Bank Bukopin Berjibaku Turunkan NPL

Bisnis.com,17 Mei 2019, 17:13 WIB
Penulis: M. Richard
Karyawati menghitung uang rupiah, di kantor Cabang Bank Bukopin di Jakarta, Senin (9/4/2018)./JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Bukopin Tbk. masih berjibaku untuk menyelesaikan kredit bermasalah yang berdampak terhadap kinerja perusahaan pada awal tahun ini.

Pada kuartal I/2019, perseroan mencatatkan penurunan laba sebesar 60% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi Rp52,67 miliar.

Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin M. Rachmat Kaimuddin mengakui bahwa kinerja kuartal pertama tahun ini masih belum begitu menggeliat. Perseroan masih fokus pada perbaikan aset kredit khususnya kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

“Jika dilihat dari kuartal pertama ini, memang masih belum begitu menarik. Namun, ini grafiknya sudah mulai membaik di kuartal kedua, dan akan lebih baik lagi hingga akhir tahun,” katanya kepada Bisnis, Rabu (15/5/2019).

Berdasarkan catatan Bisnis, perolehan laba bank berkode saham BPKP tahun lalu masih belum sesuai dengan target. Awalnya, bank yang dikendalikan PT Bosowa Corporindo dengan kepemilikan 23,39% menargetkan laba Rp500 miliar, tetapi realisasi hanya Rp129,41 miliar.

Rachmat menuturkan, perseroan masih fokus dalam penyelesaian kredit bermasalah. Perseroan masih harus berupaya lebih keras untuk dapat menekan NPL ke posisi yang lebih landai.

Berdasarkan laporan publikasi, rasio NPL gross perseroan pada kuartal I/2019 berada di posisi 5,23%. Angka ini sudah menunjukkan tren penurunan tahun sebelumnya tercatat 6,67%. Posisi NPL gross BPKP tergolong lebih landai dari rekor NPL pada 2017 yang sempat menyentuh 8,54%.

Rachmat melanjutkan, penurunan laba perseroan karena manajemen tengah mengerem penyaluran kredit baru. Perseroan hanya fokus penyaluran kredit kepada debitur lama dan memiliki rating terpercaya. Bahkan perseroan perlahan mulai memperkecil penyaluran kredit ke segmen korporasi.

Adapun, nominal kredit pada kuartal pertama tahun ini tercatat Rp61,67 triliun, atau turun tipis dari posisi akhir tahun lalu Rp61,71 triliun. Posisi kredit tersebut tergolong rendah dari 2016 dan 2017 yang tercatat Rp65,59 triliun dan Rp67,59 triliun.

Rachmat menambahkan, perseroan juga menyisihkan cadangan kerugian penurunan nilai yang cukup tinggi. Upaya pencadangan ini cukup sulit bagi perseroan karena langsung berdampak negatif pada perolehan laba. Meski demikian, Rachmat optimistis raihan laba tahun ini lebih baik. Namun, dia tidak menyebutkan target yang akan dicapai pada tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Farodilah Muqoddam
Terkini