Mulai OYO, Airy, Hingga RedDoorz; Simak Tren Virtual Hotel Operator di Indonesia

Bisnis.com,08 Jul 2019, 15:07 WIB
Penulis: Yanita Petriella

Bisnis.com, JAKARTA — Makin maraknya tren berpelesir dengan bujet murah dalam beberapa tahun tahun terakhir turut mendorong kemunculan sederet platform penyedia akomodasi penginapan terjangkau. 

Memang, budget travel menjadi pilihan berwisata bagi siapa saja yang mengutamakan anggaran dalam melakukan perjalanan termasuk dalam memesan kamar hotel.

Tentu, tren kamar hotel murah yang makin menjamur juga disebabkan oleh kemudahan teknologi untuk memesan penginapan. Hal itu juga yang menjadikan Indonesia sebagai ladang menggiurkan bagi pelaku usaha stratup berbasis teknologi di sektor perhotelan atau dikenal dengan istilah VHO (virtual hotel operator). 

Terlebih, berdasarkan data Statista, nilai pemesanan kamar hotel secara daring di Indonesia diperkirakan mencapai US$2.200 juta sepanjang tahun ini.

Pada 2017, nilai pemesanan hotel secara daring mencapai US$1.780  juta dan mencapai US$1.986juta pada 2018. Diperkirakan, pada 2023, nilai pemesanan hotel secara daring di Indonesia mencapai US$2.879 juta. 

Fenomena VHO  berkembang pesat selama 5 tahun terakhir. Sejak 2012 hingga kini, berbagai macam startup jaringan hotel bujet ada di Indonesia. Ada yang memang dikembangkan oleh anak bangsa, ada pula yang berasal dari negara lain.

Mulai masuknya AirBnB perusahaan asal Amerika Serikat, lalu Airy yang merupakan perusahaan lokal Indonesia, RedDoorz asal Singapura, dan  OYO dari India. 

Lalu, apa perbedaan sejumlah jaringan akomodiasi bujet di Indonesia? 

Menjadi yang paling muda berada di Indonesia, OYO Hotels & Homes memulai bisnisnya di Indonesia pada Oktober 2018. Properti-properti di bawah jaringan OYO akan mengadopsi model manchise  (management and franchise),di mana kendali dan manajemen akan dipegang penuh oleh OYO.

Semua properti akan dioperasikan dalam perjanjian sewa atau mengizinkan pemilik properti menjalankan properti mereka dalam kesepakatan waralaba. 

Country Head OYO Indonesia Rishabh Gupta mengatakan hingga kini, jaringan OYO Hotels & Homes telah mengelola 720 hotel dan hampir 20.000 kamar selama 8 bulan beroperasi di Indonesia. 

Adapun. 720 hotel OYO yang telah beroperasi itu tersebar luas di Jawa dan Bali, Sulawesi, Sumatra, dan Kalimantan. Pada awal berada di Indonesia, OYO bekerja sama dengan total 30 hotel dan 1.000 kamar di 3 kota yaitu Jakarta, Palembang dan Surabaya.

"Dalam 2 bulan mendatang, jaringan hotel OYO juga siap mengoperasikan 300 hotel di berbagai kota yang saat ini sedang dalam tahap transformasi. Target kami adalah untuk hadir di 100 kota pada akhir 2019, sekarang baru di 80 kota di Indonesia," ujarnya kepada Bisnis.com. 

Pertumbuhan bisnis  OYO terbilang cukup signifikan karena mencapai 20 kali lipat atau sekitar 1900% dalam kurun yang relatif singkat. 

Menurutnya, salah satu faktor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan OYO di Indonesia, sekaligus membedakan OYO dari jaringan hotel lainnya yakni standardisasi layanan dan fasilitas yang dijanjikan sehingga pelanggan bisa merasa tenang ketika menginap di hotel OYO manapun. 

Pasalnya, setiap properti OYO memiliki standar tertentu yang harus dipenuhi sebelum dapat sepenuhnya beroperasi, baik dari sudut pandang layanan atau fasilitas yang akan didapat, seperti jaringan WiFi berkecepatan tinggi, air panas, linen bersih, perlengkapan kamar mandi, kamar mandi yang higienis, penyejuk udara dan televisi layar datar.

Selain itu, faktor yang memungkinkan OYO tumbuh pesat di Indonesia yakni pengelolaan perhotelan yang didukung teknologi mutakhir, mulai dari proses pemesanan hingga proses check out.  

"Teknologi adalah DNA kami. Aplikasi OYO memungkinkan pelanggan untuk memesan kamar hanya dengan tiga tap di smartphone mereka, semuanya dalam 5 detik. OYO juga bermitra dengan beberapa online travel agent (OTA) yang memungkinkan pelanggan kami memesan hotel OYO dengan lebih mudah," terang Rishabh. 

