Sepak Terjang Duniatex, Dari Bisnis Tekstil, Properti, Hingga BPR

Bisnis.com,23 Jul 2019, 15:58 WIB
Penulis: Hendri Tri Widi Asworo
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — PT Delta Merlin Dunia Textile (DMDT), anak usaha Duniatex, membuat heboh pelaku pasar modal karena gagal membayar kupon obligasi dolar Amerika Serikat senilai US$11 juta pada 10 Juli 2019 dari total nilai obligasi yang diterbitkan sebesar US$300 juta.

Bahkan, kelompok usaha Duniatex itu saat ini tengah berurusan dengan bank karena terancam gagal bayar mengangsur kredit. Total kewajiban mencapai Rp17 triliun yang diberikan lebih dari 20 bank nasional dan dalam negeri. Saat ini kredit tersebut tengah direstrukturisasi.

Bagaimana sebenarnya sepak terjang bisnis perusahaan yang didirikan oleh Hartono pada 1974 ini? Berdasarkan penelusuran Bisnis, tidak banyak ekspose media mengenai bisnis almarhum Hartono yang kini dijalankan oleh anaknya, Sumitro.

Dalam situs duniatex.com disampaikan bahwa konglomerasi Duniatex memiliki 18 anak perusahaan yang tersebar di beberapa lokasi. Bisnis Hartono bermula dari mendirikan CV. Duniatex di Surakarta pada 1974.

Kemudian, pada 1988 mulai mengoperasikan industri finishing atau penyempurnaan tekstil. Dengan perkembangan bisnis, pada 1992 Duniatex mengambil alih PT Damaitex berlokasi di Semarang yang juga beroperasi di industri finishing.

Selanjutnya, pada 1998 mendirikan PT Dunia Sandang Abadi dan PT Delta Merlin Dunia Tekstil yang bergerak ke industri tekstil dari mulai pemintalan hingga tenun.

Sayap bisnisnya semakin melebar dengan menambah perusahaan pada 2003 bernama PT Delta Merlin Sandang Tekstil, pada 2006 mendirikan PT Delta Dunia Tekstil, dan pada 2010 mendirikan PT Delta Dunia Sandang Tekstil.

Kemudian, berdasarkan catatan Bisnis, pada 2011 Duniatex melebarkan bisnis ke sektor properti dan perhotelan dengan mendirikan PT Delta Merlin Dunia Propertindo.

Menurut salah satu bankir senior, Duniatex masuk ke sektor properti bermodalkan aset-aset yang dibeli dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Aset-aset tersebut milik bank yang direkapitulasi oleh BPPN.

“Dulu Duniatex banyak membeli aset-aset bank yang dilelang oleh BPPN. Nah, sekarang bakal diambilalih oleh bank lagi, kalau sampai gagal bayar,” ujarnya bankir yang juga berasal dari Solo ini kepada Bisnis, Selasa (23/7).

Adapun aset properti dan perhotelan yang dimiliki oleh Duniatex adalah Bestwestern Solo Baru, Noorman Hotel Semarang, Favehotel Solo, The Alana Hotel Solo, Hartono Trade Center, Hartono Mal di Solo dan Yoyakarta, Hotel Marriot Yogyakarta, De Salvatore Art & Boutique Yogyakarta, De Rivier Hotel Jakarta Barat, dan Wisma Hartono Yogyakarta.

Selain itu, Duniatex juga masuk ke bisnis rumah sakit dengan dinamai istri Hartono, yakni RS Indriati.

Menurut bankir tersebut, keluarga Hartono juga memiliki lini bisnis di bank perkreditan rakyat dan perusahaan pembiayaan. “Mereka juga memiliki BPR dan perusahaan pembiayaan,” ujarnya.

Bisnis mencoba menghubungi kantor pusat Duniatex di Karanganyar, Jawa Tengah. Salah satu operator kantor pusat Duniatex Ratna mengatakan bahwa direksi sedang tidak bisa menerima panggilan melalui telepon. “Direksi Duniatex sedang online. Ini juga sebentar lagi sudah pulang. Besok saja hubungi lagi,” kata Ratna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Simak berita lainnya seputar topik di bawah ini:
Editor: Hendri Tri Widi Asworo
Terkini