LAPORAN DARI JEPANG : BNI Tokyo Bidik Aset US$1 Miliar

Bisnis.com,25 Jun 2019, 10:03 WIB
Penulis: Sepudin Zuhri
Staf PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. sedang menyiapkan stan BNI di Balai Kota Osaka, Jepang untuk persiapan acara Forum Bisnis Indonesia-Jepang pada 26-27 Juli 2019./Bisnis-Sepudin Zuhri

Bisnis.com, OSAKA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Cabang Tokyo menargetkan aset perseroan di Jepang dapat mencapai US$1 miliar, atau tumbuh 25 persen dibandingkan dengan kondisi saat ini yang sudah mencapai sekitar US$800 juta.

Deputy General Manager BNI Tokyo Muhamad Emil Azhary mengatakan sampai saat ini, realisasi aset BNI Tokyo masih sesuai dengan target. Saat ini, aset BNI Tokyo telah mencapai sekitar US$800 juta yang didukung oleh penyaluran kredit hingga lebih dari US$470 juta.

Selain di Ibu Kota Jepang, BNI Tokyo juga membuka subcabang di Kota Osaka sejak awal 2013.

“Kami menargetkan dan berkeinginan agar aset [BNI Tokyo] bisa mencapai US$1 miliar. Saat ini, sekitar US$800 juta. Aset kami terus naik,” ujarnya saat meninjau stan BNI di Balai Kota Osaka, Jepang, Selasa (25/6/2019).

Menurut Emil, sampai saat ini, kinerja BNI Tokyo masih sesuai dengan target.

“Target masih on track. Pada tahun ini, kami memberikan dan mencari pembiayaan karena kalau mau ekspansi perlu funding bunga murah,” tuturnya.

BNI Cabang Tokyo dan Subcabang Osaka memiliki 34 karyawan.

Emiten perbankan berkode BBNI itu ikut berpartisipasi dalam Forum Bisnis Indonesia–Jepang di Osaka pada 26—27 Juni 2019. Forum Bisnis Indonesia–Jepang merupakan rangkaian dari kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Negara Anggota Kelompok 20 (Group of Twenty/G-20).

G-20 merupakan kelompok yang terdiri atas 19 negara dengan perekonomian besar dan ditambah dengan Uni Eropa. KTT G-20 ke-14 di Osaka akan digelar pada 28—29 Juni 2019.

Presiden Joko Widodo akan hadir dalam KTT G-20 untuk membicarakan isu perekonomian dan keuangan global, seperti investasi dan perdagangan internasional. Selain itu, Kepala Negara juga akan membicarakan isu ekonomi digital dan kecerdasan buatan.

Emil menjelaskan tantangan utama BNI Cabang Tokyo adalah rezim bunga rendah yang berlaku di Jepang. Selain itu, faktor referensi dari pihak lain menjadi faktor penting dalam kerja sama di Negeri Sakura.

“Bisnis [di Jepang] itu kadang agak unik. Referensi misalnya, kerap masih menjadi kunci penting dalam bernisnis di Jepang. Hal ini yang kadang jadi tantangan buat dunia usaha dari luar untuk masuk ke pasar sini," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Margrit
Terkini