Laju Simpanan tak Sekencang Kredit, tapi Likuiditas Bank Terjaga

Bisnis.com,08 Mar 2019, 12:07 WIB
Penulis: Muhammad Khadafi

Bisnis.com, JAKARTA — Tingginya kenaikan kredit yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan dana pihak ketiga kian berisiko memperketat persaingan dalam memperebutkan likuiditas. Hal tersebut sejalan dengan naiknya indikator rasio intermediasi yang telah melebihi ambang batas regulator.

Likuiditas perbankan nasional menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (8/3/2019). Berikut laporannya.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), kredit Januari tahun ini tumbuh 11,9% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp5.216,4 triliun, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan Januari tahun lalu, yakni 7,4% (yoy).

Di sisi lain, kinerja penghimpunan dana nasabah oleh perbankan melambat. BI mencatat dana pihak ketiga (DPK) pada Januari hanya tumbuh 5,1% menjadi Rp5.365,7 triliun, lebih rendah dari Januari 2018 yang tercatat tumbuh 8,5%.

Pada saat yang sama, sejumlah bank, utamanya bank umum kelompok usaha (BUKU) III, mengalami kenaikan rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) sepanjang 2018. Bank bermodal inti Rp5 triliun—Rp30 triliun itu menutup 2018 dengan LDR 103,37%.BUKU I dan II juga bernasib serupa meskipun tidak setinggi BUKU III, dengan posisi LDR masing-masing 92,27% dan 94,03%.

Adapun, secara industri, rasio intermediasi telah mencapai 94,78%. Padahal, ambang batas yang ditetapkan regulator sebesar 80%—92%.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (Core) Piter Abdullah mengatakan kondisi ini terbilang anomali. Lazimnya, pertumbuhan kredit akan diikuti oleh DPK karena kedua fungsi utama perbankan itu saling bertalian.

“Selama pertumbuhan DPK masih di bawah kredit, persoalan likuiditas masih menghantui perbankan,” katanya kepada Bisnis, Kamis (7/3/2019).

Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Winang Budoyo menilai pengetatan likuiditas hanya akan terjadi pada awal tahun, dan akan melonggar seiring dengan mengucurnya dana APBN. “Memasuki Maret sudah melonggar.”

Dia mengakui pengetatan likuiditas telah terlihat dari kenaikan LDR. Hal itu disebabkan tingginya permintaan kredit pada tahun lalu. Sementara itu, pada saat yang sama, penghimpunan dana terkonsentrasi pada BUKU IV.”Jadi, distribusinya belum merata,” kata Winang.

Salah satu bank yang mencatat kenaikan LDR cukup signifikan adalah PT Bank Pan Indonesia Tbk. Perseroan itu mencatat LDR 110,07% pada pengujung 2018, naik dari periode sebelumnya yang sebesar 96,39%.

Kenaikan LDR itu terjadi karena penurunan DPK 5,5% yoy menjadi Rp137,69 triliun. Pada saat yang sama, kredit tumbuh 8,06%.

ANDALKAN NONKONVENSIONAL

Menurut Presiden Direktur Bank Panin Herwidayatmo, likuditasnya masih dalam kondisi sehat karena Bank Panin memiliki instrumen pendanaan lain melalui surat utang. “Total obligasi kami sekitar Rp15 triliun. DPK kami turun, tetapi kami punya dana jangka panjang.”

Bank lain yang memiliki LDR tinggi adalah PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Per Januari 2019, posisi LDR bank pelat merah itu 105%.

Direktur Keuangan dan Treasury BTN Iman Noegroho Soeko Iman mengatakan posisi LDR perseroan di atas 100% karena 15% sumber dana bank berasal dari dana nonkonvensional. Hal itu untuk mengatasi mismatch penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) yang memiliki rata-rata tenor di atas 10 tahun.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja sebelumnya mengatakan ketersediaan likuiditas menjadi isu penting dan perlu diperhatikan. Apalagi, proyek infrastruktur pemerintah masih terus dipacu. “Asalkan pencairan kredit infrastruktur dilakukan secara wajar atau tidak di-push melebihi kemampuan likuiditas, itu aman.”

Awal pekan ini, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan otoritas moneter masih memompa kebutuhan likuiditas perbankan. “Pertumbuhan likuiditas pada Desember 2018 bagus, Januari lalu kami juga masih injeksi likuiditas. Namun, di Februari ada operasi moneter, jadi ada penyerapan dan juga penyaluran ke bank yang membutuhkan. Kami terus pantau.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Sutarno
Terkini