Mampukah BRI Mengejar BCA?

Bisnis.com,27 Sep 2017, 16:29 WIB
Penulis: Ropesta Sitorus
Petugas Layanan Prioritas Bank BRI sedang melayani nasabah

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. siap mengejar kapitalisasi saham PT Bank Central Asia Tbk. dengan melakukan pemecahan nilai nominal saham atau stock split untuk mendorong transaksi di lantai bursa lebih likuid.

Stock split emiten bersandi saham BBRI tersebut akan dilakukan dari nilai nominal semula Rp250 menjadi Rp50 per saham atau rasio pemecahan 1:5. Aksi tersebut rencananya akan diresmikan lewat rapat umum pemegang saham luar biasa pada Rabu (18/10).

Direktur Utama BBRI Suprajarto berharap dengan adanya pemecahan nilai nominal tersebut, harga saham perseroan menjadi lebih murah sehingga lebih terjangkau oleh investor ritel dan investor kecil.

Apalagi, sambungnya, harga saham BBRI saat ini terbilang tinggi. Padahal, saat ini sudah banyak masyarakat yang menjadi investor di pasar saham kendati dengan nilai nominal kecil.

"Kami harap dengan pemecahan ini, saham BBRI bisa lebih lepas dan bisa dinikmati oleh investor ritel kecil-kecil yang notabene adalah rakyat, tidak hanya [investor] gede," ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (26/9).

Setelah stock split, saham BBRI diperkirakan menjadi Rp3.000-an dari saat ini sekitar Rp15.000-an. Seiring dengan meningkatnya transaksi di pasar saham, total kapitalisasi BBRI juga diproyeksikan terus meningkat di waktu yang akan datang.

Bahkan, tak tertutup peluang dapat menyalib kapitalisasi saham BBCA yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di pasar. "Ya kami pengen-nya kan seperti itu, tetapi ini masih kami kaji lebih dalam lagi," kata Suprajarto.

Corporate Secretary Bank BRI Hari Siaga Amijarso menambahkan, beberapa pertimbangan perseroan melakukan stock split adalah semakin banyak investor ritel, terutama dari domestik, diharapkan dapat memberikan keseimbangan harga saham BBRI.

"Dengan jumlah saham yang lebih tinggi serta harga saham yang lebih rendah (bukan valuasi) juga akan meningkatkan fleksibilitas bagi BRI untuk melakukan berbagai aksi korporasi ke depannya."

Pada penutupan perdagangan Selasa (26/9), harga saham BBRI tercatat sebesar Rp15.675 per saham.

Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan harga saham bank pelat merah lainnya, seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. senilai Rp6.550 per saham maupun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. senilai Rp7.400 per saham. 

Akan tetapi, harga saham BBRI masih lebih rendah dibandingkan dengan harga saham BBCA yang ada di level Rp19.650 per saham.

Mengacu pada data Bloomberg, kapitalisasi saham BBCA ada di level Rp484,47 triliun, sedangkan kapitalisasi pasar BBRI tercatat masih di level Rp383,6 triliun.

Dengan BBRI melakukan stock split 1:5, jumlah saham beredar akan bertambah lima kali lipat dari saat ini 10,669 miliar menjadi sekitar 53,345 miliar saham.  Adapun jumlah saham beredar BBCA saat ini 10,613 miliar.

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menyatakan pemecahan saham BBRI akan membuat nilainya menjadi lebih menarik bagi investor.

"Asumsinya dengan harga sekarang, price per book value sudah di 2,55 kali, sedangkan perbankan rata-rata1,68 kali, jadi secara rasio terlihat BBRI lebih tinggi dari industrinya sehingga menjadi kurang menarik. Dengan stock split, maka nilainya akan lebih menarik," ujarnya.

Namun, ungkapnya, dari sisi kapitalisasi BBCA masih akan lebih unggul dibandingkan dengan BBRI. "Kapitalisasi pasar sih akan tetap [BBCA], karena dari sisi harga saja sudah beda," tuturnya.

Akhir pekan lalu, BBCA bertengger di puncak klasemen emiten berkapitalisasi pasar tertinggi setelah naik 825 poin atau 4,33% ke level Rp19.875 per saham.

Kapitalisasi pasar BBCA naik hingga Rp25 triliun menjadi Rp490 triliun atau setara US$37,69 miliar dari posisi sebelumnya Rp465 triliun.

BBCA, yang saat ini harga sahamnya tertinggi dibandingkan bank-bank lain, telah melakukan stock split sebanyak tiga kali yakni pada 14 Mei 2001, 8 Juni 2004, dan 28 Januari 2008. BRI sendiri juga telah melakukan stock split pada 11 Januari 2011.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hendri Tri Widi Asworo
Terkini