EDUKASI DUIT: Dulu Belanja Bulanan Cukup Rp50.000, Sekarang Dapat Apa?

Bisnis.com,22 Feb 2018, 11:33 WIB
Penulis: News Writer
Goenardjoadi Goenawan. / Bisnis-swi

 

Bisnis.com, JAKARTA — Secara kebetulan saya menemukan struk belanja dari Gelael yang sudah 25 tahun lalu.

Betapa dulu belanja seminggu cukup dengan Rp50.000 saja. Dulu zaman Orde Baru nilai tukar rupiah sangat bagus setara Rp2.000-an per US dollar. Sampai kita dulu sering belanja ke luar negeri.

Nilai rupiah sekarang turun 10 kali lipat dibandingkan dengan era 1990-an. Pertanyaannya, pergi kemanakah hilangnya nilai uang rupiah?

Bila kita tidak memikirkannya, selamanya kita terjerat oleh uang. Ketika nilai uang menyusut dan harga properti terus naik artinya terjadi pemindahan kekayaan dari pemegang tunai kepada pemilik rumah.

Zaman dulu, barangkali masih bisa seorang pensiun dengan tabungan Rp600 juta dengan bunga Rp3 juta per bulan.

Kalau sekarang bunga deposito hanya mendapatkan Rp1,5 juta per bulan.

Apa maksud dari penjelasan ini. Kapitalis bisa mengakibatkan ketimpangan pendapatan Indonesia dan negara-negara maju lainnya?

Mega kredit bank menambah terus jumlah suplai uang sehingga batas negara menjadi hilang.

Bubble money dilakukan secara bersama-sana dengan globalisasi.

Tingkat bunga bank turun terus. Saat ini tingkat bunga deposito mencapai 3% sangat rendah sehingga para pensiunan dan pemilik tabungan merasa tidak banyak manfaat bunga deposito tabungan.

Sebaliknya bunga kredit bank sekarang turun ke level 7% fix selama 5 tahun.

Ini akan menambah suplai uang terus bertambah setiap saat sehingga semakin membuat nilai uang tunai menyusut.

Terjadi hidden inflasi. Angka inflasi hanya normal di 8% namun harga mobil naik 15% terus menerus.

Daya beli konsumen akan tersedot oleh beban cicilan mobil dan rumah.
Dulu 25 tahun lalu cicilan rumah masih Rp600.000 per bulan. Sekarang rumah sederhana saja seharga Rp300 juta cicilannya bisa Rp 4 juta per bulan.

Secara jangka panjang bila ini terjadi terus menerus, secara sistem nilai uang di masyarakat terus menyusut menurunkan daya beli konsumen.

Penulis
Ir Goenardjoadi Goenawan, MM
Motivator Uang.
Penulis buku seri "Money Intelligent" dan buku “New Money”
Untuk pertanyaan bisa diajukan lewat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Stefanus Arief Setiaji
Terkini