Fasilitas KPR 0% di Malang Belum Dimanfaatkan

Bisnis.com,14 Agt 2018, 10:08 WIB
Penulis: Choirul Anam
Ilustrasi.

Bisnis.com, MALANG — Konsumen di Malang belum memanfaatkan fasilitas loan to value 0% kredit pemilikan rumah (KPR).

Pemimpin Wilayah BNI Malang Wiwi Suprihatno mengatakan sebenarnya skema KPR dengan LTV 0% sudah ada sejak awal Agustus 2018, namun konsumen belum ada yang memanfaatkannya. Masih nihil.

“Karena itulah, kami perlu terus melakukan sosialisasi bahwa BNI memberikan fasilitas LTV 0% untuk KPR,” ujarnya di Malang, Senin (13/8/2018).

Dengan adanya fasilitas tersebut, kata dia, sebenarnya memberikan kesempatan kepada masyarakat yang kesulitan menyediakan uang muka untuk mengajukan KPR. Dengan begitu, maka masyarakat yang tidak mempunyai dana untuk uang muka KPR masih berkesempatan untuk memiliki rumah.

“Tapi rasanya untuk di Kota Malang harga rumahnya sudah terlalu tinggi. Yang paling mungkin di Kab. Malang,” ucapnya.

Dengan memanfaatkan fasilitas tersebut, kata dia, sebenarnya masyarakat diuntungkan karena segera dapat memiliki rumah. Hal itu terkait dengan tren harga rumah yang terus naik setiap tahunnya.

Di sisi lain, tren pendapatan masyarakat naik bersamaan penaikan UMK maupun penaikan gaji PNS, TNI, Polri, dan BUMN.

Dia menduga, masyarakat masih enggan memanfaatkan LTV 0% KPR karena besaran angsuran setiap bulannya menjadi tinggi sehingga dinilai memberatkan mereka. Di BNI Wilayah Malang, penyaluran KPR mencapai Rp1,56 triliun atau tumbuh Rp60 miliar sampai pekan ke dua Agustus.

Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jatim Makhrus Sholeh mengatakan bank kelihatannya masih melihat potensi dari LTV 0% KPR.

Karena itulah, realisasi dari penyaluran KPR dengan skema LTV 0% masih belum tampak.

“Dari informasi secara informal bank penyalur KPR, mereka tidak berani menyalurkan KPR dengan skema LTV 0% karena sangat berisiko,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Miftahul Ulum
Terkini