Bank Sahabat Sampoerna Konsisten di Pasar UMKM

Bisnis.com,06 Des 2017, 10:07 WIB
Penulis: Ropesta Sitorus
Nasabah melakukan transaksi elektronik di kantor Bank Sahabat Sampoerna, Jakarta, Rabu (06/06)./JIBI-Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Penetrasi pasar ke konsumen memerlukan keahlian tersendiri. Bagi bank-bank segmen konsumer, inovasi channel lebih diarahkan ke digitalisasi layanan. Namun bagi bank yang mendalami bisnis usaha mikro kecil dan menengah, lain lagi ceritanya. 

PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) yang resmi beroperasi pada Mei 2012  merupakan salah satu yang cukup konsisten bermain di segmen pasar UMKM. 

Menilik sejarahnya, Bank Sampoerna sebenarnya bukanlah bank baru. Bank tersebut telah berdiri sejak 1990 dengan nama PT Bank Dipo Internasional.

Kemudian, pada Mei 2011, Group Sampoerna Strategic, perusahaan investasi swasta, melalui PT Sampoerna Investama (PT SI) mengakuisisi Bank Dipo Internasional dengan mengambil alih saham PT Pahalamas Sejahtera. 

Awal 2012, manajemen melakukan perubahan nama dan logo. Kantor pusatnya pun dipindahkan ke Gedung Sampoerna Strategic Square di bilangan Sudirman, Jakarta. 

Dalam menjalankan bisnisnya, Bank Sampoerna melakukan kolaborasi dan sinergi dengan Koperasi Simpan Pinjam Sahabat Mitra Sejati untuk meningkatkan portofolio kredit melalui program asset buying. 

Chief Financial Officer Bank Sahabat Sampoerna Henky Suryaputra mengatakan kerja sama yang telah dimulai sejak 2011 itu terus berlanjut dan menjadi salah satu motor pengerek kinerja kredit perseroan. 

Dengan kemitraan itu, daya jangkau Bank Sampoerna menjadi jauh lebih luas, kendari cabang fisiknya saat ini baru 20 kantor. 

"Strategi kami antara lain kerja sama dengan institusi keuangan seperti BPR dan koperasi. Kami punya mitra strategis yakni Koperasi Simpan Pinjam Sahabat Mitra Sejati yang memang punya cabang di seluruh Indonesia," katanya kepada Bisnis, Selasa (5/12). 

Bank Sampoerna telah beberapa kali melakukan perubahan pemilik saham dengan pemegang saham pengendali (PSP) Michael Joseph Sampoerna melalui PT Sampoerna Investama. 

Selain Sampoerna Investama yang memiliki 85,09%, per 31 Desember 2016, struktur pemegang saham perseroan terdiri dari PT Cakrawala Mulia Prima (Grup Alfa) yang memiliki 13,91% saham dan Ekadharmajanto Kasih yang menggenggam 1% saham. 

Di bawah kepemilikan yang baru, pemegang saham melakukan penambahan modal disetor sebanyak tiga kali secara berturut. Pada 2014, modal disetor ditambah Rp130 miliar, lalu pada 2015 sebesar Rp165 miliar dan kemudian pada 2016 sebesar Rp210 miliar. 

Walhasil, pada tahun lalu, perseroan resmi naik kelas ke kategori Bank BUKU II yang memiliki rentang permodalan inti sebesar Rp1 triliun - Rp5 triliun. 

Seiring dengan perubahan pemegang saham dan juga manajemen direksi, kinerja Bank Sampoerna terus membaik. Penyaluran kredit tumbuh agresif.

Bila ditarik dalam 10 tahun terakhir, sejak 2007 - 2011 penyaluran kredit Bank Sampoerna hanya berkutat di level Rp400 miliar - Rp600 miliar. Namun pada 2012, seiring dengan naiknya permodalan, kredit bank melejit ke kisaran Rp1 triliun. Tiap tahun, pertumbuhan berlipat signifikan hingga mencapai Rp5,77 triliun pada 2016. 

Sejalan dengan itu, dana pihak ketiga bank pun meroket dari kisaran Rp500 miliar pada 2007 menjadi Rp6,2 triliun pada akhir tahun lalu. Aset bank juga terus terpupuk hingga menyentuh Rp7,5 triliun. 

Keuntungan yang dibukukan pun melejit dari hanya Rp2 miliar pada 2012 menjadi Rp50 miliar pada 2015. 

Namun pada 2016, laba bersih bank sedikit menurun.  Seperti disampaikan dalam laporan tahunannya, perseroan masih mampu mencatat peningkatan pendapatan bunga bersih sebesar Rp458 miliar, naik 43,58% (yoy). 

Meski demikian, Bank Sampoerna tidak dapat terlepas dari dampak kondisi ekonomi tahun 2016 yang masih belum pulih, khususnya untuk kawasan Indonesia wilayah barat. Rasio NPL gross bank meningkat ke level 3,09%. 

Akibatnya, bank harus meningkatkan beban pembentukan CKPN yang merupakan beban yang dibentuk yang dijadikan cadangan bagi kredit bermasalah. Konsekuensinya laba bersih bank tergerus menjadi Rp34,38 miliar atau mengalami penurunan 31,24% dibanding tahun 2015 yang tercatat sebesar Rp49,99 miliar. 

TERUKUR

Harga komoditas yang belum sepenuhnya pulih seperti tiga tahun lalu menjadi tantangan untuk ekspansi bisnis tahun ini dan tahun depan. Mengingkat kondisi yang masih menyimpan ketidakpastian, Bank Sampoerna tidak mau gegabah. 

Prinsipnya, pertumbuhan tetap dikejar namun dengan langkah yang lebih hati-hati. Ekspansi masih akan dilakukan ke berbagai daerah, terutama di sektor perdagangan dan manufaktur. 

Meski demikian, Henky tetap optimistis bank mampu mencatatkan pertumbuhan kredit di level 10% -12% sejalan dengan target pemerintah. 

Menurutnya peluang tersebut masih besar, meski penyaluran KUR mikro yang disubsidi pemerintah akan terus ditingkatkan dan bunganya diturunkan menjadi 7% pada tahun depan. 

"Di Indonesia ada lebih dari 60 juta pelaku UMKM, yang sudah dilayani bank baru sekitar setengahnya saja. Jadi peluangnya masih banyak. Tahun ini peminjam yang kami layani 40.000, tahun depan kami harapkan tumbuh 20%," tambahnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Farodilah Muqoddam
Terkini