Penurunan Bunga Kredit Tersandera Deposan Kakap

Bisnis.com,26 Okt 2017, 10:39 WIB
Penulis: Surya Rianto
Bunga Kredit. /Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Bankir mengklaim penurunan bunga kredit masih terganjal oleh tingginya suku bunga deposito spesial atau special rate yang diminta oleh deposan atau penabung. Akibatnya transmisi kebijakan moneter terhenti pada penurunan suku bunga simpanan.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, memang tantangan saat ini adalah menurunkan suku bunga deposito special rate. Seperti, di perseroan, posisi bunga deposito spesial itu masih ada dikisaran 6%.

Seharusnya, deposito special rate itu bisa mendekati posisi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang saat berada pada kisaran 4,25%.

“Untuk itu, ekosistem persaingan deposito pun harus dibuat semakin sehat agar bunganya turun sehingga biaya dana bank juga rendah dan berujung kepada penurunan bunga kredit,” ujarnya, pekan ini.

Tiko, sapaan akrab Kartika, mengaku cukup sulit untuk menurunkan tingkat bunga deposito special rate karena segmentasi deposannya sangat terkosentrasi pada institusi, dana pensiun, dan asuransi besar.

“Jadi, selama masih ada bank yang memberikan suku bunga deposito tinggi, kami pun terpaksa juga menyesuaikan,” ujarnya.

Dia pun mengatakan, dalam penurunan suku bunga deposito pun bukan hanya bergantung kepada perbankan saja, tetapi juga deposan institusi yang memiliki dana besar agar tidak mudah tergoda dengan tingkat suku bunga deposito yang lebih besar. 

Walaupun begitu, bank berkode emiten BMRI itu mengaku tingkat suku bunga kredit perseroan secara rata-rata sudah di bawah 10%.

Tiko menyebutkan, untuk segmen korporasi dan konsumer, seperti kredit pemilikan rumah (KPR) sudah berada di bawah 10%. “Memang, segmen mikro dan UKM [usaha kecil dan menengah] masih dua digit, tetapi itu perlahan juga akan terus diturunkan,” sebutnya.

Di sisi lain, dengan tingkat bunga deposito special rate dari bank besar yang masih berada di posisi tinggi pun mempengaruhi kemampuan bank kecil untuk menurunkan bunga simpanannya.

Direktur Utama PT Bank MNC Internasional Tbk. Benny Purnomo mengatakan, untuk peluang penurunan suku bunga deposito memang tergantung oleh tingkat suku bunga di pasar. Kalau posisi suku bunga deposito bank besar masih tinggi, berarti peluang penurunan bunga simpanan bank kecil pun jadi lebih sulit.

“Pengaruh deposito special rate bank besar akan sangat mempengaruhi bunga deposito kami [bank kecil]. Kalau mereka [bank besar] pasang special rate 6%, mau tidak mau kami pasar 100 bps lebih tinggi,” ujarnya.

Direktur Utama PT Bank Ina Perdana Tbk. Edy Kuntardjo mengatakan, sebenarnya perseroan saat ini berada pada posisi yang lebih berani menawarkan bunga deposito lebih rendah. Meskipun, ada bank besar yang menawarkan tingkat bunga lebih tinggi.

“Saat ini kan likuiditas masih longgar, jadi bank BUKU [bank umum kegiatan usaha] I dan II bisa negosiasi bunga lebih rendah,” ujarnya.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatat porsi deposan dengan suku bunga deposito special rate tidak terlalu banyak. Jadi, hal itu pun tidak menghambat perseroan untuk menurunkan tingkat bunga kredit.

Direktur Treasury & Internasional Bank Negara Indonesia Panji Irawan mengatakan, penurunan bunga deposito perseroan sudah selaras dengan tingkat penurunan suku bunga pasar.

“Selain itu, porsi deposan kami lebih banyak menggunakan counter rate ketimbang special rate,” ujarnya.

Untuk suku bunga dasar kredit (SBDK), bank berkode emiten BBNI itu telah menurunkan dua segmen kredit menjadi satu digit yakni, segmen korporasi dan ritel yang masing-masing 9,95%.

Dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Agustus 2017, penurunan suku bunga deposito dari kelompok bank, untuk tenor 1 bulan, bunga deposito BUKU II turun paling dalam sebesar 54 bps menjadi 6,86%.

Lalu, untuk tenor 3 bulan, bunga deposito BUKU III turun paling dalam sebesar 56 bps menjadi 6,7%. Pada tennor 6 bulan, suku bunga bank BUKU II turun paling dalam sebesar 60 bps menjadi 7,5%, dan tenor 12 bulan bunga deposito bank buku IV turun paling dalam sebesar 144 bps menjadi 6,46%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hendri Tri Widi Asworo
Terkini