Pertamina Olah CPO Jadi Bensin dan LPG Ramah Lingkungan

Bisnis.com,22 Des 2018, 06:43 WIB
Penulis: Dinda Wulandari
Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero), Budi Santoso Syarif (kedua dari kiri) memberikan pemaparan saat jumpa pers implementasi co-processing CPO di Kilang RFCCU RU III Palembang, Jumat (21/12/2018). Bisnis/Dinda Wulandari

Bisnis.com, PALEMBANG -- PT Pertamina (Persero) mulai mengolah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Kilang Refinery Unit III Plaju, Palembang, menjadi bahan bakar bensin dan LPG yang ramah lingkungan.

Pengolahan produk turunan CPO atau refine bleach deodorize palm oil (RBDPO) dengan teknologi co-processing itu diklaim juga mampu menghemat devisa negara hingga US$160 juta karena mengurangi impor minyak mentah (crude oil).

Direktur Pengolahan PT Pertamina (Persero), Budi Santoso Syarif, mengatakan inovasi berupa teknologi co-processing tersebut menggabungkan sumber bahan bakar alami dengan sumber bahan bakar fosil untuk diproses di dalam kilang sehingga menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan.

“Tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sangat tinggi, karena CPO yang diambil bersumber dari dalam negeri, transaksi yang dilakukan dengan rupiah sehingga mengurangi devisit anggaran negara, serta hasil bahan bakar ramah lingkungan,” katanya saat meninjau implementasi co-processingCPO di Kilang RFCCU RU III Palembang, Jumat (21/12/2018).

Budi menjelaskan, proses pengolahan CPO dilakukan di fasilitas Residue Fluid Catalytic Cracking Unit (RFCCU) yang berada di kilang Pertamina Plaju, berkapasitas 20.000 barel stream per hari (MBSD).

Adapun RBDPO yang berupa CPO bersih dari getah dan bau itu kemudian dicampur dengan sumber bahan bakar fosil di kilang dan diolah dengan proses kimia sehingga menghasilkan bahan bakar bensin.

“Pencampuran langsung CPO dengan bahan bakar fosil di kilang ini secara teknis lebih sempurna dengan proses kimia, sehingga menghasilkan bahan bakar bensin dengan kualitas lebih tinggi karena nilai octane mengalami peningkatan” tambahnya.

Dia menjelaskan hasil implementasi co-processing tersebut telah menghasilkan Green Gasoline Octane 90 sebanyak 405 MB per bulan atau setara  64.500 kilo liter per bulan  dan produksi Green LPG sebanyak 11.000 ton per bulan.

“Upaya ini sangat mendukung pemerintah dalam mengurangi penggunaan devisa, dimana Pertamina bisa menghemat impor crude sebesar 7.36 BOPD atau dalam setahun mampu menghemat hingga US$160 juta,” katanya.

Budi menambahkan, Perseroan bakal menerapkan langkah serupa di kilang lainnya yakni di Kilang Cilacap, Balongan dan Dumai serta akan diperluas untuk jenis bahan bakar lainnya, baik green gasoil (bahan bakar solar) maupun green avtur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Mia Chitra Dinisari
Terkini