankan kepada pedagang kecil adalah 70% per bulan. Ini kenyataan.

Muncul pertanyaan, bukannya ada kredit usaha rakyat? Tetap saja selama pedagang kecil tidak memperoleh akses kredit kepada suplier maka risiko dagang sangat besar.

Coba cek cara dagang kurma dan madu terkenal dari Saudi yang banyak dikenal sebagai toko oleh-oleh umrah. Jalur perdagangan mereka cash. Coba tanyakan kepada pedagang toko di Tanah Abang, mayoritas mendapatkan barang secara tunai.

Inilah yang membedakan dibandingkan dengan jalur perdagangan distributor dan toko grosir yang banyak disebut toko palen P&D sejak zaman dulu disebut toko grosir palen dan dagang mulai dari beras palawija hingga makanan. Mayoritas jalur perdagangan mereka kredit.

Kenapa mereka kok bisa dapat kredit? Nah inilah budaya yang ditanamkan, reputasi mereka dibangun sejak dini ketika mereka mulai mewarisi network kredit suplier dari orang tuanya. Oleh karena itu di antara keluarga mereka ada budaya #menghormati_orang_tua. Budaya ini sedikit berbeda dibandingkan negara maju di Amerika dll.

Penulis:

Ir Goenardjoadi Goenawan MM

Penulis buku seri "Money Intelligent", e-book "Hidup adalah Pemekaran Berkah"

Dapatkan e-book "Kekuasaan adalah Key Driving Force Uang" ptangsanadwitunggal@gmail.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Stefanus Arief Setiaji
Terkini