Sistem Perdagangan Multilateral Mulai Bergeser

Bisnis.com,15 Okt 2018, 20:00 WIB
Penulis: Dwi Nicken Tari
Personel TNI berkoordinasi di sekitar kawasan yang akan menjadi tempat berlangsungnya pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Nusa Dua, Bali, Senin (1/10/2018)./ANTARA-Nyoman Budhiana

Bisnis.com, NUSA DUA - Annual Meeting IMF—WBG 2018 di Bali dibuka oleh gempa berkekuatan 6,4 SR yang berlokasi tak jauh dari resor Nusa Dua. Namun, sepekan berikutnya, para kepala keuangan kembali fokus membicarakan ‘riak’ risiko ekonomi global.

“[Gempa] itu adalah simbol bahwa bagian bawah ekonomi global, pasar keuangan, dan sistem perdagangan multilateral mulai bergeser,” kata Joachim Fels, Penasihat Ekonomi Global di Pacific Investment Management Co., ketika meninggalkan resor, seperti dikutip Bloomberg, Senin (15/10/2018).

Adapun para menteri keuangan dan bank sentral dari seluruh dunia telah memiliki diskusi alot nan panjang terkait prospek perekonomian global di masa depan, mengingat outlook pertumbuhan yang kini diperkirakan bakal diterjang badai dan guncangan yang terjadi dari pasar modal.

Bahkan, Presiden Joko WIdodo pun menyampaikan dalam pidatonya bahwa “Winter is coming!”

Mengenai gejolak di pasar keuangan, sebagian besar peserta memberikan pandangan yang relatif “tenang”, tapi tentu saja para pembuat kebijakan belum memiliki pengalaman yang mumpuni untuk memperkirakan dan bersiap menghadapi kemerosotan di depan.

Menkeu AS Steven Mnuchin menilai aksi jual di pasar keuangan “tidak telalu mengejutkan” dan dia tetap percaya diri bahwa fundamental ekonomi AS masih kuat.

Sementara itu, di Washington, Presiden AS Donald Trump terus menuding kenaikan suku bunga dari bank sentral AS (Federal Reserve) yang menguatkan dolar menjadi pemicu terjadinya guncangan di pasar keuangan tersebut.

Sementara itu, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mencatat, valuasi saham AS sebenarnya telah “terlalu tinggi”, yang artinya koreksi telah terlambat (correction was overdue). 

Selain itu, para pembuat kebijakan juga membicarakan risiko krisis keuangan yang dapat terjadi dalam rangka mengenang sedekade sejak Lehman Brothers runtuh.

“Ketidakseimbangan keuangan terus terbangun, dan sistem keuangan yang baru belum diuji coba,” kata Tobias Adrian, Kepala Departemen Moneter dan Pasar Modal IMF.

Adapun pesan dari pertemuan di Bali tersebut secara keseluruhannya telah jelas, bahwa pertumbuhan ekonomi dunia akan bergerak mendatar. Para investor pun harus memperhatikan bahwa pada 2020 nanti lajunya bisa semakin lemah

“Apakah posisi manis sekarang ini berubah jadi masam pada tahun depan? Jawaban ‘ya’ lebih dari mungkin untuk itu,” ujar Jerome Jean Haegeli, Kepala Ekonom Swiss Re Institute.

Sementara itu, risiko untuk pertumbuhan ekonomi dunia juga muncul dari sisi perdaganga. Lagarde mengingatkan dengan jelas bahwa ekslasi tensi dagang harus dikurangi (de-eskalasi).

Adapun tensi dagang merupakan salah satu alasan IMF memangkas pertumbuhan ekonomi global pada tahun ini dan tahun depan menjadi 3,7%. IMF mencatat dalam World Economic Outlook yang diterbitkan pekan lalu bahwa risiko dari meningkatnya tarif telah mulai menjadi nyata.

The Fund pun memperkirakan perang dagang yang terjadi dalam skala penuh dapat menggerus lebih dari 0,8% output global pada 2020.

"Hanya ada satu diskusi yang sungguh-sungguh di sini [Bali], yaitu pembicaraan mengenai intensitas sengketa dagang AS dan China, serta seberapa buruk dampaknya dan seberapa lama, seberapa merusak," kata Robin Brooks, Kepala Ekonom dari Institute of International FInance (IIF). 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Gita Arwana Cakti
Terkini