Dia menambahkan pertumbuhan yang pesat ini  juga berkat partisipasi aktif dari ratusan pemilik aset, pelanggan setia OYO, dan lebih dari 900 OYOpreneurs (istilah untuk karyawan/mitra OYO) di seluruh Indonesia. 

"OYO telah tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa di Indonesia. Kami sangat berterima kasih atas kerja keras dari lebih dari 900 OYOpreneurs kami yang solid, kepercayaan ratusan mitra pemilik hotel dan 18.000 pelanggan yang menginap di OYO setiap malam," ucapnya. 

Indonesia, lanjutnya, merupakan pasar yang menarik. Terlebih, Kementerian Pariwisata memproyeksikan dapat mendatangkan 18 juta wisman ke Indonesia sepanjang tahun ini. 

Bagi OYO, ini merupakan peluang besar sekaligus kesempatan untuk menguatkan ekosistem yang  dibangun untuk dapat mendorong keberlanjutan industri hospitality di negara ini. 

Selain itu, potensi pariwisata Indonesia sangat menjanjikan, terutama dalam industri perhotelan. Kehadiran generasi milenial melek teknologi (tech-savvy) akan turut mendorong peningkatan permintaan dan tren dalam industri ini. Terlebih, 50% dari total wisatawan yang datang berasal dari kalangan milenial yang melek teknologi. 

"Kami melihat permintaan terhadap akomodasi khususnya di segmen hotel kecil, independen, dan unbranded masih sangat menjanjikan. Ini adalah pangsa pasar utama yang disasar," tutur Rishabh. 

KARYA ANAK BANGSA

Pemain VHO lainnya yang merupakan perusahaan anak bangsa atau berasal dari Indonesia adalah Airy. Saat ini, total properti yang tergabung dengan Airy sebanyak 1.200 properti di 90 kota yang ada di Indonesia sejak pertengahan 2015. 

Airy sendiri merupakan perusahaan startup di bidang accomodation network orchestrator (ANO) yang menghubungkan pelanggan dengan kamar-kamar hotel bujet, baik bintang 1, 2, dan 3 maupun nonbintang di seluruh Indonesia. 

Vice President Commercial Airy Viko Gara menuturkan Indonesia masih memiliki potensi 14.000 properti yang dapat dibidik masuk dalam jaringan Airy. 

"Target kami ke depan sebanyak mungkin karena potensi di Indonesia ada 14.000 properti," ujarnya.

Menurutnya, sejak Airy berdiri, okupansi atau tingkat hunian kamar di jaringannya mencapai 60% hingga 70% yang dinilai tak kalah dengan hotel berbintang.

Meningkatnya pertumbuhan Airy di Indonesia didukung tren berwisata yang bujetnya pas-pasan namun dapat traveling. 

"Selama ini kebutuhan travel beberapa tahun belakang naik kelas, orang jadi menaruh traveling  agak atas setelah makan dan rumah. Orang yang tadinya enggak mampu bepergian karena mahal, jadi mampu," katanya.

Dia menilai tren wisatawan lokal saat ini cenderung memiliki keinginan tinggi untuk berpelesir meski anggarannya minim, sehingga hotel yang dipilih pun tak harus mewah.  Justru, kebanyakan dari mereka memilih hotel murah untuk menghemat kantong.

"Banyak tren di nusantara, wisatawan lokal, budget minimum tapi pengen traveling. Goals mereka traveling itu enggak staycation di hotel mewah, tetapi sampai di situ tempat tujuan bisa tidur nyaman, besok pergi buat foto di tempat Instagramable. Kalau istilah kami 'BPJS' alias 'budget pas-pasan jiwa sosialita'," terangnya. 

Lebih lanjut, dia mengungkapkan pertimbangan wisatawan dalam memilih hotel bujet sebesar 91% karena harga kamar, sebesar 77% karena lokasi yang strategis, lalu 59% kebersihan kamar, dan 43% karena kebersihan dan kelengkapan kamar mandi. 

Adapun, rerata harga kamar di Airy untuk segmen ultra budget kurang dari Rp250.000 dan segmen budget Rp250.000 hingga Rp500.000.

"Tujuan pengunjung memesan budget hotel yakni 78% untuk berlibur dan 22% untuk perjalanan bisnis," ucap Viko. 

Dia pun tak menampik adanya kompetitor dengan pasar yang sama di Tanah Air membuat Airy pun harus menyiapkan sejumlah strategi jitu untuk menarik minat turis asing maupun domestik untuk menginap.

Adapun, strategi yang dilakukan dengan menggandeng mitra atau pemilik properti lokal di Indonesia dan sumber daya manusia yang bekerja di Airy merupakan tenaga kerja Indonesia. 

Selain itu, Airy terus memberikan pelatihan kepada mitra akomodasi lokal untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada konsumen.

"Saya kira pasar Indonesia cukup besar, industri ini masih jauh dari jenuh sehingga masih ada kue untuk semua player," tutur Viko. 

