Bank Agresif Pacu Pertumbuhan Kredit Konsumer

Bisnis.com,12 Feb 2018, 10:53 WIB
Penulis: Ropesta Sitorus
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Lini bisnis konsumer diyakini masih akan dapat berkembang dan menjadi penopang pertumbuhan kinerja penyaluran kredit perbankan pada 2018. Sejumlah bank mengebut untuk mengejar pertumbuhan signifikan di segmen tersebut.

Direktur Ritail Banking PT Bank Permata Tbk. Bianto Surodjo menyatakan pihaknya optimistis segmen konsumer akan dapat tumbuh dua digit. “Kami mengharapkan bahwa size kredit konsumsi Permatabank dapat tumbuh di atas 10%,” ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.

Untuk memperbesar penyaluran kredit, strategi Bank Permata tahun ini yakni lewat pengotimalan peran channel-channel bisnis digital.

Pertumbuhan tersebut diharapkan datang dari seluruh lini produk yang ada saat ini, baik dari Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), juga dari Kredit Kendaraan Bermotor yang disalurkan melalui joint financing.

Perseroan juga menaruh harapan yang besar pada lini bisnis unsecured loan atau pembiayaan tanpa jaminan seperti kartu kredit dan Kredit Tanpa Agunan (KTA). “Kami akan memperkuat channel-channel digital yang ada untuk mendukung pertumbuhan bisnis yang ada,” tuturnya.

Berdasarkan laporan keuangan bulanan per Desember 2017, total pinjaman yang diberikan dan piutang Bank Permata mencapai Rp83,57 triliun, turun 10% dibandingkan dengan periode yang sama pada Desember 2016 sebesar Rp93,81 triliun.

Sementara itu, pembiayaan syariah yang diberikan lewat unit usaha syariah Bank Permata per akhir tahun lalu sebesar Rp13,69 triliun, meningkat 26,7% secara tahunan dari posisi Desember 2016 sebesar Rp10,8 triliun.

Dalam kesempatan sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. juga menyatakan akan lebih agresif untuk memacu pertumbuhan kredit ritel, salah satunya segmen konsumer, yang diharapkan menjadi salah satu penopang kenaikan kredit pada tahun 2018.

Direktur Ritail Banking Bank Mandiri Tardi menuturkan, salah satu bisnis yang memiliki potensi besar dari segmen tersebut yakni kredit pemilikan rumah (KPR).

“KPR dari tahun lalu tumbuh 10% dengan sebagian besar tumbuh di secondary market. Tahun ini kami akan coba untuk lebih agresif di primary market untuk mengisi pasar KPR di 2018,” ujarnya pekan lalu.

Bisnis lainnya yang juga dinilai masih memiliki potensi besar yakni personal loan yang juga tumbuh signifikan pada tahun lalu. Dia optimistis Bank Mandiri dapat membukukan pertumbuhan di atas rata-rata industri untuk segmen tersebut.

“Dengan asumsi jumlah nasabah payrol kami kurang lebih 4 juta dan dari jumlah itu yang mendapat pembiayaan masih kurang dari 1 juta sehingga potensi untuk payrol loan masih cukup besar,” ujarnya.

Strategi lain yang akan dilakukan bank publik itu dengan optimalisasi anak usaha. Bank Mandiri Taspen Pos akan difokuskan untuk menggarap bisnis pembiayaan kepada para pensiunan.

Dua anak usaha lainnya yang bergerak di bidang multifinance, yakni Mandiri Tunas Finance dan Mandiri Utama Finance, juga akan dioptimalkan untuk meningkatkan pangsa pasar dalam bisnis pembiayaan kendaraan.

“Kami memaksimalkan sekitar 2.600 jaringan cabang untuk memasarkan program dua anak usaha itu sehingga 2018 kami harapkan pertumbuhan di sektor ritel bisa di atas rata-rata pasar untuk mendukung pertumbuhan di atas sektor korporasi,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan tahun ini perseroan membidik pertumbuhan kredit secara keseluruhan sebesar 10%-11%.

