Suku Bunga Acuan Tak Turun, Bank Masih Aman

Bisnis.com,07 Mei 2019, 15:00 WIB
Penulis: Ipak Ayu H Nurcaya
Nasabah melintas di dekat mesin ATM Bank BNI di Jakarta, Selasa (12/9)./JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom menilai keputusan Bank Indonesia yang belum bisa menurunkan suku bunga acuan setelah kenaikan sepanjang tahun lalu belum akan berdampak besar bagi perbankan.

Perbankan di Tanah Air pun diklaim sudah terbiasa dengan kondisi suku bunga acuan yang tinggi. Bahkan, dahulu Bank Indonesia mempunyai suku bunga acuan di kisaran 8% atau lebih.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah menilai sebenarnya suku bunga bukan masalah bagi bank. Namun, saat ini perbankan memiliki kondisi yang sulit pada ketersediaan likuiditas.

“Jadi persoalan utama yang dihadapi oleh bank saat ini adalah ketatnya likuiditas. Kondisi ini diberikan jalan keluar oleh BI dengan upaya melonggarkan likuiditas misalnya melakukan operasi moneter yang bersifat ekapansif seperti term repo bank atau melakukan FX swap yang lebih reguler,” katanya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019).

Sayangnya, Piter menilai kebijakan ini dampaknya akan berbeda antar kelompok bank. Untuk bank umum kelompok usaha atau BUKU I dan II yang tidak punya reserve likuidity berupa surat berharga seperti SBN tidak bisa memanfaatkan kelonggaran likuiditas seperti ini. Mereka pun tetap harus berebut dana di pasar dengan menawarkan suku bunga yang tinggi.

Adapun persaingan perebutan DPK dengan bank besar mendorong suku bunga deposito di bank kecil meningkat.

Di sisi lain untuk penyaluran kredit, persaingan dengan bank besar yang mampu menawarkan suku bunga yang lebih rendah karena cost of fund yang rendah menyebabkan bank kecil juga harus menurunkan atau setidaknya tidak menaikkan suku bunga kredit.

Akibatnya, NIM bank kecil pun menyempit. Dengan kondisi bank kecil tidak banyak ruang mendapatkan fee based income tersebut maka penurunan NIM otomatis menurunkan tingkat keuntungan.

“Jadi kondisi sekarang ini sangat menyulitkan bank kecil. Sekali lagi bukan suku bunga yang menyulitkan mereka tetapi lebih dikarenakan ketatnya likuiditas," ujarnya.

Sementara itu, menurut Piter BI tengah fokus terhadap rupiah karena itu di tengah kondisi global yang masih dipenuhi ketidakpastian, serta CAD yang begitu besar maka langkah aman bagi BI adalah menahan suku bunga.

Alhasil, selama The Fed belum menurunkan suku bunga, Piter beranggapan BI tidak akan ambil risiko menurunkan suku bunga terlebih dahulu.

Sebelumnya, BI mengungkapkan tiga data yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga saat ini.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengungkapkan ketiga data tersebut adalah inflasi, Fed Fund Rate atau suku bunga AS dan pembiayaan defisit transaksi berjalan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: M. Taufikul Basari
Terkini