Pemain lainnya, RedDoorz,  lebih berfokus pada perkembangan penginapan dan distribusi penjualan secara daring. Perusahaan memilih sendiri properti yang berpotensi untuk bekerja sama secara langsung dan terikat komitmen dengan brand RedDoorz.

Setelah meningkatkan kualitas penginapan secara permanen untuk memenuhi standar utama sesuai kriteria RedDoorz. 

Vice President Operations RedDoorz Adil Mubarak menuturkan saat ini jumlah kota yang memiliki jaringan RedDoorz di Asia Tenggara yaitu sebanyak 66 kota dengan 1.150 properti dengan lebih dari 50.000 kamar. 

RedDoorz pertama di Jakarta pada bulan Oktober 2015. Setelahnya, RedDoorz memperluas jaringan ke beberapa kota lain yang ada di Indonesia, seperti Bandung, Bali, Surabaya, Bogor, Semarang dan Yogyakarta pada 2016. 

Untuk menarik turis di Indonesia untuk menginap di RedDoorz, upaya yang dilakukannya yakni dengan memperluas jaringan RedDoorz dibanyak kota baru menjadikan RedDoorz semakin dikenal dan mudah ditemukaan. 

"Tidak hanya memperluas jaringan di kota baru saja, kami pun terus melakukan perbaikan dari segi kualitas dengan mengadakan training dan guaranteed service yang kami berikan, seperti linen yang bersih, kamar mandi yang bersih, air mineral, televisi, wifi gratis hingga amenities (perlengkapan mandi)," katanya. 

Menurutnya, era digital dimana digitalisasi dapat dimanfaatkan untuk memicu pertumbuhan bisnis juga membuat persaingan untuk mendapatkan konsumen semakin kompetitif.

Oleh karena itu, bisnis harus mengerti bahwa yang memiliki differentiation value (nilai tambah yang berbeda) yang akan memberikan pengalaman terbaik bagi pengunjung akan lebih unggul. 

"Perkembangan sektor pariwisata di Indonesia khususnya Indonesia selalu mengalami kenaikan sejak2012. Bahkan, di neraca perdagangan menunjukan pertumbuhan yang surplus. Inilah mengapa kami mencoba hadir untuk memenuhi kebutukan dalam sektor pariwisata tersebut dengan memberikan pelayanan berupa hotel bujet," terang Adil. 

Terpisah, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari mengatakan tren berwisata yang didominasi milenial dan backpacker membuat para wisatawan lebih tertarik memilih menginap hotel nonbintang seperti homestay dan budget hotel lainnya.

Hal itu dikarenakan harga yang terjangkau dan kemudahan pemesanan berbasis aplikasi. 

"Memang ini sangat berdampak signifikan pada perhotelan. Oleh karena itu, hotel pun mau tak mau harus punya strategi untuk bisa bersaing," ujarnya

Dia menilai ke depan Airy, OYO, RedDoorz, Air B&B, Zenrooms dan Airy akan makin berkembang dengan prospek yang menjanjikan. Terlebih, mereka juga menawarkan kenyamanan dan harga terjangkau bagi para turisnya. 

"Yang belum ada data pastinya berapa jumlah budget hotel nonbintang. Ini yang perlu dilakukan pendataan," kata Azril.

Memang, saat ini, bagi para wisatawan memiliki berbagai macam pilihan untuk menginap di destinasi wisata. Namun demikian, hal ini bukan sesuatu yang mudah untuk para pelaku usaha akomodasi.

Strategi jitu dan inovatif tentu dibutuhkan untuk selalu meng-update hal-hal baru yang mampu menarik minat turis untuk menginap. 

Nilai pemesanan kamar hotel secara online di Indonesia:
2017
Revenue : US$1.781 juta
2018
Revenue : US$1.986 juta
Pertumbuhan : 11,5%
2019
Revenue : US$2.200 juta
Pertumbuhan : 10,8%
2020
Revenue : US$2.408 juta
Pertumbuhan : 9,4%
2021
Revenue :US$2.594 juta
Pertumbuhan : 7,8%
2022
Revenue : US$2.752 juta
Pertumbuhan : 6,1%
2023
Revenue : US$2.879 juta
Pertumbuhan : 4,6%
Jumlah pemesan hotel melalui online booking di Indonesia:
2017
Pengguna : 14,5 juta
Penetrasi : 5,5%
2018
Pengguna : 15,7 juta
Penetrasi : 5,9%
2019
Pengguna : 16,9 juta
Penetrasi : 6,3%
2020
Pengguna : 18 juta
Penetrasi : 6,6%
2021
Pengguna : 18,9 juta
Penetrasi : 6,9%
2022
Pengguna : 19,6 juta
Penetrasi : 7,1%
2023
Pengguna : 20,1 juta
Penetrasi : 7,2%
Sumber: Statista, 2019

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Wike Dita Herlinda
Terkini