Dia optimis target dua digit itu tercapai bila melihat proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik dari tahun lalu. Tiko, sapaan akrabnya menjelaskan, fokus bisnis tahun ini masih akan melanjutkan strategi tahun lalu.

“Seperti yang sudah pernah disampaikan, kami ingin terus jadi leader di segmen korprorasi,” ujarnya.

Setidaknya ada beberapa sektor yang menjadi fokus utama di segmen tersebut, yakni infrastruktur dengan subsektor transportasi dan kelistrikan; sektor perkebunan seperti kelapa sawit; sektor komoditas; serta consumer goods.

“Dengan perkembangan sektor komoditas yang mulai menggeliat, itu juga menjadi prospek yang bagus, komoditas akan menyumbang pertumbuhan kredit mineral yang cukip baik,” ujarnya.

Sementara itu, pada tahun lalu Bank Mandiri menyalurkan kredit sebesar Rp729,5 triliun secara konsolidasi, tumbuh 10,2% secara year on year (yoy).

Kredit ritel Bank Mandiri per akhir 2017 mencapai Rp223,1 triliun tumbuh 23,7% secara year on year dari posisi akhis 2016, Rp196,2 triliun. Porsi kredit ritel mencapai 34,6% dari total kredit secara bank only.

Kenaikan ritel tersebut ditopang bisnis kredit mikro yang naik 22,2% menjadi Rp61,9 triliun; kredit konsumer yang tumbuh 18,1% menjadi Rp89,3 triliun; dan juga bisnis kartu kredit yang naik 13% menjadi Rp10,3 triliun.

Setali tiga uang, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. juga menargetkan pertumbuhan kredit konsumer dua digit pada 2018 di kisaran 23% - 25%.

Direktur Konsumer BRI Handayani mengatakan target itu akan direalisasikan dengan menggejot pertumbuhan salary based loan dan kredit hipotek.

“Kami mengejar dua digit pertumbuhan kredit konsumer, harapannya tumbuh signifikan khususnya di mortgage karena saat ini mortgage index sudah naik," katanya beberapa waktu lalu.

NPL nett kredit konsumer Bank BRI hingga saat ini ada pada kisaran 1% dengan kontribusi NPL paling besar berasal dari kartu kredit sebesar 2,8%.

"Kita memiliki scoring sistem yang baik sehingga akan lebih prudent dalam pemberian kredit. Sistem collection sudah kita perbaharui untuk memitigasi risiko kredit bermasalah," ujarnya.

Tak hanya bank-bank besar, perbankan skala kecil juga menyatakan akan lebih agresif dalam bisnis kredit konsumer, seperti yang disampaikan PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk. (BRI Agro).

Direktur Utama BRI Agro Agus Noorsanto mengatakan, segmen konsumer akan dipacu untuk meningkatkan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) mendekati 5%.

“Karena segmen bisnis konsumer ini masih memungkinkan untuk kami memetik yield yang lebih tinggi, di kisaran 13%-16%,” tuturnya.

Demi mendorong laba, Agus mematok target kredit konsumer dapat tumbuh sampai dua kali lipat dari realisasi tahun 2017 yang hanya Rp657 miliar.

Untuk itu bank akan membentuk unit khusus kredit konsumer yang menangani bidang kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan, kredit pegawai untuk para pensiunan.

“Kredit konsumer kami masih sangat sedikit padahal yieldnya tinggi. Tahun ini akan benar-benar kami tingkatkan dan kami optimis bisa tumbuh sampai dua kali lipat karena masih sangat prospektif, marketnya besar khususnya di pensiunan dan KPR,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, dalam rnecana bisnis bank 2018, BRI Agro mematok pertumbuhan kredit sebesar 34%-35% dengan menjaga credit cost di level 1,5% -2%.

Untuk rasio keuangan lainnya seperti NIM diperkirakan akan kembali meningkat menjadi 4,49% -5%. Perseroan juga akan menjaga struktur likuiditasnya dan menekan biaya dana dengan menggenjot porsi dana murah menjadi 22%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hendri Tri Widi Asworo
Terkini