Bank Nusantara Parahyangan Kembali Cetak Laba pada 2018

Bisnis.com,21 Mar 2019, 13:52 WIB
Penulis: Ropesta Sitorus
Presiden Direktur PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. (Bank BNP) Hideki Nakamura (kedua kanan) berbincang dengan Direktur Eiichiro Sakai (dari kanan), Direktur Trie Karjati W, Direktur Kevin Cahyadi Tatang, dan Direktur Markus Sugiono usai RUPSLB di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/3/2018)./JIBI-Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Sepanjang 2018, PT Bank Nusantara Parahyangan  Tbk. membukukan pertumbuhan kinerja yang positif. Bank yang merupakan bagian dari jaringan grup MUFG tersebut mulai mencetak laba setelah pada tahun sebelumnya menderita kerugian.

Hingga akhir Desember 2018, perseroan mencetak laba bersih sebesar Rp8,05 miliar. Adapun pada tahun sebelumnya Bank BNP mencetak rugi bersih senilai Rp59,66 miliar.

Penopang perolehan laba tersebut antara lain naiknya pendapatan bunga sebesar 6,6% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp842,08 miliar, yang diikuti dengan penurunan biaya bunga sebesar 1,3% (YoY) menjadi Rp351,1 miliar. Hal itu membuat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh dari 13,1% dari Rp433,96 miliar menjadi Rp490,98 miliar.

Emiten bersandi BBNP tersebut juga membukukan kenaikan aset sebesar 8,2% menjadi Rp8,2 triliun. Pertumbuhan aset BBNP sejalan dengan kenaikan dari sisi fungsi intermediasi yakni penyaluran kredit dan penghimpunan dana dari masyarakat.

Dari sisi kredit, total volume kredit per akhir bulan Desember 2018 tercatat sebesar Rp6,31 triliun atau naik 7,9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Realisasi tersebut juga melebihi target yang dipatok dalam rencana bisnis bank perseroan yakni Rp6,25 triliun.

“Pertumbuhan kredit tersebut merupakan hasil dari upaya manajemen dengan cara membangun hubungan yang lebih personal terhadap nasabah Bank BNP,” demikian disampaikan manajemen dalam materi paparan publik yang dipublikasikan lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Rabu (20/3/2019).

Dilihat dari penggunaanya, mayoritas atau sebesar 77,63% dari total kredit tersebut digunakan untuk modal kerja, sedangkan penyaluran untuk tujuan investasi mengambil porsi 11,37% dan sisanya sebesar 11% digunakan untuk kredit konsumsi.

Penyaluran kredit menurut lapangan usaha didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran yakni 38% dari total penyaluran kredit, diikuti dengan sektor industri pengolahan 33%, real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan 13%, penyedia akomodasi dan makan minum 3% dan lainnya 13%.  

Sementara itu, dilihat dari persebaran lokasinya, konsentrasi penyaluran kredit masih terbesar di Provinsi Jawa Barat karena 69% dari total 62 jaringan kantor BNP  berada di wilayah tersebut. Sisanya ada di wilayah Jakarta, Jawaa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan Bali.

Portofolio kredit terbesar atau sebanyak 88% adalah segmen komersil sedangkan kredit tanpa agunan berkontribusi 8%. Khusus untuk penyaluran kredit ke segmen kredit UMKM, persentasenya turun menjadi 38% karena bank banyak memberikan kredit kepada multifinance demi menggenjot pertumbuhan.

Dari sisi penghimpunan dana, Bank BNP mencatatkan pertumbuhan 7,8% menjadi Rp6,71 triliun yang didominasi oleh dana mahal deposito sebanyak 74%. Porsi dana murah current account saving account (CASA) di Bank BNP sebesar 26% naik dari tahun sebelumnya 23%.

Komposisi pemegang saham Bank BNP mayoritas dipegang oleh grup perusahaan jasa pembiayaan asal Jepang. Rinciannya yakni ACOM Co.Ltd. (67,59%) dan MUFG Ltd. (7,91%) serta PT Hermawan Sentral Investama (10,73%), dan sisanya 13,77% oleh public.

Bank yang dipimpin oleh Hideki Nakamura selaku Presiden Direktur itu tengah dalam proses penggabungan usaha dengan PT Bank Danamon Indonesia Tbk. yang sahamnya sama-sama dikendalikan oleh grup MUFG.

Hingga Desember 2018 lalu, jumlah karyawan Bank BNP berjumlah 1.558 orang atau turun 0,51% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Selain pengurangan karyawan, jumlah jaringan kantor serta ATM perseroan juga berkurang dari 132 menjadi 130 pada tahun lalu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Farodilah Muqoddam
Terkini