Jokowi: Main Aman Itu Sebuah Ilusi

Bisnis.com,15 Mar 2018, 12:00 WIB
Penulis: Amanda Kusumawardhani
Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kedua kanan), Menkeu Sri Mulyani (kanan) dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso (kedua kiri) menyampaikan paparan dihadapan pimpinan bank umum di Indonesia, di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/3/2018)./ANTARA-Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo meminta industri perbankan untuk tidak lagi bermain aman dan keluar dari zona aman supaya dapat berkompetisi secara agresif dalam tataran perekonomian global.

Hal itu disampaikannya di Istana Negara, Kamis (15/3/2018), ketika mengumpulkan para direktur utama dan komisaris utama dari 4 bank BUMN, 27 bank pembangunan daerah, 75 bank swasta, dan 8 kantor cabang bank asing.

“Yang ingin saya sampaikan adalah risiko yang paling besar dan gawat adalah kalau tidak berani mengambil risiko. Itu yang saya lihat pada 2017. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan pertumbuhan kredit hanya 8,24%, saya ingat waktu kita kumpul di sini targetnya 9-12%. Kalau saya diberi angka 9%-12%, yang saya ambil pasti 12%,” katanya.

Seperti diketahui, pertumbuhan kredit tahun lalu hanya 8,24% atau meleset dari target yang ditetapkan yakni 9%-12%.

Adapun rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Indonesia pada 2017 sebesar 23,26% sedangkan standar minimalnya di kisaran 12%. Angka ini memiliki ruangan yang cukup besar untuk mendukung pertumbuhan kredit.

Meski Jokowi mengapresiasi tingginya CAR di Indonesia yang mencerminkan kuatnya modal perbankan nasional, dia menilai angka tersebut bisa merepresentasikan bahwa perbankan Indonesia belum bisa keluar dari zona nyaman.

“Tetapi, mohon maaf, apakah perbankan kita malah terlalu aman dengan angka sebesar itu? Saya tanyakan apakah perbankan kita terlalu aman atau mungkin bapak ibu sekalian terlalu main aman?” lanjutnya.

Menurut Kepala Negara, industri perbankan Indonesia harus agresif mengambil risiko. Jika tidak berani mengambil risiko, maka sudah bisa dipastikan bisnis apapun akan mati pelan-pelan.

Apalagi, dengan semakin dinamisnya ketidakpastian global, risiko menjadi hal yang sangat normal.

“Yang ingin saya tekankan yang namanya main aman itu sebuah ilusi. Kalau kita ambil risiko, masih ada kemungkinan [chance] dan biasanya kalau kalkulasi baik, kemungkinan akan selamat,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Margrit
Terkini