Kredit Pertambangan dan Penggalian Bakal Kembali Membara

Bisnis.com,23 Jul 2019, 15:45 WIB
Penulis: M. Richard
Salah satu lokasi pertambangan batu bara di Kalimantan Timur./JIBI-Rachmad Subiyanto

Bisnis.com, JAKARTA – Meski masih menyisakan kekhawatiran, kredit pertambangan dan penggalian tumbuh cukup baik pada semseter pertama tahun ini. Beberapa komoditas menunjukkan permintaan dan perbaikan harga, sehingga mendorong permintaan kreditnya.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia, kredit pertambangan dan penggalian pada Mei 2019 tercatat Rp136,20 triliun, atau naik 28,57% (year-on-year/yoy).

Raihan tersebut mulai mendekati posisi 2014 Rp141,82 triliun, yakni titik tertinggi sebelum sektor pertambangan dan penggalian mulai menunjukkan tren penurunan penyaluran kredit.

Hanya saja, rasio non performing loan sektor ekonomi ini masih tergolong tinggi, yakni 4,55%. Walau demikian, kondisi ini sudah lebih baik dari posisi Mei tahun lalu yang tercatat 4,84%, atau bahkan Desember 2016 yang sempat menyentuh 7,12%.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Samual menyampaikan, tren peningkatan penyaluran kredit sektor pertambangan dan penggalian cukup variatif, dan masih belum dapat dikatakan aman.

Namun, beberapa komodimitas seperti emas dan nikel mengalami permintaan yang cukup baik dan membantu peningkatan penyaluran kreditnya.

"Pertumbuhan kredit sektor ekonomi ini cukup mix. Namun, saya rasa sektor ini bisa melampaui rekor penyaluran kredit yang pernah dibuatnya beberapa tahun lalu," katanya, Selasa (23/7/2019).

Dia memaparkan, permintaan emas sepanjang tahun berjalan cukup tinggi. Hal ini mendongkrak pertumbuhan harga emas sampai 11% (year-to-date), dan diprediksi akan terus meningkat sampai akhir tahun nanti.

David melanjutkan, kondisi serupa juga terjadi pada nikel. Ekspansi bisnis produsen mobil asing, khususnya mobil listrik meningkatkan permintaan komoditas dan bisnis pelaku tambang yang memproduksinya.

"Ke depan, permintaan kedua komoditas ini juga semakin meningkat. Jadi, bisa menjadi pendorong penyerapan kreditnya," katanya.

Selain itu, komoditas batu bara juga mulai menunjukkan perbaikan. David menyampaikan, meski harga komoditas ini masih belum pulih, tetapi permintaan dari India dan China masih cukup kuat dalam beberapa bulan terakhir.

"Bahkan, nilai ekspor batu bara pada Mei 2019 ini masih lebih tinggi dari komoditas andalan sawit kita," katanya.

Sementara itu, Moody's Vice President and Senior Credit Officer Jacintha Poh sebelumnya menyatakan bahwa penyaluran kredit kepada sektor minyak dan gas diperkirakan akan melaju tahun ini.

Menurutnya, rencana perusahaan yang bergerak di sektor tersebut untuk meningkatkan belanja modal guna menggenjot skala operasional masih tergolong realistis.

Akan tetapi, dia masih memproyeksikan batu bara masih akan menghadapi tantangan yang terbilang berat.

“Kami memperkirakan perkembangan regulasi dan ekonomi di Indonesia (Baa2 stable) dan China (A1 stable) akan membebani harga batu bara termal dan melemahkan kualitas kredit enam perusahaan batubara Indonesia,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Emanuel B. Caesario
Terkini