Pohon Dana Salurkan Pinjaman Rp1 Miliar untuk Petani Jagung Donggala

Bisnis.com,19 Jan 2019, 18:56 WIB
Penulis: Muhammad Ridwan
Presiden Direktur Pohon Dana Yu Ek (kanan) saat menyerahkan pinjaman yang diterima perwakilan petani disaksikan oleh Kepala OJK Provinsi Sulawesi Tengah Gamal Abdul Kahar (kiri). JIBI/BINIS/Muhammad Ridwan.

Bisnis.com, DONGGALA - Perusahaan financial technology atau fintech Pohon Dana yang didukung Mayapada Group menyalurkan pinjaman Rp1 miliar untuk 200 petani jagung di Kecamatan Tobata, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Pinjaman akan digunakan sebagai modal usaha perkebunan jagung di tanah seluas 200 hektare yang dimiliki oleh 200 petani.

“Untuk tahap awal setaip petani mendapat Rp5 juta. Kita kasih tunai, bibit, pupuk dan teknologi,” ujar Presiden Direktur Pohon Dana Yu Ek di Tobata, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (19/1/2019).

Pohon Dana menjadi pionir dalam bisnis fintech yang tidak hanya menyalurkan bantuan dalam bentuk uang tunai, Pohon Dana sekaligus memberi solusi pemberian bibit, pupuk, teknologi, serta penjualan jagung setelah masa panen yang bekerja sama dengan beberapa lembaga.

Dalam proses pengembaliannya, petani diberikan jangka waktu sesuai dengan masa panen jagung tersebut atau dengan tenor selama lima bulan dengan bunga yang diklaim kompetitif yakni 2%.

Pohon Dana menyasar segmentasi peminjam yang tidak terjangkau oleh lembaga perbankan dengan target peminjam yaitu petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pada 2019, Pohon Dana menargetkan penyaluran pinjaman sejumlah Rp1 triliun dengan daerah penyaluran yang akan disebar di seluruh Indonesia.

“Kita sedang schedule program yang sama ke Makassar juga. Targetnya bisa ke seluruh Indonesia,” jelas Yu Ek.

Perusahaan ‘Fintech’ Pertama

Hadir dalam prosesi penyaluran dana pinjaman tersebut Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hendrikus Passagi, dan menyebut Pohon Dana merupakan perusahaan fintech pertama yang menerapkan inovasi pemberian solusi terhadap petani.

Menurut Hendrikus, lembaga peminjaman uang konvensional atau fintech lainnya hanya memberikan pinjaman dalam bentuk uang tunai, sehingga tidak memberikan solusi agar proses pengembalian pinjaman menjadi lebih berkesinambungan.

“Petani di lapangan itu tidak hanya butuh dana. Ini yang selama ini salah dibaca oleh pelaku industri [pinjaman] konvensional,” ucap Hendrikus.

Dengan memberikan solusi pemberian bibit dan teknologi dapat membantu petani dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi atas lahannya. Selain itu, setelah masa panen petani tidak lagi merasa bingung untuk menjual hasil panennya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Nancy Junita
Terkini