Juni 2019, Nilai Tukar Petani Jateng Merosot 0,41 Persen

Bisnis.com,01 Jul 2019, 15:11 WIB
Penulis: Alif Nazzala Rizqi
Seorang petani menunjukkan padi yang rusak akibat sawahnya mengalami kekeringan di Desa Kademangaran, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin (24/6/2019). Menurut petani setempat, puluhan hektare sawah di daerah itu mengalami puso dan gagal panen akibat kesulitan mendapat pasokan air irigasi sehingga petani mengalami kerugian yang tidak sedikit./ANTARA FOTO-Oky Lukmansyah

Bisnis.com, SEMARANG -- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) di provinsi itu sebesar 103,15 pada Juni 2019, turun 0,41 persen dibanding NTP bulan sebelumnya yang sebesar 103,57. 
 
Adapun penurunan NTP karena Indeks Harga Yang Diterima Petani (It) hanya naik 0,1 persen, lebih rendah dibandingkan Indeks Harga Yang Dibayar Petani (lb) yang naik 0,52 persen.
 
Kepala BPS Jateng Sentot Bangun Widoyono mengatakan dari 5 subsektor pertanian komponen penyusun NTP, 3 subsektor yang mengalami penurunan indeks yaitu subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,89 persen, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 1,81 persen, dan subsektor Perikanan 0,33 persen. 
 
"Dua subsektor yang mengalami kenaikan indeks yaitu subsektor Honikultura sebesar 0,3 persen dan subsektor Peternakan 0,55 persen," ujarnya, Senin (1/7/2019).
 
Pada Juni 2019, komoditas yang mengalami penurunan harga antara Iain jagung, ketela pohon/ubi kayu, petsai/sawi, melon, tomat, semangka, nilam, cengkeh, kopi, ayam ras pedaging, telur ayam ras, kepiting, bandeng, sidat, kerapu, dan rumput laut. 
 
Sementara itu, komoditas yang mengalami kenaikan harga di antaranya kacang tanah, kacang hijau, kacang merah, cabai merah, bawang merah, domba, babi, kerbau, sapi potong, tawes, mujair, ikan mas, cumi-cumi, selar, dan gabus. 
 
"Dari 33 provinsi di Indonesia, pada Juni 2019, kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat sebesar 1,43 persen. Sebaliknya, penurunan NTP terdalam terjadi di Provinsi Riau sebesar 3,12 persen," papar Sentot.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Annisa Margrit
Terkini