September, Aset Kelolaan Nasabah Prioritas BTN Capai Rp30,5 triliun

Bisnis.com,01 Nov 2018, 21:36 WIB
Penulis: Ilman A. Sudarwan
Layanan nasabah di kantor PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) di Jakarta./JIBI-Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menyatakan bahwa volatilitas pasar sejauh ini tidak terlalu berdampak terhadap bisnis wealth management. Perseroan masih mencatatkan pertumbuhan jumlah nasabah maupun jumlah aset kelolaan.

Direktur Konsumer BTN Budi Satria menuturkan, saat ini jumlah aset kelolaan nasabah prioritas mencapai Rp30,5 triliun. Jumlah tersebut terhitung meningkat 11% secara tahunan. Adapun, jumlah nasbaah meningkat sebesar 19% secara tahunan.

“Sampai saat ini kondisi volatilitas pasar tidak sangat berpengaruh kepada bisnis wealth management, karena BTN memiliki lini produk investasi yang lengkap dari produk dengan risiko rendah sampai tinggi, sehingga nasabah dapat menyesuaikan dengan profil risiko dan keadaan pasar,” katanya kepada Bisnis, belum lama ini.

Meski tidak berdampak negatif terhadap pertumbuhan bisnis, Budi menyatakan bahwa kondisi pasar cukup memengaruhi kecenderungan nasabah. Para nasabah kakap yang terdaftar pada BTN Prioritas kini lebih memilih penempatan aset ke dalam produk yang relatif konservatif.

“Seperti ORI [Obgilasi Ritel Negara] atau sukuk, dan surat berharga negara lainnya, serta reksadana pasar uang atau reksadana terproteksi, sambil menunggu kondisi volatilitas pasar lebih kondusif,” tambahnya.

Dia memastikan bahwa bisnis wealth management masih memberi kontribusi positif terhadap pendapatan non bunga atau fee based income dari hasil penjualan produk non-bank seperti reksadana, surat berharga, dan bancassurance. Menurutnya kontribusi atau share wealth mangement mencapai dari pendapatan non bunga perseroan 20%.

Budi juga mengatakan lini bisnis tersebut juga cukup memberi kontribusi positif terhadap pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Sampai dengan akhir kuartal III/2018, pertumbuhan DPK bank pelat merah tersebut mencapai 16,06% secara tahunan.

“Produk investasi yang kami bundling dengan DPK adalah penjualan surat berharga negara seperti ORI, sehingga penjualan produk berbasis fee based income masih dapat sejalan dengan DPK,” jelasnya

Adapun, penyaluran kredit perseroan tumbuh 19,28% secara tahunan, lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit industri perbankan yang sampai Agustus mencapai 12,1%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi.

Dari sisi laba, perseroan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 11,51% secara tahunan yang disokong oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat 15,29%. Adapun, pendapatan non bunga mencapai Rp1,43 triliun, tumbuh 18,8% secara tahunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Andhika Anggoro Wening
Terkini